NOB

Desember 30, 2005 § 3 Komentar

SETURUT tepilihnya SBY-JK dengan suara mayoritas, saya menulis, inilah pemerintahan dimana oligarki semakin terkonsolidasi. Pada masa pemerintahan Habibie, Gus Dur atau Megawati, kekuatan oligarki sempat terpecah-belah ke dalam berbagai faksi, terancam oleh kekuatan prodemokrasi yang masih solid, dan belum memperoleh dukungan penuh dari kapitalis internasional.

Tetapi, kini faksi-faksi dalam oligarki itu semakin mendekat satu sama lain. Karena keberpihakan dan ketundukannya pada rejim kapitalis-neoliberal semakin tampak, maka dukungan internasional pada rejim ini terasa kuat. Apalagi, kampanye perang melawan terorisme global, membuat dukungan internasional, khususnya Amerika Serikat, semakin memberi darah segar bagi kelangsungan pemerintahan SBY-JK. Tinggal kelompok prodem yang kini masih tercerai-berai.

Dengan kian terkonsolidasikannya rejim SBY-JK, maka perilaku yang biasanya merupakan ciri khas Negara Orde Baru (NOB) pelan tapi pasti muncul kembali. Indikasinya bisa dilihat pada penegakan hukum yang diskriminatif (seperti dalam kasus pembunuhan Munir), keinginan untuk memata-matai kelompok masyarakat tertentu (misalnya komunitas pesantren yang dituduh menjadi sarang teroris), rencana pelarangan buku-buku tertentu (misalnya buku Imam Samudra), hingga keinginan untuk membelenggu kembali kebebasan pers (seperti yang tampak dalam UU Kebebasan Pers yang baru ditandatangani oleh Presiden).

Pertanyaannya, setelah lebih dari tujuh tahun reformasi, mengapa watak dan perilaku NOB tersebut kembali muncul? Seorang kawan mengingatkan saya, pertanyaannya justru: apa iya NOB telah benar-benar bubrah? Saya agak terperanjat dengan pertanyaan ini, karena selama ini saya berpikir bahwa kini saatnya untuk mengonsolidasikan demokrasi. Artinya, NOB telah menjadi masa lalu yang tak layak dikenangkan. Ternyata, NOB tak pernah berlalu, jejaknya tetap membekas, ia tetap eksis dan perlahan-lahan makin berotot. Ibarat kesebelasan sepakbola, NOB hanya berganti kostum dan taktik bermain ketika menghadapi level pertandingan tertentu.

Dari sini saya kembali memutar ingatan, menelisik kembali sosok NOB yang begitu digdaya. Sejauh bacaan saya, sebagian orang percaya bahwa esensi NOB adalah korupsi. Sebagian lainnya percaya bahwa esensi NOB adalah wataknya yang sentralistik. Sebagian lainnya lagi percaya bahwa esensinya adalah militerisme. Saya sendiri berpendapat, esensi NOB ada dua: pertama, militerisme; dan kedua, kapitalisme. Keduanya berjalin-berkelindan membentuk dan memperkuat bangunan NOB. Jika rejim Orde Lama kita ibaratkan sebagai daerah terisolasi, maka NOB adalah orang yang bersemangat membuka daerah terisolasi itu agar terhubung dengan dunia luar yang lebih maju dan modern. Untuk itu hal pertama yang dilakukan NOB adalah menurunkan buldoser yang tugasnya menyingkirkan segala macam rintangan di depan mata. Buldoser itu adalah militer atau TNI, yang telah meluluhlantakkan bangunan kekuasaan Orla tanpa perikemanusiaan.

Setelah segala rintangan teratasi, jalan raya terbuka lebar dan mulus, lalulintas perniagaan pun menjadi lancar. Bangunan-bangunan angker berdiri di sepanjang jalan, mobil-mobil mewah berseliweran, dan orang-orang berdasi yang merupakan simbol kemoderenan semakin menjadi impian. Kapitalisme di Indonesia, khususnya di masa Orba, memang datang atau diundang tanpa harus bersusah-payah memperjuangkan hak-haknya secara demokratis dan konsisten. Itulah sebabnya, adalah musykil bicara demokrasi di kalangan ini, walaupun mereka bersusah-payah mengidentikkan dirinya dengan kalangan borjuasi Eropa jaman pertengahan yang melahirkan slogan liberte, egalite, fraternite.

Sementara, lebih dari sekadar buldoser yang cuma sebuah mesin tak berjiwa, TNI adalah buldoser yang penuh ambisi. Lembaga ini tak sudi sekadar pembuka jalan atau pemadam kebakaran, ia juga ingin ikut menikmati kekayaan yang dikandung oleh daerah terisolasi. Maka mereka pun turut berbisnis, baik secara kelembagaan, personal, atau dengan menggunakan tangan pihak ketiga. Dan sebagian besar bisnis mereka memang berkait-berkelindan dengan para kapitalis yang tak berkomitmen kuat pada demokrasi. Para akademisi bilang, rejim Orba adalah rejim pemburu rente. Si pemanggul senapan telah membuka lapangan permainan, sehingga siapapun boleh bermain asal membayar upeti dan tidak mengganggu-gugat hak kepemilikan. Sementara, para pemain tak perlu bersusah-payah membabat belukar asalkan tak ada yang mengganggu permainannya.

Jadi, klop sudah.***

§ 3 Responses to NOB

  • Anonymous mengatakan:

    Kenapa kapitalisme selalu jadi masalaha yaa? Meski, dalam konsisi sosial-ekonomi sederhana, saya kerap sepakat dengan buruknya ketidakadilan oleh kapitalisme, tapi saya tak bisa menghindar bahwa urusan dapur keluarga, pendidikan anak-anak, pekerjaan di kampus, kerap membutuhkan kapital. Sampai, ketika ongkos belajar mahasiswa di kampus ternyata terkait dengan gaji bulanan dosen, saya pun harus berhadapan dengan kenyataan “kapital” umat Islam yang konon masih dhuafa.
    Jadi, apa kapitalisme itu musuh atau kawan?

    septi (santanakurnia@yahoo.com)

  • Coen Husain Pontoh mengatakan:

    Mas Septi yang baik,
    Selamat baku dapa. hehehe

    Mas, setahu saya, kapitalisme itu bukan sekadar soal uang atau materi. Memang kapitalisme menyebabkan uang menempati posisi teratas dalam pergaulan antar-masyarakat.

    Tetapi, lebih dari itu, kapitalisme adalah sebuah moda produksi atau sebuah cara produksi masyarakat, yang membagi masyarakat ke dalam dua kelas. Dalam terminologi Marxisme, kapitalisme telah menyebabkan pembagian kelas yang telah ada semenjak jaman perbudakan menjadi semakin sederhana: borjuis dan proletar. Atau antara mereka yang memiliki alat produksi dengan mereka yang menjual tenaga kerjanya kepada pemilik alat produksi.

    Di samping itu, kapitalisme telah menjuruskan seluruh niat dan tujuan berproduksi pada kepentingan pasar. Dengan kata lain, pasar menjadi sumber dan tujuan utama interaksi dalam masyarakat. Kata DR Herry Priyono, pasar telah berubah dari sekadar tempat pertukaran menjadi timbangan kebaikan dan keburukan. Menguntungkan pasar adalah baik, sebaliknya adalah buruk. Kasus majalah Pantau adalah contoh kecilnya. Hampir seluruh pembaca Pantau merasakan penting dan bermanfaatnya majalah seperti Pantau. Tetapi, pasar memutuskan lain. Pantau tidak layak secara finansial dan ekonomis, maka harus dimatikan.

    Dalam konteks ini, maka ketika mas menyatakan apakah kapitalisme itu musuh atau kawan, saya kira jawabannya adalah musuh.

  • Anonymous mengatakan:

    setuju dengan pak coen, kapitalisme tidak bisa semata-mata diidentikkan dengan soa materi. saya menangkap tulisan pak coen lebih ke soal sistem politik yang terjadi.

    mengenai NOB, saya rasa apa yang pak coen katakan benar adanya. kita sedang mengulang kembali apa yang dulu pernah kita alami. bedanya, yang sekarang lebih parah dari segi apapun.

    saya rasa para pemimpin kita sendiri tidak tahu harus memulai dari mana untuk memulai indonesia yang baru.

    lindiana fasti, jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading NOB at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: