KRONOLOGI AKSI PEMBELAAN PADA SIDANG VONIS KADER PRD DITA INDAH SARI DAN COEN HUSAIN PONTOH

April 22, 1997 § 1 Komentar

ALIANSI PERJUANGAN untuk DEMOKRASI
dan HAK ASASI MANUSIA
( A P D H A M )

PERNYATAAN SIKAP 22 APRIL 1997

Dua peristiwa besar menjelang Pemilihan Umum 1997, yaitu kasus pemerkosaan terhadap kedaulatan "partai wong cilik" PDI dan kasus "si kambing hitam" PRD, hari ini (Selasa, 22 April 1997), bertemu di momen dan tempat yang sama; di "meja hijau"!

Disingkirkannya Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI yang sah, jelas dan nyata adalah bentuk dari intervensi penguasa yang ingin tetap mempertahankan status-quo. Ketakutan penguasa terhadap PDI kepemimpinan Megawati yang telah berhasil meraih simpati mayoritas rakyat yang telah tumbuh kesadaran politiknya, ternyata membuat penguasa menjadi "gelap mata" sehingga dengan cara apapun Ibu Mega harus "ditendang" keluar dari partai, untuk kemudian digantikan dengan boneka-boneka (Soerjadi Cs.) yang dapat dikendalikan/diatur melalui "remote control" penguasa.

Sementara itu, Dita Sari dan Coen Husain Pontoh, aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang dikambing-hitamkan oleh penguasa atas Peristiwa 27 Juli 1996, tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Hal ini membuat penguasa "terlanjur malu," dan untuk menutupi kesalahannya itu, maka dakwaan primer terhadap para aktivis PRD tersebut "disulap" menjadi tuduhan merongrong Pancasila.

Ironis, ternyata memperjuangkan amanat penderitaan rakyat ternyata dianggap tidak Pancasilais! Penguasa telah menjadikan Pancasila sebagai sebuah "pentungan" yang dapat menggebuk rakyatnya sendiri. Penguasa mempersonifikasikan dirinya dengan Pancasila. Barangsiapa mengkritik penguasa, maka ia telah mengkritik Pancasila. Barangsiapa tidak setuju terhadap penguasa, maka ia pun tidak setuju dengan Pancasila. Ini tentu tidak benar! Karena Penguasa tidak identik dengan Pancasila, penguasa tidak sama dengan Pancasila. Tuntutan rakyat untuk mengganti penguasa yang korup tentu tidak otomatis sama dengan mengganti Pancasila.

Berdasarkan kondisi diatas, maka dengan ini kami :
1 . Aksi Komunitas Kristen untuk Hak Asasi Manusia (AKKHAM)
2 . Tim Pendukung Megawati (TPM)
3 . Komite Perjuangan Demokrasi (KPD)
4 . Forum Komunikasi untuk Perdamaian di Timor-Timur, yang tergabung dalam ALIANSI PERJUANGAN UNTUK DEMOKRASI dan HAK ASASI MANUSIA (APDHAM), menyatakan sikap :

(1) Mendukung sepenuhnya DPP PDI yang sah dibawah pimpinan Megawati Sukarnoputri, dan menyatakan bahwa Pemilu 1997 TIDAK SAH tanpa keikutsertaan wakil-wakil dari DPP PDI Megawati.
(2) Menuntut dibebaskannya aktivis pro-demokrasi yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik dari segala tuduhan.
(3) Menuntut dicabutnya paket 5 UU POLITIK 1985 yang mengebiri hak politik rakyat
(4) Menuntut dicabutnya DWI FUNGSI ABRI
(5) Menuntut dicabutnya UU Anti Subversi No. 11/PNPS/1963
(6) Menuntut referendum bagi Rakyat Maubere.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan untuk menegakkan Hak Asasi Manusia dan mewujudkan kehidupan yang demokratis di Indonesia sebagai manifestasi dari pengamalan Pancasila secara murni dan konsekwen, merupakan tugas dan panggilan seluruh rakyat Indonesia yang peduli dengan persoalan bangsanya untuk terus mengabdi kepada kepentingan rakyat Indonesia.

Surabaya, 22 April 1997,

Wahyu AP
Koordinator APDHAM
=eof=

KRONOLOGI AKSI PEMBELAAN PADA SIDANG VONIS KADER PRD DITA INDAH SARI DAN COEN HUSAIN PONTOH DAN PENGAJUAN TUNTUTAN DPD PDI PERJUANGAN

08.00 – 09.55 WIB :Massa mulai berdatangan secara bergelombang, kebanyakan mengenakan atribut khas PDI, beberapa spanduk mulai dibentangkan yang antara lain bertuliskan tuntutan terhadap penguasa untuk menegakkan hukum dan keadilan secara konsisten, serta kecaman-kecaman terhadap praktek-praktek politik yang menindas dan membelenggu kehidupan demokrasi di Indonesia. Penjagaan di sekitar dan di dalam gedung pengadilan nampak lebih ketat dari biasanya. Dua truk penuh pasukan Dalmas, dua panser penghalau massa, satu kesatuan pasukan Branjangan Kodam Brawijaya, kesatuan Sabhara dan Brimob, serta puluhan intel dan preman-preman politik bayaran dari FKPPI, PP dan Gomadsu (Golkar Madura Surabaya Utara, red: kelompok preman Madura yang selama ini digunakan untuk melakukan provokasi dalam setiap aksi rakyat. Mereka selama ini juga dibayar untuk mengamankan kegiatan PDI Soerjadi) sudah tersebar seputar gedung pengadilan. Menjelang sidang dimulai massa yang berkumpul lebih dari 500 orang.

09.35 WIB : Mobil tahanan yang membawa Dita dan Pontoh telah memasuki halaman tengah gedung PN, selanjutnya dua kader pimpinan PRD tersebut segera dibawa masuk ke sel tunggu dengan pagar betis aparat yang berusaha menghalangi para pengunjung sidang menyalami dan memberi semangat pada mereka.

09.55 WIB : Dua orang terdakwa kasus subversi yang mengenakan ikat kepala berbunyi : " Demokrasi atau Mati " tersebut mulai dibawa memasuki ruang sidang I untuk mendengarkan pembacaan vonis. Sepanjang koridor menuju ruangan sidang massa merubung dan meneriakkan yel-yel "Hidup Rakyat! Hidup Demokrasi! Hidup PRD, PDI! Hidup Dita, Coen!!", yang segera disambut oleh Dita dan Coen dengan teriakan lantang "Hidup Megawati! Pemilu Tidak Sah, Tanpa Megawati! Boikot Pemilu! Massa menyambut dengan antusias sampai di dalam ruang sidang. Yel-yel dan tepuk tangan kembali bersambung, ketika menjelang sidang dibuka Dita meminta waktu sejenak untuk menyerahkan bunga tanda simpati kepada majelis hakim sehubungan meninggalnya seorang hakim anggota serta membagikan selebaran ajakan untuk Memboikot Pemilu '97 yang ditandatangani oleh Dita, Coen dan Sholeh. Selebaran-selebaran yang belum sempat dibagikan kemudian diambil seorang intel dari tangan Dita.

10.10 WIB : Sidang pembacaan vonis dibuka dan selama sidang berlangsung, tidak sedikitpun tergurat keraguan atau ketegangan dalam menantikan penjatuhan vonis dalam persidangan yang penuh rekayasa politik kotor dan tak tahu malu dari penguasa Orde Baru. Mereka siap menerima apapun resiko politik atas keyakinan sikap dan pandangan politik mereka dalam membela masa depan rakyat tertindas. Bahkan tampak sesekali Dita dan Coen melontarkan senyum pada para wartawan yang memotret, atau terlihat asyik mengobrol sendiri. Pengabaian terhadap kewibawaan lembaga peradilan adalah sesuatu yang bisa dibenarkan, ketika lembaga tersebut telah menjadi alat pembenar praktek politik penguasa yang bertujuan melanggengkan kekuasaan yang korup dan menindas.

12.05 WIB : Vonis yang pada faktanya telah jatuh jauh hari sebelumnya, akhirnya 'atas nama hukum dan rasa keadilan' penguasa, pada pukul 12.05 dijatuhkan juga dengan hasil : Dita Indah Sari dan Coen Hussein Pontoh Spt, telah terbukti (?) bersalah dan masing-masing dijatuhi hukuman 6 dan 4 tahun penjara potong masa tahanan. Dengan tambahan, bahwa berat hukuman mereka akan bisa diperingan bila menyatakan pesnyesalan atas apa yang telah dilakukan dan mengajukan permintaan maaf kepada presiden dan Pemerintah Indonesia. Dita dan Coen dengan serta merta menolak keputusan majelis hakim dengan menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan bukanlah suatu kesalahan. Sesudah vonis dijatuhkan massa dengan nada marah menyambut dengan teriakan : "Pengadilan Curang, Pengadilan Rekayasa, Hidup Dita, Hidup Pontoh, Hidup Megawati." Dita dan Pontoh menyambut yel-yel ini dengan sangat antusias, kemudian memimpin massa menyanyikan lagu "Darah Juang."

Pada saat massa sedang melakukan yel-yel, mulai ada provokasi dari satu orang agen rejim yang berteriak : "Hidup Suharto."

12.12 WIB : Dita dan Pontoh dibawa keluar ruang sidang lewat pintu belakang, menuju ke mobil tahanan dengan pengawalan yang sangat ketat. Massa segera menyusul ke halaman tempat mobil tahanan di parkir, sambil terus meneriakkan yel-yel dukungan terhadap Dita dan Pontoh.

12.15 WIB : Sambil berdiri di pintu belakang mobil tahanan, Pontoh melakukan yel-yel dan sedikit orasi yang berintikan dukungan terhadap Megawati dan menyatakan pemilu tidak sah tanpa DPP-Megawati.

12.20 WIB : Satu orang massa yang bernama Heru (anggota PRD) tanpa alasan yang jelas tiba-tiba dikeroyok preman-preman bayaran (GOMADSU) dan intel sambil berteriak-teriak: "Hidup Suharto" menghujami Heru dengan pukulan-pukulan dan tendangan. Aparat yang melihat kejadian tersebut hanya membiarkan saja dan tidak mau peduli.

Pengeroyokan itu memancing kemarahan massa dan kemudian berusaha membantu meyelamatkan Heru. Satu orang massa (tidak diketahui identitasnya) kemudian kembali dikeroyok dan dikejar-kejar bersama Heru ketika berusaha menyelamatkan diri. Heru dan satu korban lainnya tersebut tertahan di pojok gedung dan kembali dihujani pukulan dan tendangan-tendangan.

Pada saat Heru mulai dikeroyok, petugas segera membawa pergi mobil tahanan yang membawa Dita dan Soleh.

12.30 WIB : Aparat dari kepolisian menyuruh mundur massa yang sedang marah. Massa kemudian berkumpul dan menuntut pembebasan kedua orang tersebut. Satu orang dari kader PDI Pasuruan berdiri di depan massa dan meneriakkan yel-yel "Hidup Pancasila." Tiba-tiba dari kerumunan massa satu agen provokator muncul dan meneriakkan "Hidup Indonesia" sambil menarik orang itu dan kemudian memukulinya bersama-sama preman-preman dibantu oleh para intel. Kader PDI ini kemudian dibawa ke pojok gedung untuk kemudian dipukuli.

12.35 WIB : Melihat bahwa bahwa aparat sedang berusaha memancing kerusuhan, massa kemudian mundur dan keluar dari gedung pengadilan. Segera sesudah massa keluar dari Gedung pintu gerbang depan pengadilan segera ditutup dan dijaga ketat.

12.40 WIB : Massa berkumpul di depan pagar depan pengadilan dan mengadakan mimbar bebas menuntut pembebasan kawan-kawan yang ditangkap.

12.55 WIB : Seorang anggota Tim Pendukung Megawati (TPM) yaitu Firmansyah mengumumkan kepada massa supaya kembali ke tempat masing-masing dengan tenang. Dia juga menyatakan kepada massa bahwa kawan-kawan yang ditangkap tersebut akan segera diurus pembebasannya. Mendengar pengumuman/seruan tersebut sebagian massa mulai beranjak untuk pulang, sedangkan yang lain terus berkumpul di depan pengadilan karena merasa tidak puas dengan kejadian di dalam pengadilan.

Lewat kronologi ini juga APDHAM memprotes keras cara-cara yang dilakukan aparat keamanan untuk membendung ketidakpuasan rakyat dengan cara-cara kekerasan, baik itu dilakukan aparat berseragam, intel atau menggunakan preman-preman politik bayaran.

Surabaya, 22 April 1997, pukul 19.00 WIB

Aliansi Perjuangan untuk Demokrasi
dan Hak Asasi Manusia
(APDHAM)
=eof=

Sumber:
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY OF INDONESIA
International Office
E-mail : prdint1@peg.apc.org

Kirimkanlah E-mail ke alamat kami / Kembali ke Index bahasa Indonesia

§ One Response to KRONOLOGI AKSI PEMBELAAN PADA SIDANG VONIS KADER PRD DITA INDAH SARI DAN COEN HUSAIN PONTOH

  • ali rhamadhan mengatakan:

    Dear Bung Hussein

    Nama saya Ali Rhamadhan, dari Tabloid Opini Indonesia. Bung, saya ingin wawancara/berdiskusi/berdialog by e-mail/by ym dgn Anda.
    Topiknya seputar proyeksi dunia politik 5-10 tahun ke depan. Bagaimana dengan format kepemimpinan politik kaum muda?. Bagaimana nasib gerakan kiri Indonesia?… Disamping itu, saya juga ingin mengenal lebih dekat dengan sosok Anda Bung.
    Anyway, tks ya Bung Atas Atensi dan Apresiasinya.
    Wass. Hormatku
    Ali Rhamadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading KRONOLOGI AKSI PEMBELAAN PADA SIDANG VONIS KADER PRD DITA INDAH SARI DAN COEN HUSAIN PONTOH at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: