Sosialisme Dan Agama

September 18, 2005 § 9 Komentar

Tanggapan Untuk Rm. Franz Magnis Suseno

Artikel Rm. Magnis yang berjudul” Izin Mendirikan Rumah Ibadat” (Kompas, 10 September 2005), tiba-tiba menarik perhatian saya. Saya ingin tahu bagaimana Rm. yang bijak bestari itu menyikapi aksi penutupan secara paksa gereja-gereja di beberapa tempat di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam garis keras.

Tapi, ketika lagi asyik membaca, mata saya tertumbuk pada kalimat berikut: “Namun, maaf, di sini pemerintah harus memilih, mau berketuhanan atau komunis? Melarang umat beribadat, lazimnya dianggap sebagai kekhasan negara-negara komunis.”

Ah, Rm sedang bercanda saya pikir. Tapi, kalau bercanda kenapa harus mengeluarkan kata-kata yang tidak benar? Kali ini, Rm menurut saya tidak lagi bijak bestari, ia telah mengumbar prasangka. Dan prasangka itu, di tangan seorang filsuf yang otoritatif dan dihormati tampak sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Ini jelas sangat berbahaya dan ini menggerakkan jari saya untuk menuliskan tanggapan.

Ada dua soal di sini. Pertama, benarkah para penggagas Marxisme, seperti Karl Marx, Frederick Engels dan Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin, adalah pengobar perang terhadap agama? Jelas memang mereka tidak percaya pada solusi-solusi keagamaan untuk memberantas ketidakadilan yang disebabkan oleh kapitalisme. Tetapi, apakah dengan demikian mereka juga panglima pasukan dalam perang melawan “tentara Allah?”

Soal kedua, isu pelarangan agama oleh negara Komunis, katakanlah bekas Uni Sovyet, sebenarnya tidak terjadi. Dalam konstitusi negara itu, tidak ada satu pasal pun yang secara tegas menyatakan bahwa negara melarang rakyat untuk memeluk atau mengekspresikan keyakinan keagamaannya. Demikian juga di Nicaragua, di bawah kepemimpinan rejim Sandinista, beberapa pastor Katolik malah terlibat dalam urusan pemerintahan. Kuba, sebuah negara sosialis yang ada saat ini, juga tidak mencantumkan dalam konstitusinya larangan bagi rakyatnya untuk beragama.

Sebaliknya, di Indonesia negara hanya mengakui keberadaan lima agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha). Di luar kelima agama tersebut adalah bertentangan dengan konstitusi, padahal kita tahu ada begitu banyak pemeluk Kong Hu Cu, juga masih banyak yang memeluk keyakinan tradisionalnya, seperti masyarakat adat di Kalimantan dan Papua. Ini jelas melanggar hak asasi manusia. Perancis, sebagai negara sekuler yang bukan Komunis, melarang umat muslim di negara itu untuk mengenakan jilbab di depan umum. Padahal, bagi sebagian umat Islam, jilbab bukan sekadar simbol keislaman tapi, merupakan bagian dari ibadah. Ini juga jelas melanggar hak asasi manusia.

Namun demikian, artikel ini akan fokus pada gagasan dasar para penggagas Marxisme tentang pandangan mereka mengenai hubungan agama dan sosialisme. Sejauh bacaan saya, para penggagas Marxisme dan Sosialisme, tidak pernah mengobarkan perang agama. Yang mereka kobarkan adalah perang kelas, pertempuran antara kelas proletariat (kelas pekerja) melawan kelas borjuasi. Agama di tangan kedua kelas ini memiliki fungsi yang berbeda: di tangan borjuasi, agama menjadi alat untuk meninabobokkan rakyat agar percaya bahwa ketidakadilan yang terjadi merupakan hukum Tuhan, “sunnatullah.” Ibarat siang dan malam, panas dan dingin, baik dan buruk. Maka terimalah, jalanilah dengan benar, bekerjalah dengan keras dan sabar siapa tahu kelak yang di bawah akan naik kelas dan yang di atas malah turun kelas. Inilah pangkal kata-kata Marx yang paling disalahtafsirkan “Agama adalah candu masyarakat.”

Image hosted by Photobucket.com

Sementara di kalangan proletariat atau kelas pekerja, agama bermakna pembebasan (liberation). Para nabi, seperti kata Ali Syariati, tidak hanya seorang pendakwah tapi, juga seorang liberator (pembebas). Bagi kalangan ini, agama menjadi mata air inspirasi yang tak pernah kering, bahwa sejak semula manusia diciptakan sama tapi, oleh proses sosial-politik-budaya-ekonomi, kesamaan itu dicampakkan. Manusia kemudian menjadi terbelah-belah, bukan oleh kehendak Tuhan. Dalam Islam disebutkan, “semua orang di hadapan Allah adalah sama kecuali yang paling bertakwa.” Dalam sebuah doanya yang terkenal, Nabi Muhammad SAW pernah berkata: “Ya Allah, sekiranya nanti aku dibangkitkan di Padang Masyhar, maka bangkitkanlah aku di tengah-tengah orang miskin.”

Para penggagas Marxisme sangat menyadari dua fungsi agama ini. Karena itu, mereka melangkah lebih jauh dari sekedar berkutat pada persoalan keagamaan. Marx sebagai contoh, bukanlah orang yang serius terhadap masalah-masalah keagamaan. Karena "Di negeri Jerman," tulisnya, "kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap." Artinya, kritik tersebut sudah diselesaikan oleh kaum filosof yang mendahului Marx (kaum "Hegelian Muda" dan terutama Ludwig von Feuerbach). Marx merangkum kritik mereka sebagai berikut:

"Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri."

Berpijak dari sini, Marx lantas beralih pada persoalan sosial yang merupakan perhatian utamanya. Walaupun ia setuju pada kritik para filsuf Jerman tersebut, tapi ia mengatakan bahwa agama memiliki segi-segi yang agung. Bahwa agama, sebagai refleksi dari ketimpangan sosial yang ada, merupakan protes terhadap ketimpangan dan eksploitasi tersebut. Dengan meletakkan makna keagamaan dalam konteks kehidupan sosial yang nyata, Marx menutup teksnya dengan menghimbau agar kaum filosof meninggalkan kritik terhadap agama demi memperjuangkan perubahan sosial:

"Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas pertama bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata; kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik."

Bagaimana pandangan Lenin, yang sukses mewujudkan negara sosialis pertama di dunia, terhadap agama? Dalam artikelnya yang bertajuk “Socialism and Religion,” Lenin menulis dengan singkat dan padat bagaimana agama di Rusia yang otoriter di bawah kepemimpinan Tsar menjadi alat untuk memandulkan kesadaran massa atas penindasan yang dialaminya. Bagi Lenin, peran agama yang seperti itu terjadi karena agama berkait erat dengan kekuasaan politik, para pendeta berselingkuh dengan Tsar. Karena itu, dengan tegas Lenin mengatakan, “Religion must be declared a private affair/Agama harus dinyatakan sebagai masalah pribadi.” Dengan pernyataan ini, menurut Lenin, kaum sosialis tetap bisa mengekspresikan penghayatan keagamaan mereka.

Memang kemudian, Lenin dengan tegas mengatakan bahwa agama harus terpisah dari politik atau dari negara. Agama biarlah menjadi urusan individu yang tak boleh bercampurbaur dengan politik yang berurusan dengan kepentingan publik. Inilah kata Kata Lenin yang saya kutipkan agak panjang:

“Religion must be of no concern to the state, and religious societies must have no connection with governmental authority. Everyone must be absolutely free to profess any religion he pleases, or no religion whatever, i.e., to be an atheist, which every socialist is, as a rule. Discrimination among citizens on account of their religious convictions is wholly intolerable.”

§ 9 Responses to Sosialisme Dan Agama

  • aquino mengatakan:

    Saya pikir ROmo Magnis sudah tepat menggunakankalimat itu, krn ia memakai kalimat yg mudah dikenali oleh orang-orang yg ia hendak tuju dalam artikel tersebut. Orang-orang tsb menganggap bhw negara komunis tdk mengakui Tuhan dan menyulitkan ibadah. Si romo sekedar “membahasakan” pola pikir mereka.

  • anick mengatakan:

    Setuju Bung Coen. Ada kesalahan mendasar pada pandangan Magnis soal ini.

    Aku lebih setuju lagi jika Coen mengirimkan tulisan ini di Kompas, agar menjadi perdebatan publik. Menurutku pandangan Magnis ini agak berbahaya.

  • Anonymous mengatakan:

    Saya setuju dengan tulisan ini. Romo Magnis mungkin ingin menyimpelkan masalah, cara yang agak sembrono untuk mendidik rakyat Indonesia yang sudah dari sananya senang main simplifikasi. “Membahasakan” pola pikir orang-orang tidak berarti membodohi. Dalam hal ini, komentar dan perkataan Romo Magnis sungguh saya sayangkan.

    regards,
    M. Bagas

  • Anonymous mengatakan:

    betul bung coen
    saya setuju dengan pendapat anick..
    bung coen seharusnya mengirimkan tulisan ini di media cetak (kompas) biar lebih banyak lagi yang membaca, kalo disini kan terbatas, tidak semua orang tau ada tulisan ini….

  • Rony Zakaria mengatakan:

    saya setuju dengan pendapat Bang coen. Mungkin memang sepertinya romo Magnis ingin membuat gampang suatu penjelasan dengan menyebut kata komunis itu.

    Karena memang dari masyarakat sendiri yang hanya belajar sejarah di sekolah komunis sudah identik dengan atheis. Kalimat yang diucapkan Romo Magnis semakin menguatkan pandangan tersebut.

  • Tuah mengatakan:

    “Agama di tangan kedua kelas ini memiliki fungsi yang berbeda: di tangan borjuasi, agama menjadi alat untuk meninabobokkan rakyat agar percaya bahwa ketidakadilan yang terjadi merupakan hukum Tuhan. Sementara di kalangan proletariat atau kelas pekerja, agama bermakna pembebasan (liberation)”.

    Bos, saya percaya Romo Magnis telah secara sadar menyatakan bahwa dia adalah bagian dari mereka yang menjadikan agama sebagai alat untuk meninabobokkan rakyat…

  • Anonymous mengatakan:

    Saya very – very se-7 dengan sdr Coen….. memang begitu adanya. But, sa pikir Rm. Magniz menggunakan kalimatnya dalam “bahasa” kebanyakan. Tulisan itu di-7 kan buat mereka yg selalu mengklaim diri anti komunis, sehingga di-cap balik… “e…lu katanya anti komunis koq…. melarang agama??”… gitu kali ye… bahasa lainnya….
    Gak tau deh… yg jelas aku se-7 banget ame bang Coen, n se-7 juga adanya kebebasan beragama di Indonesia ini.

  • tango mengatakan:

    yup…..,yup….,yup…..!!!! setuju sekale sama RM. lantas ungkapan apalagi yang lebih pas untuk menggambarkan kejamnya penindasan terhadap kebebasan beragama, hhhaaaaaaah……….?????

  • munawar mengatakan:

    agama nggak bisa dipisahkan dengan manusia, karena agama identik dengan nilai ketuhanan, apaun bentuk cara maupun ritualnya, bukan negara membatasi, maupun menghilangkannya dari kehidupan rakyatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sosialisme Dan Agama at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: