Evo Morales

Desember 22, 2005 § 6 Komentar

Para aktivis gerakan sosial, khususnya yang bergerak di sektor sumberdaya air, sedikit banyak pasti pernah mendengar dua kata ini: Cocachamba dan Cocaleros. Cocachamba adalah sebuah tempat di Bolivia, yang menjadi pusat perlawanan terhadap kebijakan privatisasi air yang digelar rejim neoliberal negeri itu. Sedangkan Cocaleros adalah sebutan bagi para penduduk asli suku Indian, yang umumnya adalah petani coca. Mereka adalah aktor utama dari perlawanan terhadap kebijakan yang didiktekan oleh Bank Dunia dan IMF. Cocachamba dan Cocaleros, telah menjadi salah satu ikon bagi perjuangan rakyat di seluruh dunia dalam melawan kebijakan neoliberal.

Tetapi, di samping dua kata itu, muncul nama lain yang bersinar terang di langit Bolivia. Dialah Juan Evo Morales Aima, yang oleh pendukungnya cukup disapa Evo. Lelaki kelahiran 26 Oktober 1959 di Aymara, Bolivia, adalah anak suku Indian pertama yang menjadi presiden di salah satu negeri termiskin di Amerika Latin. Dengan berkendara Partai Gerakan Menuju Sosialisme (Movement Toward Socialism/MAS), pada 22 Desember lalu, Evo ditahbiskan sebagai pemenang pemilu Bolivia. Jumlah suara yang diperolehnya mencapai 53,899 persen. Jumlah ini melampaui angka perolehan suara yang diraih oleh Jorge Tuto Quiroga, mantan wakil presiden di bawah diktator Hugo Bánzer, dan Samuel Doria Medina, salah satu orang terkaya di negeri itu. Dengan peorlehan suara mayoritas, Evo dipastikan tak membutuhkan lagi pemungutan suara di Kongres untuk mengesahkannya sebagai presiden Bolivia berikutnya.

Apa sebenarnya yang menarik dari kemenangan Evo Morales ini? Bukankah pemilu adalah sebuah peristiwa biasa, sebuah proses yang wajar dari sebuah negara yang menganut sistem politik demokrasi? Menariknya, justru muncul dalam sosok Evo sendiri dan sejarah perjuangan rakyat Bolivia keseluruhan. Sejarah panjang dalam menentang kolonialisme, neoliberalisme dan campur tangan pemerintah AS yang sangat besar di negeri itu. Sejarah rakyat yang terpinggirkan akibat dogma kemaslahatan pasar bebas. Evo adalah salah satu figur yang berada di garis depan perlawanan itu. Ia tidak saja menyuarakan kepentingan masyarakat adat Indian yang merupakan populasi terbesar penduduk Bolivia tapi, juga terlibat aktif dalam mengorganisir, menggerakkan, dan memimpin perlawanan rakyat tersebut.

Sebelum terjun dalam arena perjuangan elektoral, Evo Morales adalah anggota dari gerilya bersenjata Tupac Katari, pada tahun 1990an. Keterlibatannya itu, mengantarkan dirinya ke penjara selama lima tahun. Selepas masa kurungan, sosok Evo tampil sebagai figur pembela kepentingan masyarakat adat Indian yang paling konsisten, khususnya dari suku terbesar Quecha dan Aymara. Pada saat yang sama, Bolivia menjadi target utama bagi penerapan kebijakan neoliberal, seperti privatisasi sektor air dan pertambangan, dan pemotongan anggaran untuk publik. Akibat dari kebijakan neoliberal ini, kesenjangan sosial semakin melebar, tingkat kesejahteraan hidup penduduk asli Indian semakin rendah, dimana menurut laporan Bank Dunia pada 2004, 74 persen masyarakat adat Bolivia hidup di bawah garis kemiskinan.

"Hampir dua per tiga masyarakat Indian adalah miskin di antara 50 persen penduduk termiskin. Jika distribusi berjalan sempurna, masyarakat adat Bolivia harus menerima pendapatan dua kali lipat lebih banyak di banding penduduk yang bukan masyarakat adat. Hanya dengan cara itu, mereka bisa tercerabut dari kemiskinannya," demikian tulis laporan itu.

Kebijakan neoliberal ini, berjalan beriringan dengan kepentingan pemerintah AS untuk menancapkan kukunya di kawasan Andean, dimana Bolivia menjadi batu loncatannya. Di negeri itu, Amerika mengampanyekan perang melawan narkotika. Itu artinya perang melawan masyarakat adat Indian, yang sebagian besar secara tradisional merupakan petani koka. Perang melawan kokain itu diwujudkan dengan dibentuknya satuan polisi khusus yang menangani perang melawan kokain ini. Tetapi, di balik kampanye bersenjata ini, tersembunyi kepentingan bisnis yang luar biasa besar yakni, menguasai sumberdaya alam terutama pertambangan, gas dan air. Itu sebabnya, walaupun ada operasi militer besar-besaran, produksi kokain di Bolivia kian meningkat dari tahun ke tahun. Ironi ini terus berjalan dari tahun ke tahun.

Sejarah panjang perjuangan, kemiskinan dan diskriminasi masyarakat adat, serta kepungan neoliberalism dan hegemoni AS, tidak menyurutkan langkah Evo Morales untuk terlibat dalam perjuangan rakyat. Ia bahkan tampil sebagai pemersatu gerakan sosial yang terkotak-kotak. MAS sendiri bukanlah sebuah partai politik yang solid dan terstruktur kuat. Ia lebih merupakan koalisi dari berbagai gerakan sosial, mulai dari gerakan tani, gerakan buruh hingga yang terkuat, gerakan masyarakat adat. Koalisi gerakan sosial dipandang sebagai metode terbaik untuk menghadapi gempuran neoliberalisme yang menghancurkan seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dari sisi ini, tidak dikenal adanya kekuatan pelopor yang khusus, karena semuanya adalah pelopor. Mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama yang tercermin dalam platform MAS: nasionalisasi industri-industri strategis; pengurangan harga dan pembekuan harga barang-barang rumah tangga; penyediaan pelayanan dasar bagi semua; pembelaan terhadap pendidikan dan kesehatan gratis bagi publik; peningkatan pajak bagi kaum kaya; penghapusan korupsi; redistribusi lahan kerja; aparatus politik yang baru; penghapusan kebijakan ekonomi neoliberal; dan penentangan terhadap tenaga kerja "fleksibel."

Demikianlah, peranannya sebagai organiser, penggerak, dan pemimpin gerakan rakyat menjadikan Evo sebagai musuh nomor satu pemerintah AS. Ia dituduh sebagai seorang "narco-teroris," dan merupakan "ancaman bagi stabilitas" di kawasan itu. Mantan duta besar AS di Bolivia, Manuel Rocha, dalam pemilu presiden 2002, pernah mengancam rakyat Bolivia agar tidak memilih Evo, yang disebutnya sebagai “narco-cocaine producer” and “instrument” dari Hugo Chavez dan Fidel Castro. Jika rakyat tetap memilih Evo, maka pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya kepada Bolivia ("I want to remind the Bolivian electorate that if you elect those who want Bolivia to become a major cocaine exporter again, this will endanger the future of U.S. assistance to Bolivia"). Hasilnya, dalam pemilu tahun itu, Evo hanya menempati posisi kedua.

Di sisi sebaliknya, Evo adalah perlambang dari sebuah masyarakat adat yang terpinggirkan, terisolasi dan terdiskriminasi. Ia adalah tokoh yang diharapkan bisa mengatasi kemiskinan dan marginalisasi masyarakat adat yang merupakan mayoritas.Dalam bahasa Luis Macas, presiden dari Confederation of Indigenous Nationalities of Ecuador (CONAIE), sebuah organisasi gerakan sosial yang paling kuat, kemenangan Morales merupakan peristiwa sejarah yang belum pernah terjadi sejak negeri itu merdeka dari penjajahan Spanyol sebad lalu. Kemenangan Evo bukan hanya kemenangan rakyat Bolivia tapi, juga kemenangan seluruh wilayah Amerika Latin. Ungkapan senada dilontarkan oleh Rigoberto Menchú, seorang aktivis suku Indian Mayan, penerima hadiah nobel perdamaian pada 1992. Baginya, kemenangan Morales merupakan angin segar bagi penduduk asli , bahwa kemenangan Morales "merupakan sebuah preseden penting bagi perjuangan sosial di seluruh wilayah." Tetapi Menchú mengingatkan, tugas yang dihadapi Evo sangatlah kompleks dan ribet.

"Karena ia akan memimpin sebuah negeri dimana rasisme dan diskriminasi telah begitu dalam berakar, disamping masalah-masalah ekonomi yang serius, kemiskinan dan pembelahan sosial dan politik."

§ 6 Responses to Evo Morales

  • Dominggus mengatakan:

    Kawan-kawan yang baik,

    Perkembangan di Amerika Latin memang sesuatu yang menggembirakan bagi gerakan rakyat menghadapi serangan neoliberal di seluruh dunia. Hal tersebut tidak lepas dari dinamisnya situasi gerakan di region tersebut, dengan segala tendensi ideologi – politik dan metode perjuangannya.

    Ada hal yang perlu saya komentari, sebagai
    lanjutan–dari tulisan kawan lama saya Coen Husein
    Pontoh.

    Pertama, bahwa gerakan sosial (Social Movement) memang mengambil peran penting bagi kemenangan Evo Morales. Peran penting ini berhasil dicapai setelah mengalami sekian banyak hambatan dalam perjuangan sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh James Petras ketika
    menganalisa situasi di Amerika Latin di tahun 2003.
    Petras menyatakan bahwa Gerakan Sosial di Amerika
    Latin telah berperan besar mengekspresikan apa yang menjadi keresahan dan tuntutan rakyat.

    Namun ada problem yang harus dijawab, yaitu; (1) Masih terpecah-pecahnya gerakan sosial yang ada; (2) kecenderungan defensif dari pola gerakan tersebut, tanpa upaya ofensif ke lapangan politik. Atau dalam bahasa lain, masuk dan bertarung dengan program-program politik yang kongkrit melawan kekuatan-kekuatan neoliberal.

    Persatuan di kalangan Social Movement di Bolivia baru berhasil dicapai (bila tak salah datanya) pada tanggal 10 Maret 2005, yang berhasil menghimpun sekitar seratus representasi gerakan sosial di Bolivia,
    termasuk Eva Morales–yang mewakili Partainya, Gerakan Untuk Sosialisme. Pertemuan di auditorium sebuah Federasi Serikat Buruh ini untuk menghadapi koalisi partai-partai yang berkuasa di pemerintahan Bolivia.

    Menurut hemat saya, ini adalah jawaban terhadap
    tantangan obyektif yang diungkapkan oleh Petras
    beberapa tahun sebelumnya (Petras sendiri sudah sering mengungkapkan kritik terhadap Social Movement di Amerika Latin, karena tidak masuk ke dalam kancah politik praktis).

    Kedua, kemenangan Evo Morales sendiri masih harus diuji dalam praktis pemerintahannya. Sejauh mana program-program demokratik/sosialis dapat diterapkan sebagai sintesa dari kebingungan penganut neoliberal dan penganut konsep jalan tengah. Chavez di Venezuela
    harus menghadapi sejumlah persoalan ketika berusaha melawan konsep neoliberal, mulai dari ancaman embargo, sampai dengan percobaan kudeta. Peran dari para aktivis (yang menjadi pelopor) dalam pembangunan struktur rakyat (Bolivarian Cirles) menjadi sangat penting dalam proses ini. Oleh karena itu, sebuah pengorganisasian rakyat yang kuat dibutuhkan sebagai penyangga politik bagi program-program demokratik tersebut.

    Pembentukan Partai Politik oleh unsur-unsur Gerakan Sosial, serta persatuan yang berhasil dicapai adalah sebuah langkah kepeloporan, yang nantinya berfungsi menyangga berjalannya program-program demokratik/sosialis.

    Situasi gerakan di Amerika Latin memang satu (atau
    beberapa) langkah lebih maju dari yang ada di
    Indonesia. Keinginan untuk masuk ke dalam kancah
    politik masih terbatas pada sedikit unsur gerakan
    sosial–yang direpresentasikan oleh sebagian NGO.
    Meskipun masih terbatas, munculnya keinginan tersebut adalah kemajuan yang patut diberi penghargaan.

    Demikian sedikit komentar dari saya.

    Salam terbaik,
    Dominggus

    Di bawah ini ada sebuah kutipan kalimat dari James
    Petras, pada artikel yang berjudul: “Present Situation
    in Latin America.”

    “The social movements face a contradiction between
    mass independent direct action and links to bourgeois electoral parties. This contradiction can be resolved not by turning away from politics, or political instruments or even electoral parties but by building a mass political instrument controlled and directed by and subordinated to the social movements.”

  • Coen Husain Pontoh mengatakan:

    Kw Domi yang baik,
    Terima kasih atas komentarnya. Setahu saya, apa yang terjadi di Venezuela dan Bolivia ini, merupakan jawaban atas kritik Petras tersebut. Kritik Petras itu, saya kira lebih relevan untuk memotret kondisi gerakan sosial di Indonesia.

    Tapi, saya setuju bahwa kita masih harus menunggu apa jadinya Morales setelah berkuasa. Apakah menjadi seperti Hugo Chavez yang konsisten dengan program sosialisme Bolivariannya atau menjadi seperti Lula yang bergerak dari kiri-tengah ke kanan-tengah.

    Salam,
    -C

  • ~fitri~ mengatakan:

    mas coen, met taun baru yaa!

  • Anonymous mengatakan:

    Bung Coen dan kawan-kawan,

    Sambil membaca artikel ini, saya ingin mengucapkan: Selamat Tahun Baru 2006!
    Selamat bekerja dan selamat berjuang!

    HG

  • mbok sekretaris mengatakan:

    wah, kapan indonesia pya pemimpin yg berakar dr rakyat ya? *berharap… atau bermimpi? :p*

  • subcomandante mengatakan:

    gerakan sosial yang dibangun oleh Evo melalui proses yang tidak pendek, panjang dan melalui proses pendidikan yang masif pada kelompok tertindas, yaitu masyarakat adat.

    Berkaca pada Bolivia, bagi Indonesia untuk menuju pada gerakan sosial terasa masih sangat jauh. Pertama, kelompok yang menyatakan dirinya bagian dari gerakan sosial belum bisa secara jelas, tegas, dan jernih untuk membedakan mana neoliberalisme dan mana perlawanan pada neoliberalisme. Lihat saja term-term dan agenda yang mereka bawa, seperti civil society, good governance, partisipasi warga, “demokrasi”, dll. Bahkan mereka sendiri bagian dari kerja neoliberalisme.

    Kedua, kelompok yang menyatakan bahwa dirinya kelompok gerakan sosial belum terlihat secara kongkret dukungannya pada gerakan rakyat atau ormas baik itu buruh tani ataupun buruh. Mereka seolah-olah setelah pandai mengulas dan menganalisis mengenai gerakan sosial lalu berharap tiba-tiba bisa memimpin gerakan sosial itu. Padahal gerakan sosial itu adalah output dari kerja politik. Kerja politik itu hanya mungkin terjadi bila rakyat secara kolektif bergerak secara sadar. Di Indonesia banyak orang bicara mengenai gerakan sosial tetapi mereka sendiri tidak mau terlibat/ involved dalam gerakan rakyat.

    Ketiga, berkaitan dengan poin yang nomer dua, selain aksi perlawanan harus ada implementasi alternatif secara kongkret. Ini untuk menunjukan bahwa kelompok sosial tidak hanya berwacana saja, tetapi juga menghasilkan kerja kongkret. Menyatakan diri anti pada neoliberalisme sambil mencerca minuman cocacola, tetapi justru dia sendiri minum cocacola dan tidak membuat alternatifnya adalah mengawang-awang saja.

    Keempat, benar Evo sudah memeluk kekuasaan secara legal di Bolivia, tetapi sukses tidaknya dia tetap berada pada titik kuat tidaknya dia memperkuat gerakan rakyat. Sekali lagi kekuatan politik yang sebenarnya bukan pada lembaga kekuasaan formal (memang lembaga formal memberikan legitimasi yuridis), tetapi tetap kekuatan rakyat yang teroganisir yang sesungguhnya menjadi kekuatan politik riil.

    Feliz Anos Nuevo y La Lucha Continua
    subcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Evo Morales at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: