Pasar

September 2, 2005 § Tinggalkan komentar

DI TENGAH-TENGAH terjun bebasnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar AS, menteri koordinator perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu, Aburizal Bakrie, menyatakan, “nilai tukar tergantung pasar.” Ketika nilai tukar rupiah terbukti merosot menembus angka Rp. 10 ribu, para pengamat dan praktisi bisnis langung mengatakan, penyebab kemerosotan tersebut karena “pasar panik.”

Pasar, pasar dan pasar. Istilah ini begitu membius, ia mewakili masa dimana segala sesuatu bergantung dan tergantung pada dirinya. Seoharto jatuh karena pasar tak lagi menaruh kepercayaan pada pemerintahannya. B.J. Habibie gagal maju sebagai calon presiden pada pemilihan umum 1999, karena ia “tidak diterima oleh pasar.” Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan dari kursi kepresidenan, karena ia gagal mempertahankan kepercayaan pasar yang sudah diraihnya saat pertama kali terpilih sebagai presiden. Maka, ketika Megawati Soekarnoputri dalam kabinet gotong royong, menempatkan para ekonom teknokrat pada posisi menteri ekonomi, pasar pun dinilai memberikan reaksi positif.

Sedemikian saktinya pasar ini, nampak dari tuturan Boediono, mantan menteri keuangan di era pemerintahan Megawati-Hamzah Haz, berikut:

Hilangnya kepercayaan para pelaku ekonomi adalah penyebab utama timbulnya krisis yang berkepanjangan di negara kita dan kembalinya kepercayaan adalah kunci utama bagi kita untuk keluar dari krisis dan untuk bangkit kembali.

Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah “pasar”? Pasar mana yang sedemikian saktinya sehingga bisa menentukan naik turunnya sebuah pemerintahan? Apakah itu pasar Tanah Abang di Jakarta atau Pasar Karombasan di Manado? Apakah yang dimaksud dengan pelaku pasar itu adalah pedagang kaki lima di Pasar Jatinegara ataukah pemain saham di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ)? Tidak ada penjelasan memuaskan soal ini.

Dalam buku teks teori ekonomi yang diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, pasar diartikan secara beragam. Satu definisi mengatakan, pasar bermakna “Pertemuan antara penjual dan pembeli di satu tempat yang bernegosiasi sehingga mencapai kesepakatan dalam bentuk jual beli atau tukar menukar.” Ini yang disebut sebagai pasar langsung. Inilah pasar Tanah Abang yang beberapa waktu lalu hangus dilahap si jago merah itu.

Dari definisi ini, ada empat point penting yang menonjol yang menandai terbentuknya pasar: pertama, ada penjual dan pembeli; kedua, mereka bertemu di sebuat tempat tertentu; ketiga, terjadi kesepakatan di antara penjual dan pembeli sehingga terjadi jual beli atau tukar menukar; dan keempat, antara penjual dan pembeli kedudukannya sederajat. Dalam sejarah ekonomi, pasar seperti ini disebut sebagai pasar tradisional, yang masih bertahan, walaupun megap-megap di masa modern sekarang ini.

Tetapi, ada juga pasar di mana pembeli dan penjual bertemu tapi, tak terjadi transaksi yang didasarkan pada proses tawar menawar. Kalau Anda masuk ke supermarket atau hypermarket seperti Carefour, Giant atau Matahari, Anda sudah disuguhi komoditi (Tentang Komoditi, lihat di sini) dengan label harga yang tetap. Anda boleh membeli boleh tidak. Tapi, ketika Anda memutuskan membeli komoditi dimaksud, Anda tidak diperkenankan menawar harga yang sudah tertera. Tertarik dan punya uang silahkan ambil dan bayar.

Ada juga pasar dimana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi barang-barang ilegal. Pasar seperti ini dikenal dengan nama pasar gelap atau black market. Dalam kasus lainnya, ada pasar dimana pembeli dan penjual tak mesti bertemu di satu tempat, juga tak mesti terjadi tawar menawar. Misalnya pasar e-commerce atau pasar virtual (jual beli melalui internet). Misalnya, Anda ingin membeli buku terbaru dari ekonom peraih nobel sekaligus pengritik globalisasi, Joseph E. Stiglitz, Anda tinggal memesan lewat toko buku maya Amazon.Com. Para ekonom menyebut pasar seperti ini sebagai pasar tidak langsung. Pasar tidak langsung ini juga terlihat pada perdagangan di bursa saham (disebut sebagai pasar bursa/pasar modal) atau bursa uang (disebut sebagai pasar uang).

Seluruh pengertian ini tidak mengantarkan kita pada kejelasan makna dari frasa “kepercayaan pasar yang merosot menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh terhadap dollar.” Kita tidak tahu mengapa pasar begitu menentukan. Tetapi, adalah fakta bahwa pasar memang telah menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyusun serangkaian kebijakan ekonomi-politik. Lalu, bagaimana menjelaskannya.

Marilah kita kembali pada seluruh pemaknaan tentang pasar di atas. Beragam makna itu mengindikasikan dua hal: pertama, pasar adalah medium interaksi antara produsen dan konsumen dan bentuk apapun. Dan kedua, ini yang berhubungan dengan frasa “kepercayaan pasar,” adalah apa yang dikatakan oleh Ellen Meiksins Wood, bahwa pasar tidak hanya sekadar medium interaksi antara produsen dan konsumen tapi, juga sebuah kekuatan impersonal yang secara sistemik sanggup memaksa para kapitalis dan juga buruh untuk tunduk pada hukum kompetisi, akumulasi dan maksimalisasi keuntungan. Karena seluruh aktor-aktor ekonomi tergantung pada pasar untuk seluruh apa yang mereka butuhkan, demikian Wood, maka mereka harus bertemu dan bertindak agar bisa bertahan hidup, di luar apa yang merupakan kebutuhan dan keinginan personalnya.

Dalam kenyataannya, interaksi antara kapitalis dan buruh dalam sebuah medium yang memiliki kekuatan impersonal yang bersifat memaksa, berlangsung tidak seimbang. Para penjual dan pembeli, atau kapitalis dan buruh, pada faktanya tidak pernah “duduk sama rendah berdiri sama tinggi.” Para kapitalis yang merupakan kelas dominan, menurut Wood, dengan bantuan negara sanggup memanipulasi pasar untuk kepentingan mereka. Dalam makna inilah, frasa “kepercayaan pasar” itu sebenarnya tak lain dari “kepercayaan para kapitalis” terhadap pemerintah.***

Kepustakaan:

Ellen Meiksins Wood, “Empire Of Capital,” Verso, London, 2003.

M.C. Howard & J.E. King, “The Political Economy of Marx,” (Second Edition), New York University Press, 1985.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pasar at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: