Tim Widjojo

Agustus 25, 2005 § 5 Komentar

Chile, dimasa pemerintahan rejim diktator jenderal Augusto Pinochet, punya sekelompok ekonom yang dinamakan “The Chicago Boys.” Nama itu diberikan, karena hampir seluruh anggota kelompok itu dididik di Universitas Chicago, Amerika Serikat, di bawah bimbingan ekonom Milton Friedman.

Indonesia, dimasa kediktatoran jenderal Soeharto, juga punya sekelompok ekonom yang dinamakan “Mafia Berkeley.” Nama itu diberikan karena hampir seluruh anggota kelompok ini dididik di Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Saya tidak menggunakan istilah “Mafia Berkeley,” tapi menggunakan sebutan yang juga digunakan oleh salah satu anggota kelompok itu, M. Sadli, “Tim Widjojo.” Menurut Sadli, anggota tim yang dipimpin oleh Widjojo Nititsastro ini selain dirinya adalah Ali Wardhana, Emil Salim, Radius Prawiro, Subroto. J.B. Sumarlin, Suhadi Mangkusuwondo, Adrianus Mooy dan Saleh Afif (Tempo, 10 Juli 2005).

Seperti di Chile, kelompok Widjojo ini bekerja sama sangat erat dengan militer untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan melalui jalan kapitalisme. Seperti kata Sadli, "Kelompok dosen FE-UI ini sejak 1957 menjalin kerjasama dengan TNI lewat Seskoad (Sekolah Jenderal) di Bandung, tempat Soeharto pernah menjadi siswa pada 1952….. Jenderal Soeharto lalu memborong seluruh tim sebagai pembantunya ketika menyusun pemerintahan."

Dalam memajukan ekonomi nasional, Tim Widjojo ini berkeyakinan bahwa hanya melalui pasar bebas, hanya dengan cara mengintegrasikan diri ke dalam kapitalisme, bangsa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Kata Emil Salim, pengintegrasian ke dalam kapitalisme itu merupakan jalan yang "rasional," sebagai lawan dari konsep membangun ekonomi nasional yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) yang dianut oleh rejim Soekarno. Terjadi pergeseran pemikiran yang sangat ideologis di sana. Ini sesuatu yang sangat menarik karena secara politik, rejim Orde Baru menerapkan proses de-ideologisasi yang menyeluruh di segala bidang kehidupan. Rakyat dipaksa untuk hanya memikirkan soal perut, soal kerongkongan, kata orang Manado.

Pertanyaannya, bagaimana para penganut dan pemuja liberalisasi pasar ini bisa bergandengan tangan dengan militer, sebuah institusi yang dibangun dengan logika kekerasan. Apakah atas nama liberalisasi pasar yang berhulu pada liberalisme, kekerasan negara dibutuhkan? Penjelasan akademiknya kita tunda dulu, yang bisa dilihat secara kasat mata jawabannya adalah ya.

Hubungan keduabelah pihak ini memang saling menguntungkan: Soeharto membutuhkan para ekonom-teknokrat ini untuk melegitimasi bangunan rejimnya yang berdarah-darah itu. “Lihat ekonomi Indonesia bertumbuh pesat 6 sampai 7 persen per tahun, tingkat inflasi berada pada level di bawah dua digit, lapangan kerja bertambah, pendapatan per kapita penduduk meningkat tajam, pertumbuhan sektor industri telah melebihi pertumbuhan sektor pertanian, dan bla..bla…bla. Sementara itu, Tim Widjojo butuh rejim Soeharto agar mereka bisa bekerja dengan tenang tanpa diganggu oleh demonstrasi buruh yang diupah sangat rendah, demonstrasi petani yang lahannya dicaplok untuk mendirikan pabrik. Inilah pangkalnya mengapa para ekonom sangat senang mengumbar istilah stabilitas, yang dasarnya merupakan bahasa militer.

Tapi, apa yang terjadi kemudian? Tampilan ekonomi yang menakjubkan itu ternyata sangat rapuh. Jalan kapitalisme yang diidam-idamkan oleh Tim Widjojo akan membawa Indonesia ke luar dari lumpur kemiskinan dan keterbelakangan terbukti gagal. Kapitalisme yang berkembang di masa Orde Baru, yang diarsiteki oleh Tim Widjojo ini, adalah kapitalisme cangkokkan, kapitalisme yang dibangun di atas timbunan ratusan ribu mayat rakyat Indonesia. Karena cangkokkan, maka terjadi dua keadaan: pertama, ekonomi Indonesia tidak pernah menjadi ekonomi kapitalis yang maju melainkan hanya sebagai ekonomi kapitalis yang tergantung: tergantung pada pasar luar negeri, tergantung pada modal asing, tergantung pada utang luar negeri, dan tergantung pada teknologi asing. Keadaan yang kedua, kapitalis-kapitalis yang bertumbuh bukan mereka yang sungguh-sungguh mengabdi pada liberalisme, seperti yang terjadi di Eropa pada abad ke-19. Kapitalis-kapitalis yang muncul di bawah arahan Tim Widjojo ini adalah para kapitalis yang lemah, oportunis dan pengkhianat. Mereka pada awalnya bukanlah kapitalis, mereka menjadi kapitalis karena posisinya sebagai kelas penguasa (the ruling class). Sebagian dari mereka muncul dari dalam elite birokrasi (birokrat kapitalis), sebagian lainnya muncul dari dalam elite militer (militer kapitalis) dan sebagian yang lain karena kedekatannya dengan Soeharto (kroni kapitalis).

Gabungan antara ekonomi kapitalis yang tergantung dengan kapitalis yang lemah, oportunis dan pengkhianat itu, menyebabkan ekonomi Indonesia langsung bangkrut begitu terjadi krisis pada pertengahan 1997. Setelah tahun-tahun itu, ekonomi Indonesia sangat sulit untuk kembali pulih (semakin tergantung pada modal asing, semakin tergantung pada utang luar negeri, semakin tergantung pada pasar luar negeri, dan semakin tergantung pada teknologi asing). Para kapitalisnya pun ramai-ramai membuktikan dirinya sebagai kapitalis yang lemah, oportunis dan pengkhianat. Beramai-ramai bisnis mereka bertumbangan dan secara politik mereka lalu berkhianat pada sang patron: Soeharto. Secepat kilat, mereka berubah dari seorang penjaga gawang otoritarianisme menjadi penjaga gawang demokrasi.

Krisis ini seharusnya menjadi momen bagi kita untuk menyatakan bahwa mimpi Tim Widjojo: "ekonomi Indonesia yang kuat dan maju melalui jalan kapitalisme" usai sudah. Apalagi dalam terpaan gelombang kapitalisme-neoliberal, ekonomi Indonesia selamanya hanya akan menjadi ekonomi yang tergantung dan para kapitalisnya akan tetap menjadi kapitalis yang lemah, oportunis dan pengkhianat.

§ 5 Responses to Tim Widjojo

  • Nadirsyah Hosen mengatakan:

    Saya pernah membaca disertasi Rizal Mallarangeng yang menjelaskan bhw salah satu kegagalan proyek ekonomi liberal Tim Widjojo itu karena diganggu dg ide-ide non-liberal sehingga Pak Harto sempat menggeser bandul politik ekonominya (misalnya dg memasukkan ide Habibienomics, etc). Ini membuat proyek ekonomi liberal tidak dilaksanakan sepenuhnya dan “goyang” ketika krisis menerpa. Mudah-mudahan saya tidak terlalu keliru dalam menyarikan argumentasi Rizal tsb. Ada komentar nggak?🙂

  • Anonymous mengatakan:

    Mas Hosen yang baik,
    Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara apa yang disebut Habibienomics dan Widjojonomics itu. Habibienomics tidak secara tegas menentang ide-ide liberalisasi pasar yang dianut oleh Tim Widjojo. Habibie tidak pernah bersuara keras soal utang luar negeri, soal pasar bebas, soal modal asing. Dia lebih banyak berbicara soal peran teknologi dan nilai tambah (value added). Tidak benar bahwa Habibienomics, misalnya, menganut paham nasionalisme ekonomi.

    Secara prinsipiil keduanya sama saja, sama-sama menganut jalan kapitalisme. Yang membedakan saya kira adalah pergeseran kekuasaan di tingkat elite kekuasaan. Soeharto, makin lama makin nyaman memainkan kartu Islam untuk mengamankan kekuasaannya, dan itu diperolehnya melalui seorang Habibie yang menjadi ikon modernitas: muda, brilian, kosmopolit, tapi kuat keyakinan agamanya.

    Sedangkan Tim Widjojo, secara politik sangat lemah, karena mereka hanya segelintir intelektual elit. Mereka tak punya kaki tangan yang mampu digerakkan dan dimobilisasi untuk mendukung gagasan-gagasannya. Jadi wajar saja jika mereka agak tersisih dari lingkaran dalam Soeharto.

    Saya kira disertasi Rizal Mallarangeng, terlalu menyederhanakan. Karena dia lebih banyak mengulas peran gagasan tapi, mengabaikan sisik-melik hubungan ekonomi-politik yang kompleks.

    Salam,
    Coen

  • Anonymous mengatakan:

    Mas Coen, tulisannya sangat mencerahkan. Serius, tapi enggak bikin otak capek baca. Jarang ada orang bisa nulis begini. Kalo serius kan biasanya jadi serius banget, ato penuh dengan jargon-jargon. Atau kalo enggak serius, jadinya ecek-ecek. Ini enggak. Saya menikmati sekali tulisan Anda. Selalulah menulis dengan cara seperti ini.

    Cheers,
    Kirana Adysti

  • Irvany Ikhsan mengatakan:

    Ada yg lupa di-copy dari kapitalis nya USA. USA kapitalis adalah negaranya dgn menguasai banyak sumber daya alam di beberapa negara yg oleh USA disedot untuk memperkaya negaranya. Menyedotnya dgn men-utus perusahaan2 MNC keseluruh belahan bumi ini. Nah Indonesia mau jadi kapitalis. Negara mana yg dikuasai SDA nya oleh Indonesia. Jelas kurang cedik dlm meng-copy paste suatu sistem perekonomian. Kalo hanya mengangkangi SDA dalam negeri, ya jadinya spy ini. SDA hanya dikuasai segelintir orang saja. Jadinya, penganguran dan kemiskinan dimana-mana. Kalo gitu sih gak perlu baca disertasi nya siapa2 or sekolah ke Berkeley….

    Jadi yg bener adalah, kuasai SDA oleh negara dgn ahli2 sendiri kemudian hasil devisa buat menyesejahterakan rakyat. Yg bener ya Pa Karno, dgn sistem Berdikari. Bukan pola bagi hasil dgn PMA/Swata lokal. Kalau adidaya, cocok kapitalis. Negara baru berdiri kapitalis, yg kaya ya pejabat doank.

    Kesimpulanya… Tim Widjoyo ini sebenarnya kalah cerdik oleh Pak Harto. Beliau lah sebenarnya yg mengerti selengkap-lengkapnya. Tim Widjoyo sadarnya (tau kalo hanya dijadikan kosmetik) sekitar tahun 90-an. Dan Pak Harto juga ngerti kalau Tim Widjoyo sudah sadar, makanya beliau mengalihkan patron politik ke Timur Tengah dgn membentuk ICMI kemudian menambah gelar Haji Muhammad, dll…

    Tim Widjoyo lah yg menghajar Indonesia dgn krisis ekonomi untuk menumbangkan Pak Harto dgn bekerja sama dgn IMF, Fund Manajer asing, & perbankan asing. Buktinya? Coba deh cek gimana hubungan Tim Widjoyo sekarang dgn Cendana…. kayanya sih lagi musuhan deh….

  • Hadizian mengatakan:

    Buku rizal malaragrenggreng itu (termasuk rizal-nya) tidak lain adalah bagian dari kegilaan pada pasar bebas, neoliberalisme, etc. Makanya dia menjadikan habibienomics sebagai antitesa widjojonomics biar seolah-olah para penganut neoliberalisme itulah yang benar.

    Anyway, momentum dunia saat ini khususnya negara non-Barat (amerika latin, asia selatan) adalah kebenaran bagi gagasan nasionalisme dan kerakyatan. mari kita buang jauh neoliberalisme sekaligus para penganutnya. kita kirim mereka sekolah lagi ke venezuela, bolivia, atau nepal agar sadar! indonesia 2009 harus menentukan pemimpin yang jelas sikapnya untuk nasionalisme dan kemandirian bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tim Widjojo at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: