Warisan Soeharto Terus Bertahan sampai ke Pemerintahan Megawati

Februari 15, 2003 § Tinggalkan komentar

 
Jakarta,kompas – Soeharto, mantan penguasa Orde Baru, meninggalkan banyak warisan yang menjadi faktor penghambat demokratisasi di Indonesia. Warisan tersebut mencakup semua lini, mulai dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN); civil society; partai politik; hubungan Islam-politik; suku, agama, ras dan antargolongan (SARA); hingga penegakan hukum; dan militer.

Tujuh warisan Soeharto tersebut disampaikan dalam bentuk hasil penelitian sementara oleh tujuh peneliti yang tergabung dalam Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Demos) dan Institut Studi dan Arus Informasi (ISAI) di Jakarta, Jumat (14/2). Mereka adalah AE Priyanto (hubungan Islam dan politik), Sofian Munawar Asgart (SARA), Otto Adi Yulianto (civil society), Agung Widjaya (hukum), Donny Edwin (militer), Coen Husain Pontoh (partai politik), dan Mohammad Qodari (KKN).

Menurut Qodari, cita-cita reformasi untuk menghapus KKN kini hampir menjadi angan- angan. KKN menjadi musuh yang tak tertaklukkan.

Teten Masduki dari Indonesia Corruption Watch yang menjadi penanggap mengatakan, aktor KKN menjadi semakin melebar. Bila dulu aktor lebih berkutat pada lembaga birokrasi dan peradilan, kini masuk ke lembaga politik. Terbangunnya oligarki politik elite di masa Megawati justru menjadi penghambat utama penyelesaian KKN. "Di saat DPR kuat dan pers bebas, mestinya pengawasan menjadi kuat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya," ujar Teten.

Ulil Abshar Abdalla, peneliti muda dari Nahdlatul Ulama, yang menjadi penanggap hubungan Islam dan politik, mengungkapkan bahwa di era Megawati hubungan Islam dengan politik negara melanjutkan kebijakan Orde Baru Soeharto. Banyak kalangan Islam percaya, Megawati menganggap Islam sebagai ancaman dan faktor disintegrasi bangsa.

"Pascatragedi bom Bali, berbagai kelompok Islam dikejar dan mengalami represi. Sementara Islam moderat dirangkul untuk dijadikan teman. Masih banyak kalangan Islam yang menganggap dirinya dijadikan korban politik," kata Ulil.

Dalam segi partai politik, menurut Coen, yang muncul bukan lagi sekadar konsolidasi atau koalisi antarpartai. Bentuk hubungan elite politik telah berubah menjadi konspirasi.

Dari sudut hukum, Agung Widjaya menyatakan, masyarakat kini sering kali kaget ketika tahu bahwa banyak peraturan hukum yang tumpul dan tak mampu menegakkan keadilan. Bukan rahasia lagi bila produk hukum diwarnai kepentingan politik pemegang kekuasaan. Wajar bila kekecewaan rakyat ditumpahkan di jalanan.

Praktisi hukum Bambang Widjojanto selaku penanggap menambahkan, produk-produk hukum Indonesia juga tak terlepas dari tekanan atau kepentingan internasional. Soeharto di era awal 1966 membawa masuk liberalisasi ekonomi dan modal asing dan pada akhir kekuasaannya membawa perdagangan bebas WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) atau AFTA (Perdagangan Bebas ASEAN). Sementara Megawati membawa masuk Undang-Undang Antiterorisme dan Pencucian Uang. (SAH)

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0302/15/nasional/131586.htm

 

Keterangan Artikel
Sumber: Kompas
Tanggal: 15 Feb 03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Warisan Soeharto Terus Bertahan sampai ke Pemerintahan Megawati at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: