Kesadaran Sejarah

Januari 4, 2006 § 4 Komentar

BEBERAPA tahun lalu, ketika suhu gerakan sosial masih panas mendidih, timbul pertanyaan: bagaimana membangun gerakan yang kuat dan besar? Ada kesadaran bahwa gerakan saat itu, besar karena faktor momentum dan itu tidak akan berlangsung lama. Setelah periode gelombang pasang akan datang masa surut. Orang-orang akan kembali pada pekerjaan semula. Yang mahasiswa akan kembali kuliah, yang bekerja akan kembali pada pekerjaannya. Yang tersisa adalah sebuah ingatan kolektif, pengalaman kolektif akan sebuah gerakan bersama. Yang tinggal adalah mereka yang menjadikan pembangunan gerakan sebagai pekerjaannya.

Dalam masa surut itu, terbukti masalah tidak turut usai. Bahkan masalah baru terus bermunculan, dengan kualitas-kualitas yang berbeda yang menuntut penyikapan berbeda pula. Jika di masa kejayaan Soeharto yang terpenting adalah berani bersuara keras dan berani tampil ke depan, kini harus ditambah dengan program yang konkret, organisasi yang berkualitas dan menjangkau lapisan yang lebih luas. Pada sisi ini, gerakan sosial kehilangan momentumnya. Masa surut ini rupanya diikuti dengan meredupnya peran gerakan sosial sebagai garda depan transformasi sosial. Masa surut ini justru dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan lama dan baru, yang mesti diakui lebih siap bertempur di lapangan.

Mengapa gerakan sosial seperti ketinggalan kereta pembaruan? Atau ide-ide pembaruannya dibajak dan dibelokkan misinya oleh oligarki. Ada banyak jawabannya. Boleh jadi akan ada sanggahan, siapa bilang gerakan sosial ketinggalan kereta? Berpijak pada temuan riset Demos, sebenarnya ada banyak sekali gerakan sosial di Indonesia, tersebar dalam beragam sektor, dengan aktivis-aktivis yang jujur dan teguh pada idealismenya. Tetapi, menurut temuan itu, sebagian besar dari para demokrat itu berada dalam posisi mengambang (baca, demokrat mengambang), tak punya akar yang dalam di massa rakyat, sekaligus minim kaitannya pada pengambilan keputusan politik strategis. Ini artinya, secara organisasi gerakan sosial sangat lemah (banyak tapi kecil) dan tak punya pemimpin yang mampu mempengaruhi wacana publik. Padahal dua hal ini, organisasi yang besar dan menjangkau lapisan terluas serta adanya pemimpin yang mampu mempengaruhi wacana publik, merupakan syarat utama untuk bertarung dengan oligarki di ranah praktis.

Karena realitasnya demikian, salah satu jawaban untuk membesarkan gerakan adalah koalisi. Tetapi, belum terlihat adanya koalisi besar dan permanen yang dimaksudkan untuk melawan oligarki. Koalisinya lebih bersifat taktis atau lebih berdasarkan pada kasus-kasus tertentu. Kata teman saya, ini namanya koalisi setengah hati. Saya mungkin terlalu pesimis. Indonesia bukanlah Brazil, Argentina, Bolivia atau Korea Selatan, dimana koalisi besar dan permanen bisa terbentuk karena adanya gerakan sosial yang besar di sana. Di Brazil ada MST (Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra/Gerakan Kaum Tak Bertanah Pedesaan). Di Argentina ada Gerakan Buruh Pengangguran Perkotaan. Di Bolivia ada Cocaleros dan gerakan tani yang kuat. Di Korsel ada Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) yang besar dan sangat militan. Organisasi-organisasi ini, karena kualitas dan kuantitasnya, menjadi lokomotif gerbong koalisi yang kuat, yang tidak mudah goyah apalagi pecah oleh adanya friksi dalam soal taktik dan ideologi.

Indonesia saya kira mirip Venezuela. Di negeri kaya minyak itu, sebelum kemenangan Hugo Chavez pada pemilu 1999, gerakan sosialnya sangat banyak tapi juga sangat kecil dan lemah. Mereka terpecah-pecah ke dalam pelbagai kepentingan politik dan ekonomi, terutama bagaimana bisa mendapat akses sebesar-besarnya pada ekonomi minyak. Gerakan yang mencoba konsisten pada kepentingan rakyat, pasti terisolasi dengan sendirinya. Harap diingat, di Venezuela represi militer terhadap aktivis gerakan sosial tidak seganas rejim otoriter lain di kawasan Amerika Latin. Berbagai upaya untuk menyatukan gerakan, selalu menemui jalan buntu. Semakin persatuan dicari, semakin perpecahan yang terjadi.

Tetapi, sejarah memang tak pernah berhenti. Ketertindasan dan keterbelakangan akibat penerapan paket kebijakan neoliberal, adalah lahan subur bagi berkecambahnya anak-anak revolusi. Sosok itu hadir dalam tubuh Hugo Chavez. Dia bukan Ignacio “Lula” Da Silva atau Evo Morales, yang memiliki sejarah panjang dalam pembangunan gerakan sosial. Chavez adalah seorang kolonel Angkatan Darat Venezuela, tampil ke depan menjadi corong rakyat dalam perlawanannya terhadap kapitalisme-neoliberal. Dia muncul sebagai simbol pemersatu gerakan sosial di Venezuela. Sebaliknya, gerakan sosial menyadari, mereka harus mendukung Chavez karena inilah momentum untuk membangun koalisi besar melawan oligarki.

Terbukti, Chavez dan gerakan sosial di Venezuela sanggup mempertahankan kemenangan yang telah diraihnya. Ada simbiose-mutualisme dalam kasus ini. Kepemimpinan Chavez didukung secara kritis dan sebaliknya, Chavez memberi ruang yang sangat besar bagi pembangunan gerakan sosial. Inilah kesadaran sejarah yang membuahkan cerita manis.***

§ 4 Responses to Kesadaran Sejarah

  • Catur mengatakan:

    Atau mungkin pergerakan sosial di Indonesia membutuhkan figur diluar lingkatan pergerakan yang berfungis bukan hanya sebagai patron politik semata..tapi menjadi JUBIR (juru bibir) dari gerakan sosial yang ada.. MAsalahnya kemudian apakah Orang-orang pergerakan rela untuk di pimpin orang dari luar?? apakah ada orang dari luar yang memiliki visi yang sama dengan gerakan sosial yang ada di INdonesia….
    Salam Kenal mas..

  • Catur mengatakan:

    Atau mungkin pergerakan sosial di Indonesia membutuhkan figur diluar lingkatan pergerakan yang berfungis bukan hanya sebagai patron politik semata..tapi menjadi JUBIR (juru bibir) dari gerakan sosial yang ada.. MAsalahnya kemudian apakah Orang-orang pergerakan rela untuk di pimpin orang dari luar?? apakah ada orang dari luar yang memiliki visi yang sama dengan gerakan sosial yang ada di INdonesia….
    Salam Kenal mas..

  • Coen Husain Pontoh mengatakan:

    Hello mas Catur,
    Salam kenal juga

    Jawabannya saya kira sangat bergantung pada dinamika gerakan di Indonesia, dalam merespon gelombang kapitalisme-neoliberal plus militerisme. Pembacaan terhadap dinamika ini saya kira yang lebih penting. Yang saya istilahkan sebagai kesadaran sejarah.

    Kalangan pergerakan di Venezuela pun sebelumnya tak memperkirakan kehadiran Hugo Chavez di pentas politik, dan memang tak ada upaya-upaya serius untuk berkoalisi dengan militer sebagai lembaga. Karena, sama seperti di Indonesia, militer Venezuela sangat erat hubungannya dengan rejim kapitalis-neoliberal, terutama di kalangan para jenderalnya, lebih khusus lagi di kalangan angkatan laut.

  • Martin Manurung mengatakan:

    Coen, gue suka dengan artikel ini. Ya, instinctively, gw juga sudah merasakan hal itu. Dan gw rasa, kita memang harus ‘terbuka’ dengan figur-figur yang historically mungkin tidak berada di ‘barisan’ kita, tapi bisa bersuara progresif. Sebenarnya ketika membentuk PI, gw mencari figur-figur tsb. Dan kita membuka ruang yang cukup longgar bagi ‘mereka’ yang mungkin sebelumnya tidak di ‘kiri’ untuk bergabung. Sayangnya, banyak teman2 yang lebih senang ‘mencibir’ dan ‘menghakimi’ daripada ikut berperan. PI di-cap ‘elitis’. But hey! Ini pertandingan di ranah demokrasi liberal, bukan masa dulu lagi. Dalam demokrasi liberal, ‘elit’ dalam arti figur itu keharusan (ada buku bagus berjudul ‘In Defence of Elitism’, karangan William A. Henry III, yang menyindir demokrasi dengan jargon ‘egalitarianisme’-nya sebenarnya adalah upaya untuk mempertahankan elitisme). Catatannya, dalam membangun figur itu, kita juga harus ‘menyambung’kannya dengan gerakan sosial (kritiknya: emangnya gerakan sosial kita juga nggak elitis!! Kok mereka menuduh orang lain sebagai elitis!). Yang jelas, kita harus tetap membangun dan membangun, sampai saat datangnya mementum.–>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kesadaran Sejarah at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: