Tentang Ideologi

Oktober 24, 2004 § 19 Komentar

DALAM sebuah rapat organisasi, seorang kawan yang kecewa dengan ketidaktifan kawan lainnya dalam menjalankan agenda-agenda organisasi yang telah disepakati berujar, “Akar masalah dari ketidakatifan ini adalah lemahnya keyakinan ideologi.” Ia pun mengutip kata-kata seorang revolusioner Rusia, Vladimir Lenin, “Setiap tindakan harus dicek ideologinya.”

Sang kawan ini pantas kecewa dan kekecewaan ini telah berkali-kali dialaminya. Betapa tidak, agenda-agenda organisasi yang telah disepakati tidak berjalan karena para mantan peserta rapat itu tidak melaksanakan keputusan tersebut. Ketika diadakan rapat evaluasi, seribu satu macam alasan meluncur bagaikan air bah: sibuk kerja, tak punya ongkos jalan, sibuk kuliah, situasi obyektif telah berubah, ini adalah gejala umum gerakan kiri, dsb. Tapi, kawan kita ini tak mudah percaya dengan beribu alasan yang terus melingkar-lingkar itu.

Itu hanya alasan thok, karena agenda yang disepakati adalah agenda yang sangat minimalis, berdasarkan kesanggupan setiap orang. Kalau yang minimalis tak juga dilaksanakan, kenapa harus berlindung di balik alasan teknis? Lagi pula, semua orang punya masalah masing-masing, tapi kenapa yang lain bisa yang lain tak bisa? Ini masalah ideologi kawan. Sekali lagi ideologi!

Biasanya, sampai di sini diskusi lalu berhenti. Kalau sudah menyinggung masalah ideologi, rasanya seperti mengutip ayat-ayat kitab suci, semuanya sudah terjawab dan tak terbantahkan. Biasanya pula, pelabelan ideologi terhadap seseorang membuat orang yang dilabeli tersebut menjadi defensif (membla diri). Kalau keyakinan ideologi telah memudar, bagaimana ia bisa mengerjakan tugas-tugas praktis? Bagi sang kawan, seorang yang ideologis adalah orang yang bersedia mengorbankan kesenangan pribadinya demi ideologi yang dianutnya itu. Kira-kira, seperti bunyi sebaris surat Che Guevara kepada Chichina Ferrerya, kekasihnya,

Aku tahu aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, tetapi aku tidak bisa mengorbankan kebebasanku untukmu; ini berarti mengorbankan diriku, dan aku adalah hal paling penting di dunia, seperti yang pernah kukatakan kepadamu.

Lama-lama, saya ingin mencari tahu, “Apa sih ideologi itu? Binatang apa dia, dan kenapa menjadi begitu sakti mandraguna untuk mendukung atau mencaci sebuah keyakinan?”

Pengertian Ideologi

Secara etimologi (sejarah kata), ideologi berasal dari kata idea = pikiran, dan logos = ilmu. Jadi secara tertulis, ideologi berarti studi tentang gagasan, pengetahuan kolektif, pemahaman-pemahaman, pendapat-pendapat, nilai-nilai, prakonsepsi-prakonsepsi, pengalaman-pengalaman, dan atau ingatan tentang informasi sebuah kebudayaan dan juga rakyat individual. Filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang pertama kali menciptakan istilah “Ideologi” pada 1796, mendefinisikan ideologi sebagai “ilmu tentang pikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan.”

Beberapa kalangan mendefinisikan istilah ideologi sebagai sebuah “doktrin” yang ingin mengubah dunia. Ada juga yang mengualifikasikan ideologi sebagai sesuatu yang “visioner” tapi, lebih banyak lagi mengualifikasikannya sebagai sesuatu yang bersifat “hipotetis, tak terkatakan, dan tidak realistis,” bahkan lebih dari itu, adalah sebuah “penipuan kolektif oleh seseorang atau yang lain,” yang mengarah pada “pembenaran atau melegitimasi subordinasi satu kelompok oleh kelompok lain,” dengan jalan manipulasi sehingga menyebabkan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kekerasan sistematik dan teror yang kemudian berujung pada imperialisme, perang, dan pembersihan etnis.

Di tangan de Tracy, pengertian ideologi bersifat netral, jauh dari makna yang dilontarkan oleh kawan saya di atas. Tetapi, kenyataannya istilah ideologi tak sesederhana yang dirumuskan de Tracy. Bahkan, seperti dikatakan Ania Loomba, istilah ideologi merupakan "salah satu istilah yang paling kompleks dan paling sulit dipahami dalam pemikiran sosial, dan merupakan bahan perdebatan berkelanjutan. Rolf Schwarz, dalam artikelnya What is Ideology, misalnya, mendefinisikan ideologi sebagai,

“kepercayaan atau sekumpulan kepercayaan, khususnya kepercayaan politik yang mana rakyat, partai, atau negara mendasarkan tindakannya.”

Paling tidak, meminjam rumusan Eatwell dan Wright, ideologi dapat dibagi ke dalam beberapa hal: pertama, ideologi sebagai pemikiran politik; kedua, ideologi sebagai norma dan keyakinan; ketiga, ideologi sebagai bahasa, simbol, dan mitos; keempat, ideologi sebagai kekuasaan elit.

Karena sarat kontroversi, tak heran jika makna ideologi berubah menjadi jelek (peyoratif). Lantas, dari mana datangnya perubahan makna ideologi yang bersifat peyoratif itu? Menurut Eatwell dan Wright, itu semua bermula dari Napoleon Bonaparte (1796-1821). Ketika berhadapan dengan kekuasaan tradisional yang legitimasinya semakin memudar, Bonaparte adalah orang yang tertarik pada karya de Tracy karena mendukung ambisi politiknya. Tapi, begitu kursi kekaisaran telah didudukinya, Bonaperte berpaling memusuhi kelompok de Tracy. Kali ini, demi memperoleh dukungan dari kelompok-kelompok tradisional, khususnya gereja Katolik, Bonaparte menuduh kelompok de Tracy sebagai “ideologis.” Kata Eatwell dan Wright,

“Napoleon kemudian memulai sebuah kritik yang panjang dimana ia menghubungkan ‘ideologi’ dengan sifat-sifat seperti keinginan a priori untuk menjatuhkan kehidupan lama atau tradisional dan ‘memajukan’ kehidupan manusia, dan atau untuk mendukung keyakinan yang cocok dengan kepentingan mereka yang memproklamirkan ideologi tersebut (de Tracy adalahj seorang republikan liberal yang membayangkan suatu dunia baru di mana kaum intelektual seperti dirinya akan memainkan suatu peranan yang signifikan.)”

Sejak saat itu, demikian Schwarz, “ideologi” diasosiasikan dengan orang yang visioner dan teoritikus yang tidak bersentuhan dengan kenyataan, tapi pada saat yang sama tetap berpegang pada pandangannya sendiri, keras kepala, dan dogmatik.

Kita lihat, perlahan-lahan mulai terjadi evolusi pengertian ideologi, dari yang semula bersifat netral menjadi sebuah penghakiman terhadap perbedaan atas dasar kepentingan politik; dari sebuah ilmu yang mempelajari tentang gagasan menjadi sebuah pengertian yang sinis, jelek, dan tidak ilmiah.. “Karena pikiran elo beda ama gua, maka pikiran elo itu ideologis.” Di sini istilah ideologi kedudukannya lebih rendah dari ilmu pengetahuan atau teori. Mungkin itu sebabnya kaum intelektual lebih enjoy disebut akademis, filsuf, atau teoritikus, ketimbang disebut sebagai ideolog.

Pengertian Marxis Tentang Ideologi

Fransisco Budi Hardiman, seorang filsuf dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, menuding Karl Marx dan Frederick Engels sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas pencemaran “nama baik” ideologi. “Konsep Marxian tentang ideologi,” demikian Hardiman, “merupakan radikalisasi dan perincian ilmiah dari pengertian peyoratif (jelek) dari ideologi yang terkandung dalam bahasa sehari-hari.”

Apa musabab tudingan Hardiman pada Marx dan Engels? Mari kita lihat! Dalam The German Ideology, Marx dan Engels mengemukakan bahwa ideologi adalah sebuah doktrin palsu, tepatnya sebuah penjelasan yang palsu guna melayani kepentingan kelas borjuis. Dalam pengertian sebagai “kesadaran palsu” ini, ideologi berarti “kesadaran yang menyembunyikan hubungan riil orang-orang dengan dunia mereka.” Dalam kata-kata Loomba, hal ini bisa terjadi karena,

“ideologi-ideologi yang paling tersebar atau paling banyak dianut dalam sesuatu masyarakat itu mencerminkan dan mereproduksi kepentingan-kepentingan dari kelas sosial yang dominan.”

Dengan adanya ideologi, maka seorang buruh, atau petani, atau mahasiswa, atau pekerja sektor informal, yang hasil kerjanya diambil oleh majikan, masih saja percaya pada kebajikan mengenai kerja keras, kejujuran, ketulusan, dan sikap baik majikan. Kemiskinan dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, yang mesti diterima karena begitulah adanya hidup: ada yang kaya dan ada yang miskin, ibarat adanya siang dan malam. Dari keyakinan atau kesadaran seperti ini, maka rakyat pekerja tidak mengambil jalan perlawanan terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh majikan; mahasiswa tetap saja percaya pada sistem pendidikan yang tidak membuat mereka terdidik, tidak membuat mereka berpikir bebas dan membebaskan? Dengan adanya ideologi, rakyat pekerja bertindak berdasarkan keyakinan kelas borjuis, mereka (rakyat pekerja) berpikir dan bertindak seolah-olah itu merupakan pikiran dan tindakannya yang netral, padahal sesungguhnya tidak. Itu sebabnya, Marx dan Engels, memetaforakan ideologi sebagai Camera Obscura,

“Jika dalam ideologi itu manusia dan relasi-relasi mereka tampak terbalik seperti dalam sebuah camera obscura, maka fenomena ini muncul dari proses-hidup historis mereka sama seperti keterbalikkan benda-benda pada retina mereka dari proses hidup fisis.”

Perlu dipahami, ketika Marx dan Engels bicara tentang ideologi, ia bicara dalam konteks masyarakat kapitalis, suatu sistem masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam dua kelas: borjuis dan proletariat. Dengan demikian, ketika mereka bicara ideologi masyarakat kapitalis, mereka berbicara tentang kesadaran palsu yang mendominasi masyarakat kapitalis. “Ideologi yang dominan dalam setiap masa adalah ideologi kelas berkuasa,” demikian ujar Marx. Pertanyaannya, seperti dikemukakan Loomba, “jika realitas itu membuat kita melihat realitas itu dengan melenceng, maka apakah masih mungkin untuk menganut gagasan-gagasan subversif, atau melihat hal-hal sebagaimana adanya?” Atau kalau dalam pertanyaan yang lebih positif, “bagaimana cara kita untuk keluar dari perangkap ideologi alias kesadaran palsu itu?”

Dari sinilah, kita mulai bicara mengenai gagasan Marx tentang hubungan kesadaran dengan keberadaan. Masih dalam The German Ideology, Marx dan Engels, mengatakan,

“Bukan kesadaran yang menentukan kehidupan tetapi, kehidupan yang menentukan kesadaran. Dalam tinjauan pertama, seseorang mulai dari kesadaran yakni, dari individu yang hidup; dalam tinjauan yang kedua, sesuai dengan kehidupan sesungguhnya, dari individu-individu yang sungguh-sungguh hidup itu sendiri, dengan memandang kesadaran hanya sebagai kesadaran mereka…”

Jika kesadaran adalah produk dari individu-individu yang aktif, maka rakyat pekerja tentu saja bisa mengembangkan kesadaran mereka yang sejati. Dari sini, muncul apa yang disebut perjuangan ideologi, yakni perjuangan rakyat pekerja untuk mewujudkan kesadaran sejatinya. Tetapi, karena ideologi produk masyarakat berkelas, maka kesadaran sejati itu hanya bisa dicapai rakyat pekerja dengan menghancurkan masyarakat berkelas itu. Kata Marx dan Engels,

“Only in a classless society will men be able to develop truth free from ideological distortions (Hanya dalam masyarakat tanpa kelas manusia bisa mengembangkan kesadarannya yang bebas dari peyimpangan ideologis).”

Kembali pada tudingan Hardiman, di atas bahwa Marx dan Engels meradikalkan makna jelek dari ideologi. Hardiman mengatakan,

“Jika kita perhatikan dengan cermat, kita akan menemukan sebuah masalah besar yang menganga dalam pendekatan Marxian terhadap ideologi itu. Jika ideologi dimengerti sebagai manipulasi, distorsi, ilusi yang berasal dari kepentingan-kepentingan dan prasangka-prasangka partai lawan, bagaimana dengan pengetahuan dari partai yang kritis atas ideologi itu? Dapat kita bayangkan betapa besarnya kekuasaan yang berada dalam genggaman seorang kritikus ideologi. Bukankah dengan konsep ideologi versi Marxian itu dia telah mengistimewakan pengetahuannya sebagai kriterium kebenaran obyektif? ……

Pertanyaannya sekarang, apakah pengetahuan tentang ciri ideologis dari pengetahuan lawan itu sendiri tidak sejak awal berciri ideologis? Atau dengan kata lain, tidakkah konsep Marxian tentang ideologi itu sendiri sudah merupakan ideologi? Pertanyaan semacam ini bukan retorika belaka, melainkan sebuah problem serius yang melukiskan cacat epistemologis dari konsep Marxian itu.”

Kritik Hardiman ini sebenarnya bertolak dari pemahaman yang keliru terhadap konsepsi Marx tentang ideologi. Hardiman melihat bahwa perjuangan ideologi semata-mata sebagai perang pemikiran. Padahal Marx dan Engels pertama-tama melihat bahwa ideologi adalah produk dari masyarakat berkelas, di mana ideologi sebagai superstruktur merupakan refleksi dari basis. Bagi keduanya, ideologi dengan demikian bukanlah semata sebuah perang pemikiran, perjuangan ideologi justru harus diletakkan dalam konteks perjuangan ekonomi dan politik. Ini juga berarti, rakyat pekerja memang harus mengritik bahkan, harus menjungkirbalikkan ideologi kelas dominan. Kalau tidak, rakyat pekerja tetap akan hidup di bawah kesadaran palsunya, kesadaran yang membenarkan keadaannya yang tertindas. Tapi, bagi rakyat pekerja perjuangan ideologi ini bukanlah perdebatan akademik an sich tapi, sekaligus perjuangan untuk mengubah kondisi-kondisi politik dan ekonomi yang eksploitatif.

Bagi filsuf yang berumah di atas angin macam Hardiman, jelas kegiatan berpikir yang aktif dan aktual ini, kegiatan berpikir yang partisan ini, mencemari statusnya sebagai filsuf. Baginya, filsuf itu harus bijaksana, memandang sesuatu secara proporsional. Kepada kepada filsuf macam Hardiman, kita tegaskan bahwa kita tidak ingin bersikap netral dalam hubungan sosial-ekonomi-politik yang menindas dan eksploitatif ini.

Tetapi, apakah dengan demikian kita ingin menciptakan ideologi baru, kesadaran palsu yang baru? Tentu saja tidak. Marx sendiri tidak menganggap semua gagasan itu ideologis atau keliru. Dia mempertentangkan ideologi dengan sains, yang memiliki kemampuan untuk menembus ilusi-ilusi itu. Di samping itu, dengan mendasarkan diri pada tesis bahwa “bukan kesadaran yang menentukan kehidupan tapi, kehidupan yang menentukan kesadaran,” kita justru mau melenyapkan ideologi yang merupakan kesadaran palsu itu.

Penutup

Kembali pada masalah kawan kita di atas, tampak jelas bahwa kita tak bisa mengumbar semena-mena istilah ideologi. Atau menuding seseorang sebagai ideologis, sesungguhnya adalah sebuah penghakiman yang berbahaya.

Ideologi, bagi kita adalah sebuah kesadaran palsu yang mesti diperangi untuk mencapai kesadaran sejati. Tetapi, karena kesadaran palsu (ideologi) yang dominan adalah ideologi kelas berkuasa, maka perjuangan ideologi ini membutuhkan kesetiaan, ketekunan, dan keyakinan bahwa rakyat pekerja harus bisa membebaskan dirinya sendiri. Dan itu hanya bisa dicapai dengan jalan penghancuran kelas dalam masyarakat, karena dengan begitu ia tidak hanya membebaskan dirinya sendiri tapi juga membebaskan masyarakat. Tanpa itu, ideologi akan terus subur dan berubah bentuk di setiap tempat dan waktu.***

§ 19 Responses to Tentang Ideologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Ideologi at Coen Husain Pontoh.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: