Kuningisasi PRD

Juli 29, 2005 § 4 Komentar

“Eh, denger-denger PRD berkoalisi dengan Partai Golkar.”

“Masak sih, itu tak mungkin. Keduanya ibarat air dan api, anjing dan kucing.”

“Tapi, pengibaratan yang hitam-putih kayak gitu tak ada dalam kamus politik. Kawan dan lawan tergantung kepentingan. Kalau kepentingannya sama maka musuh menjadi kawan. Sebaliknya, kalo beda kepentingan, kawan pun jadi lawan.”

“Tapi itu hanya berlaku buat partai yang pragmatis, partai yang tak punya ideologi, yang pengurusnya diisi oleh orang-orang oportunis.”

“Kamu kok ngeyel gitu sih. Aku nggak bohong. Udah menjadi konsumsi publik bahwa PRD koalisi dengan Golkar.”

“Kalau benar, dimana dan dalam kasus apa mereka berkoalisi?”

“Dalam kasus pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Palu Sulawesi Tengah. Di sana PRD mendukung penuh calon kepala daerah yang diusung oleh Golkar.”

“Aku kok masih gak percaya.”

“Kamu aja yang kurang gaul. Skarang ini, benar-benar telah banyak yang berubah. Yang dulunya aktivis, skarang jadi sibukis. Dulu teriak anti militer, skarang ini bersandar pada militer. Dulu teriak anti korupsi yang dilakukan Soeharto, skarang malah jadi tersangka korup. Pokoknya, sama politik kamu jangan naif, jangan idealis.”

“Maksudmu kalau kamu bilang merah, skarang itu berarti kuning?”

“Kamu tau sendirilah. Merahisasi sama dengan Kuningisasi."

“Udah, udah. Jangan melantur. Kembali ke PRD yang koalisi ama Golkar. Pendapatmu apa?”

“Aku tak punya pendapat, aku orang luar. Aku tak ikut proses pengambilan keputusan, aku tak tahu dinamika internal mereka. Aku juga tak mau dicap sekadar intelektual yang tukang kritik.”

“Wah pendapatmu mirip omongan Jusuf Lakaseng, yang bekas ketua PRD.”

“Memangnya dia omong apaan?”

“Gak penting omongannya. Yang ingin aku tau, apa pendapatmu soal koalisi PRD dengan Golkar ini?”

“Kok, kamu maksa gitu sih?”

“Ya iya, soalnya PRD itu hingga kini masih dianggap sebagai representasi gerakan kiri Indonesia. Bicara kiri, bicara PRD. Itu sebabnya, walaupun Budiman Sudjatmiko terang-terangan menyeberang ke PDI-P, wartawan masih suka nulis, ‘Budiman Sudjatmiko, mantan ketua umum PRD.”

“Nah kalau itu aku nggak setuju. Gerakan kiri di Indonesia tidak identik dengan PRD. Apalagi ketika partai ini berkoalisi dengan Golkar.”

“Nah itu yang aku ingin tahu, pendapatmu tentang koalisi itu.”

“Kalo maksa lo itu jagonya memang.”

“Udah, udah. Apa pendapatmu?”

“Begini. Sebagai salah satu pilar utama bangunan kekuasaan Orde Baru (Orba), di samping militer, Golkar harus bertanggung jawab terhadap serangkaian tindak kekerasan politik, hukum dan sosial yang dilakukan oleh rejim lama itu. Golkar harus bertanggung jawab terhadap pembantaian, pembunuhan, pemenjaraan tanpa proses hukum, penculikan, pembodohan terhadap seluruh anak bangsa, fitnah, caci maki, pecah-belah antar sesama serta pembunuhan karakter terhadap lawan politik.

Tapi, seperti yang kau tahu, pertanggung jawaban itu tak pernah mereka lakukan. Jangankan bertanggung jawab, minta maaf aja kagak. Seolah-olah seluruh peristiwa mengerikan itu bagaikan buih di tengah samudra raya. Bahkan sebaliknya, mereka cuci tangan teerhadap seluruh kesalahan yang mereka lakukan. Dan, mereka berkoar-koar bahwa mereka adalah Golkar Baru. Apanya yang baru?”

“ Ya itu, kalo dulu mereka ikut pemilu tanpa embel-embel Partai Golkar. Tapi setelah reformasi, mereka tambah frasa Partai di depan kata Golkar.”

“Itu sih namanya oportunisme. Dan oportunisme itu adalah salah satu ciri yang melekat pada Golkar. Karena itu, mereka yang bersedia berkoalisi atau bergabung ama Golkar pasti harus berhitung dengan watak oportunisnya Golkar itu.

“Selain itu apa lagi pendapatmu?”

“Hal lainnya, Golkar sebagai the rulling party pada masa Orba, adalah pengusung panji-panji kapitalisme. Para sarjana sering mengatakannya dengan istilah modernisasi. Melalui Golkar, kapitalisme menancapkan beton-beton bertulang di tanah Indonesia, mengebor pantai, membuka jalan darat agar mobil-mobil dari luar bisa leluasa lalu-lalang, memelopori proyek ‘revolusi hijau” yang menghancurkan hidup jutaan petani Indonesia, sehingga mendorong lahirnya para pengangguran pedesaan. Melalui Golkar, kapitalisme melahirkan kesenjangan sosial yang sangat tajam, kriminalitas yang sangat tinggi, dan sebagainya.

Dan ingat, sampe skarang Golkar masih yang terdepan dalam mengibarkan bendera kapitalisme-neoliberal. Lihat saja komposisi pengurusnya, yang rata-rata diisi oleh pengusaha kakap.”

“Jadi kau mau bilang bahwa mereka yang koalisi dengan Golkar berarti bersepakat dengan ideologi yang diusung oleh partai ini?

“Tentu saja mereka akan bilang tidak. Berkoalisi tidak mesti melacurkan keyakinan. Seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini mendukung pemerintahan neoliberal SBY-JK, tentu mereka tidak akan setuju kalo partainya disebut telah berubah haluan menjadi partai yang pro neoliberalisme.”

“Ah, lo itu mbulet, argumenmu muter-muter. Tidak setuju tapi ikut menikmati kekuasaan, sama aja boong. Hanya anak kecil dan orang bodoh yang bisa dikibulin dengan argumen macam itu. Konkret aja, apa pendapatmu soal koalisi tadi? Mengapa PRD mesti koalisi dengan Golkar? Apakah mereka tak tahu dengan semua rekor buruk Golkar?”

“Tentu saja mereka tahu. Itu dulu bagian dari sepuluh musuh rakyat yang dikampanyekan PRD ketika ikut pemilu 1999.”

“Lalu mengapa mereka harus berkoalisi?”

“Menurutku ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, yang paling ringan, di tubuh PRD kini sedang berkembang praktek politik yang pragmatis-oportunis. Praktek politik seperti ini, memang mendapat ruangnya dalam sistem demokrasi elektoral. Kata teman saya, yang kuliah di Ohio, demokrasi elektoral memaksa setiap konstituennya untuk bertindak rasional. PKS aja jadi rasional, katanya. Liat, mereka tak berkampanye soal jilbab atau syariat Islam waktu musim kampanye dulu. Mereka kampanyenya soal anti korupsi, makanya mereka sukses mendulang suara. Kalo kampanye syariat Islam, belum tentu bisa menang besar gitu. Justru pragmatisme itulah yang dikehendaki oleh demokrasi elektoral.

Nah, saya melihat kata “rasional” ini sangat dekat dengan praktek politik yang pragmatis-oportunis itu. Dan dalam bingkai demokrasi elektoral, koalisi antara PRD dan golkar yang terjadi di Sulawesi Tengah itu, sangat tidak salah. Itu wajar dan itulah memang yang dikehendaki oleh rejim demokrasi elektoral. Yang radikal itu pengganggu karena itu harus dijauhkan.

Kedua, ada ketidakjelasan ideologi dalam tubuh PRD. PRD itu sebenarnya berideologi Marxis atau bukan sih? Kalau Marxisme menjadi ideologinya, mengapa koalisi dengan partai yang mengusung ideologi anti-Marxis?

Atau ideologi PRD adalah kiri-tengah (center-left), seperti Partai Buruh Brazil (Partido do Trabalhadore/PT) yang kini tengah berkuasa? Ciri khas partai beraliran center-left ini, ketika belum berkuasa gencar mengumbar slogan anti kapitalisme-neoliberalisme tapi, ketika kekuasaan sudah direngkuh, dengan seketika mereka berubah menjadi pendukung utama neoliberalisme.

Nah, saya lebih melihat masalah ketidakjelasan ideologi inilah yang paling mendasar dalam menelaah fenomena koalisi PRD-Partai Golkar ini. Dan dengan sendirinya, PRD tak layak lagi dianggap sebagai reprensentasi gerakan kiri di Indonesia.”

“Ya iyalah, kirinya belum jelas kok.”

§ 4 Responses to Kuningisasi PRD

  • Gustaf George mengatakan:

    Bung, ini aku Copy dari milis kawula muda sulawesi tengah
    (kamust). Sebenarnya ada beberap (banyak) tanggapan–yg
    lucu, krn iseng menertawakan PRD, sampai yg serius–, tapi
    hapus (tak kusimpan), dan kebetulan hanya ini yg
    ada/tersimpan.

    Lebih jauh coba ente buka kamust@yahoogroups.com.

    Realitas gandengan tangan dgn golkar, ya, dpt ditemui di
    Palu. Dan ketika email ini aku balas, seorang teman
    menginformasikan aku bhw Cudi (Rusdi Mastura), yg didukung
    PRD itu, menang dlm penghitungan sementara di Palu.
    Kebetulan aku ada di jakarta shg nggak tau hasil pilkada
    tsb.

    Itu dulu dari aku.

    Salam,

    Gustaf George

  • Ahmad Muhadjir mengatakan:

    di satu sisi, Golkar memang sedang berusaha mengembalikan kejayaan yang hilang.
    di sisi lain, potensi mahabesar Golkar ke depan, menjadi daya pikat banyak kelompok untuk merapat.
    klop deh…….sama-sama kepentingan
    Bukan hanya Partai yang jelas-jelas berada dalam arena politik yang didekati Golkar,
    elemen mahasiswa pun kini mulai digarap. di Semarang KIM-PG adalah contohnya.
    tapi mungkin itu soal pilihan…….yang dasarnya tentu saja saling memanfaatkan.

    Ahmad Muhadjir (opothoh@yahoo.com)

  • Anonymous mengatakan:

    Salam perjuangan,

    soal kuningisasi

    aku kebetulan berada di sulteng/palu. banyak kawan-kawan disini yang bukan anak-anak prd, dan
    bukan anak pds, semuannya bertanya dan kaget sedikit heran persoalan prd berkoalisi mendukung cudi menjadi walikota palu yang nota bene cudi adalah salah satu dedengkot dari partai golkar dari masa lalu sampai skarang.

    inilah realitas politik yang aku pun bingung atas dasar apa, dan basis teori apa yang membuat semuanya ini
    terjadi. setelah aku bertanya kepada beberapa orang, termasuk seorang kawan yang menjadi wartawan yang
    mewawancarai mereka tentang dukungan tersebut, alasannya sederhana; karena pasangan cudi setuju dengan kontrak politik yang mereka lakukan dengan cudi dan bacaan politik mereka bahwa arus kekuatan reaksioner yang berasal dari
    pusat mulai memasuki daerah-daerah terlebnih daerah indonesia timur.
    dan untuk memngamankan daerah dari kekuatan arus modal tersebut harus daerah dikuasai lebih dulu dengan
    memanfaatkan elit-elit politik lokal (tidak peduli dari manapun *ini dari saya) . dan ini adalah langkah awal.

    dan alasan selanjutanya aku belum tahu. dan pertanyaan gustaf
    siapa yang menang hari pertama pencoblosan dari 375 tps pasangan Rudi mastura menang 62 % dan di palu cudi memang calon yang cukup kuat.

    analisa aku :
    di alam rezim liberal demokratik begini, atau masa dimana
    kekuasaan negara mulai mencapai kestabilannya, kekuatan
    yang mengaku kiri harusnya menyuarakan agar diisolasinya
    kekuatan-kekuatan reaksioner dan sisa-sisa kekuatan lama dengan tidak melakukan atau terlibat dengan dukung mendukung. tapi kita harus memberikan alternatif kepada
    massa kita agar suara mereka tidak jatuh ketangan pendekar berwatak jahat. yupp kita harus membeberkan semua track record kekuatan/kandidat yang ikut dalam pemilu borjuasi
    ini. agar rakyat bisa menilai yang mana kekuatan yang bisa mengancam gerakan yang dilakukan. dan walaupun semua kandidat /kekuatan itu busuk/ atau mereka tidak pasti dapat berbuat-apa-apa terhadap arus modal (imperialisme) tapi dengan bukan atau tidak memilih kekuatan yang paling reaksioner / sisa-sisa kekuatan lama maka kita akan dapat
    atau bisa dengan baik bergerak lebih luas.

    ingat saat ini kekuatan negara tidak lama lagi stabil (setelah semua pilkada selesai maka semuanya akan stabil). ingat siapa presiden saat ini dan apa yang dia lakukan.

    salam amar

  • rury mengatakan:

    Demokratisasi memang menyebabkan semua menjadi abu-abu, sulit untuk
    melihatnya. Dahulu PRD dikatakan dekat dengan PDIP karena Mantan ketua umumnya
    Budiman Sudjadmiko masuk menjadi anggotanya. Sekarang Coen Husain Pontoh juga
    mantan anggota PRD mengatakan, bahwa PRD “Baru” mendekat kekubu Golkar. Semua
    allohualam.

    Mungkin besok akan dikatakan lagi berwarna hijau dll.

    Mungkin teori dan praktek akan berbeda. Yang pasti seorang arsitektur belum
    tentu bisa membuat rumah tetapi tukang batu sudah pasti dapat membuat rumah.

    Sekarang ini saya bingung menentukan rumah, he.. he… karena ngak ada satupun
    rumah (BTN) yang bisa langsung ditempatkan pasti satu dua tempat pasti perlu
    renofasi. Tetapi anehnya saya tidak bisa menentukan berapa biaya renofasi
    akhirnya saya tanyakan lngsung ke orang yang memang tahu yaitu tukang batu dia
    lebih jujur ketimbang arsitektur karena pasti ada biaya markup he… he…
    sorry ya.

    rury@mnlh.go.id–>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuningisasi PRD at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: