Tragedi Perdagangan Global

September 28, 2004 § Tinggalkan komentar

Pertengahan Juni, (15-18) bertempat di Sao Paulo, Brazil, diselenggarakan pertemuan negara-negara berkembang yang difasilitasi UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development). Pertemuan yang sangat penting itu, membahas soal manfaat perdagangan global bagi perekonomian negara berkembang. Isu ini kembali dibahas, mengingat dalam 50 tahun terakhir, perekonomian nasional masing-masing negara berkembang semakin terintegrasi dengan struktur ekonomi global.

Sayangnya, konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin negara yang tergabung dalam G-77 plus Cina itu, tenggelam di balik hiruk-pikuk kampanye pemilu presiden. Baik para kandidat, juru kampanyenya, maupun para pengamat yang kritis sekalipun, mengabaikan masalah mendasar ini. Padahal, siapa pun presiden yang terpilih nanti, mau tidak mau harus bermain dalam struktur perdagangan global yang sangat kompleks dan kontroversial itu. Tulisan ini hendak membuka kembali perdebatan tentang ”apakah pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam ekonomi global adalah sesuatu yang tak terelakkan?”

Para pendukung liberalisasi pasar menaruh keyakinan sangat kuat, bahwa pengintegrasian ekonomi negara berkembang ke dalam ekonomi global mendatangkan hasil akhir yang positif. Ini didasarkan pada tiga hal: pertama, perdagangan akan menciptakan allocative efficiency. Liberalisasi perdagangan akan menyebabkan setiap negara melakukan spesialisasi dalam produksi setiap item di mana mereka secara relatif lebih efisien. Inilah yang oleh David Ricardo, salah satu peletak dasar teori ekonomi klasik, disebut sebagai teori comparative advantage. Sebaliknya, pada sisi lain dari mata uang yang sama, pembatasan perdagangan atau distorsi cenderung menurunkan allocative efficiency.

Yang kedua, perdagangan akan menghasilkan efficiency from competition. Maksudnya, dengan terlibat dalam aktivitas perdagangan global pemerintah negara nasional harus mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk bertarung di pasar global, dan kemudian memaksa mereka lebih inovatif. Dengan demikian, pada akhirnya perusahaan-perusahaan domestik tersebut menjadi lebih efisien. Hasil akhirnya, kompetisi akan melahirkan harga yang lebih murah dan pelayanan terhadap konsumen yang lebih baik. Ketiga, perdagangan juga melahirkan apa yang disebut imported efficiency.

Keyakinan teoretik ini bukan tanpa hasil. Sebuah laporan yang dilansir oleh United Nations Development Program (UNDP) 1997 mengenai Human Development Report, menyebutkan sejak 1960 ekspor global telah bertumbuh dari $60 miliar menjadi $6,5 triliun (setelah dikurangi inflasi),atau bertumbuh sebesar empat kali lipat. Tetapi, ketika angka-angka yang membelalakkan itu dipublikasi, pada saat yang sama muncul pertanyaan ”siapa yang diuntungkan darinya?”

Studi yang dilakukan Paul Hirst dan Grahame Thompson dalam bukunya Globalisasi Adalah Mitos (2001), mengatakan ”Sebanyak 75 persen dari akumulasi saham total dan 60 persen arus investasi asing langsung (FDI) hanya disalurkan oleh tiga pemain pada permulaan tahun 1990-an yakni, Amerika Utara, Eropa, dan Jepang. Padahal jumlah penduduknya hanya meliputi 14 persen penduduk dunia. Tak hanya itu. Arus investasi yang terbang ke sepuluh negara berkembang pada tahun 1980-1991, hanya sebesar 16,5 persen atau 66 persen dari total arus ke negara berkembang. Dengan demikian, antara 57 persen hingga 72 persen dari penduduk dunia hanya menerima 8,5 persen dari FDI secara global. Dengan kata lain, 2/3 penduduk dunia tidak merasakan manfaat dari investasi ini.”

Laporan UNDP tahun 1999, menguatkan temuan Hirst dan Thompson: ”Dalam waktu sepuluh tahun terjadi pemusatan kekayaan di tangan segelintir orang. Tiga orang terkaya di dunia saat ini menguasai asset yang nilainya sama dengan milik 600 juta orang di 48 negara termiskin. Kemakmuran mengalir dari tempat-tempat termiskin dan terburuk yang tak mungkin dapat dibayangkan manusia ke pusat perdagangan global dan keuangan negara industri. Saat ini seperlima penduduk di negeri-negeri paling kaya menguasai 86 persen produk domestik bruto dunia, 82 persen pasar ekspor dunia, 68 persen penanaman modal langsung, dan 74 persen saluran telepon di dunia. Sementara penduduk di negeri-negeri termiskin hanya memiliki satu persen di masing-masing sektor.”
Di IndonesiaItu gambaran di tingkatan global. Indonesia, salah satu negara yang dengan sukarela mengikatkan dirinya pada perdagangan internasional, merasakan betul akibatnya. Keterbukaan pasar, upah buruh murah, dan penundukan kesadaran politik rakyat guna melancarkan arus investasi, memang menghasilkan angka pertumbuhan yang tinggi, rata-rata 6-7 persen per tahun. Tetapi, pengintegrasian itu nyatanya tidak mendatangkan, baik allocative effieciency, efficiency from competition, maupun imported efficiency.

Satu per satu, dunia usaha yang bertumbuh pesat pasca deregulasi 1983, tumbang dihantam oleh krisis ekonomi pada 1997. Pertumbuhan tinggi tersebut juga hanya dinikmati oleh sekitar 200 pembayar pajak terbesar di Indonesia, yang komposisinya tidak mengalami perubahan yang berarti. Sementara itu, mayoritas rakyat terdesak ke kantong-kantong kemiskinan yang parah.Intervensi negara terhadap aktivitas ekonomi masih sering terjadi, sehingga menyebabkan distorsi (penyimpangan) pasar. Dengan kata lain, perdagangan bebas belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh, pengintegrasian masih bersifat sepihak berdasarkan kepentingan masing-masing negara.

Argumen ini menurut saya mengandung kelemahan yang serius. Pertama, perdagangan bebas tidak pernah terjadi secara sukarela. Sejarah perkembangan ekonomi menunjukkan, perdagangan pertama-tama disebabkan oleh penaklukan; kedua, mengutip studi Patrick Bond (2004) tentang kasus Afrika, ”Integrasi dalam keadaan di mana struktur perdagangan global demikian timpang, malah makin memiskinkan negara-negara berkembang.” Dalam bahasa Graham Dunkley (2000), manfaat perdagangan hanya bisa dirasakan bersama jika masing-masing pemain bermain dalam lapangan permainan yang datar. Artinya, ada pemberlakuan yang sama terhadap produk domestik dan asing. Ketiga, yang lebih mendasar lagi, fair trade atau lapangan permainan yang datar tak mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme yang bercirikan ekspansi dan monopoli kapital sekaligus

Sumber: Sinar Harapan, Selasa 29 Juni 2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tragedi Perdagangan Global at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: