Intelektual Aktivis – Mengenang 50 Tahun Meninggalnya Albert Einstein

Mei 28, 2005 § Tinggalkan komentar

Hari itu, 18 April 1955, di sebuah ruangan di rumah sakit universitas Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, terjadi kesibukan luar biasa. Di ruangan itu, Albert Einstein, seorang ilmuwan terbesar abad ke-20, "person of the year" menurut majalah Times, meninggal dalam keadaan tertidur.

Dunia khususnya dunia intelektual tersentak kaget, karena kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Yah, siapa yang tak kenal Einstein? Dilahirkan pada 14 Maret 1879, di di kota Ulm di W¸rttemberg, Jerman, sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Ayahnya, Hermann Einstein, adalah seorang salesman yang kemudian bekerja di perusahaan electrochemical. Adapun ibunya, Pauline ñ ketika belum menikah dipanggil Koch ñ adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Sebagai seorang ilmuwan, Einstein dikenang sebagai ahli fisika teoritis, yang membuahkan sebuah teori relativitas yang amat terkenal itu. Karya-karya intelektualnya juga menyumbang besar pada pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Seluruh kerja-kerja intelektualnya itu kemudian diganjar dengan penghargaan Nobel Fisika untuk penjelasannya tentang "Dampak Photoelektrik" dan untuk "pelayanannya pada Fisika Teoritis."

Tetapi, kehidupan Einstein tidak hanya bergulat dengan masalah-masalah akademi. Tak banyak yang tahu, bahwa Einstein adalah seorang aktivis politik yang sangat gigih dan pemberani. Menyambut 50 tahun kematiannya, Monthly Review, sebuah majalah sosialis independen tertua di AS, pada edisi Mei 2005, memuat edisi khusus tentang Einstein di bawah title "Albert Einstein, Radical."

Dalam artikel yang ditulis John J. Simon, sepak terjang aktivitas politik Einstein diulas secara rinci. Lahir dari keluarga liberal, sekuler dan borjuis, pada umur 16 tahun Einstein memutuskan berhenti dari kewarganegaraan Jerman dan pindah ke Switzerland. Alasan utama dari keputusan itu karena ia menghindari wajib militer dan juga untuk menyelesaikan pendidikannya di Zurich's Polytechnic Institute, hingga meraih gelar doctoral (PhD).

Selama di Zurich, selain berkutat di kampus, Einstein banyak menghabiskan waktunya di Odean CafÈ, berkumpul dan berdiskusi dengan kaum radikal Rusia, di antaranya Alexandra Kollontai, Leon Trotsky, dan beberapa tahun kemudian Vladimir Ilyich Ulyanov "Lenin." Kegemarannya berdiskusi soal-soal politik membuat tak segan-segan meninggalkan ruang kelas atau ketinggalan pelajaran.

Setelah merengkuh gelar tertinggi bidang akademik, ia bekerja di kantor Paten Swiss di Berne. Tak lama kemudian, pada 1914, Einstein meraih gelar professor penuh di Berlin. Dalam masa-masa kerjanya ini, dunia sedang dihadapkan pada ancaman perang dunia pertama. Dalam kondisi semacam itu, Einstein mengambil posisi menolak perang, posisi mana menempatkannya berseberangan dengan Max Planck, seorang ahli fisika Jerman ternama. Planck bersama ratusan ilmuwan lainnya, menandatangani sebuah manifesto yang supernasionalis, dimana isinya adalah memberi pemakluman -0 seperti bahasanya kaum Nazi – bahwa tujuan Jerman dalam perang adalah untuk melawan "Russian hordes," "Mongols," dan "Negro," yang mengancam keberadaan penduduk kulit putih.

Dalam posisi sebagai seorang aktivis anti perang, Einstein bergabung dengan kelompok liberal dan kelompok mahasiswa radikal. Bersama mereka ia meneriakkan bahaya perang dan kondisi setelah perang yang akan sangat menguntungkan militer dan kelas borjuis. Terbukti, paska PD I, kedua kelompok ini dengan cepat bermetamorfos menjadi pengikut Naziisme. Maka, ketika Naziisme berjaya di Jerman pada tahun 1930an, Einstein yang kebetulan dilahirkan dalam keluarga Yahudi, tampil sebagai salah seorang penentangnya yang utama. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengungkapkan bahaya Naziisme dan sikap politiknya yang anti Nazi, misalnya, ketika ia memberikan kuliah di Inggris, Belanda dan bagian Eropa Lainnya. Ketika Nazi benah-benar berkuasa pada 1933, rejim baru ini menghancurkan rumah milik Einsten di Berlin. Atas perintah Joseph Goebbels, menteri propaganda Hitler, seluruh karya ilmiah Einstein di bakar. Setelah peristiwa itu, Einstein tak pernag kembali ke Berlin dan pindah ke Amerika, khususnya di Institute of Advanced Studies di Princeton, New Jersey.

Di negeri baru ini, aktivitas politik Einstein tak juga menyurut. Setahun sebelum menerima kewarganegaraan Amerika pada 1940, fokus perhatian politik Einstein adalah menghancurkan Naziisme dan Fasisme. Bersama-sama dengan intelektual-intelektual Eropa lainnya, ia meminta kepada Eleanor Roosevelt (istri presiden AS Franklin Delano Roosevelt) untuk mengintervensi kebijakan suaminya terhadap Jerman. Nampaknya usaha ini tak membuahkan hasil memuaskan. Sebenarnya perbedaan sikap politik antara Einstein dan Roosevelt bukan itu saja. Misalnya, ketika rejim fasis Franco di Spanyol semakin menguat, Einstein ada di posisi pendukung republik, sementara pemerintahan Roosevelt ada di belakanya rejim fasis Franco.

Demikian juga, ketika terjadi perlombaan senjata atom antara AS dan Jerman, Einstein lagi-lagi memperlihatkan sikap oposisinya. Ia menentang keras dan menyalahkan pemboman atas Hiroshima. Setelah PD II usai, perlombaan senjata semakin kencang dan politik luar negeri AS mengumandangkan perang terhadap komunisme. Melihat situasi ini, bersama-sama dengan sekelompok intelektual anti perang, ia mendirikan the Emergency Committee of Atomic Scientist (ECAS). Lembaga ini mengampanyekan bahaya militerisme dan perlombaan senjata atom bagi kehidupan manusia. Tetapi, kembali Einstein gagal dalam menghentikan perkembanngan militerisme dan perlombaan senjata atom.

Wilayah aktivitas politik Einstein tidak hanya meliputi soal perang, senjata, dan militerisme. Ia juga memiliki concern terhadap isu rasisme, pemisahan, dan berbagai manifestasi supremasi kulit putih di AS. Sebagai seorang Yahudi, ia juga peduli dengan penderitaan kaumnya selama PD II dan itu sebabnya ia setuju dengan pendirian Negara Israel. Tetapi, tidak seperti Vladimir Jabotinsky dan Menachem Begin yang mengobarkan nasionalisme hero atau yang berpikiran mainstream seperti David Ben Gurion, Einstein menolak watak agresif dari bangsa Israel. Ia mengusulkan Negara baru itu dipimpin secara bersama-sama antara orang Yahudi dan orang Palestina. Katanya, "aku melihat masa depan bagi Palestina sebagai basis bagi kerjasama damai antara dua rakyat dalam satu negeri. Bersama-sama mereka harus mengesampingkan semua hal yang saling bertentangan."

Demikian juga ketika demam anti komunis melanda AS, yang diprakarsai oleh senator McCharty (terkenal dengan demam McChartyism), lagi-lagi Einstein menunjukkan sikap politik yang berseberangan. Seperti ditulis dalam buku sejarah, dengan adanya demam McChartyism, semua orang yang dianggap bertentangan dengan kebijakan luar negeri pemerintah AS yang anti komunis langsung dituduh sebagai komunis, dan dicabut hak-haknya sebagai seorang warga Negara. Kebijakan ini tentu saja merampas hak-hak sipil warga, dan atas dasar itu, Einstein sekali lagi terlibat dalam sebuah organisasi yang memperjuangkan perlindungan terhadap hak sipil warga. Bersama-sama dengan wartawan radikal I.F. Stone, astronom dan aktivis Harlow Shapley, sosiolog E. Franklin Frazier dan Henry Pratt Fairchild, serta ilmuwan politik H.H. Wilson, mereka mendirikan the Emergency Civil Liberties Committee (ECLC). Organisasi ini tujuannya adalah membela kebebasan berekspresi, hak-hak buruh, dan beragam kampanye untuk hak-hak sipil.

Demikianlah sosok singkat Einstein sebagai seorang intelektual aktivis. Sebagai seorang aktivis, terlibat intensif dalam beberapa organisasi inlmuwan kiri, memberikan pendidikan ilmiah pada massa rakyat sebagai alat untuk menentang obscurantisme dan mitos ilmu yang palsu. Ketika PD I tengah berkobar, di pintu ruang kelasnya di Jerman ia menulis: Class Cancelled-Revolution."

Dalam posisinya sebagai seorang aktivis pula, ia menulis dengan nada humor jika ia bisa kembali muda: "Aku tak kan mencoba menjadi imluwan atau sarjana atau guru. Aku lebih baik memilih menjadi tukang kayu atau penjual keliling dengan harapan dapat menemukan derajat independensi yang sederhana dengan tetap berada di bawah kondisi saat ini."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Intelektual Aktivis – Mengenang 50 Tahun Meninggalnya Albert Einstein at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: