Bermain Tenis

Agustus 14, 2006 § 10 Komentar

Sejak dua minggu lalu, saya punya hobi baru: Bermain Tenis. Jangan banyangkan, saya bermain di stadion Flushing Meadows, yang hanya berjarak 15 menit, dari tempat saya tinggal jika menggunakan kereta api bawah tanah (subway). Flushing Meadows, terletak di daerah Flushing, adalah tempat dimana setiap tahunnya diselenggarakan kejuaraan tenis Amerika Terbuka.

Ide bermain tenis ini datang dari istri saya. Ketika itu, kami berdua hendak berbelanja ke supermarket Target. Kami berencana membeli rak buku dan topi pelindung panas. Buku sudah berserakan di mana-mana, sementara istri saya paling tak suka dengan yang namanya ketidakteraturan. Pada saat yang sama, New York sedang dilanda suhu panas tak terkira, melampaui 100 derajat Fahrenheit.

Ketika melewati taman, di daerah Elmhurst, tiba-tiba istri saya ketiban ide. “Mas, kenapa kamu nggak coba bermain tenis?” Yah, di taman itu, memang tersedia areal untuk bermain tenis, walaupun bukan lapangan tenis. Maksudnya, ada lapangan tempat orang bisa bermain tenis, dan di tengah lapangan itu, dibangun dinding beton yang cukup tinggi, yang berfungsi sebagai lawan. Jadi, kalau kita memukul bola, maka pantulannya akan sekuat bola yang kita pukul.

“Wah, seumur-umur aku nggak pernah bermain tenis.”

Permainan tenis memang sangat asing buat saya. Beda dengan tenis meja. Waktu masih di tingkat sekolah dasar, saya adalah juara kecamatan dalam olah raga ini, yang kemudian diutus untuk berlaga di tingkat kabupaten. Sayangnya kalah. Ketika menjadi penghuni penjara Kalisosok, Sidoarjo, Surabaya, antara tahun 1997-98, saya boleh bersombong ria, karena tak mendapat lawan tanding yang sepadan.

Olah raga lain yang akrab, bahkan menjadi keahlian lain saya, adalah sepak takraw. Ini permainan yang dilakukan oleh enam orang,  sambil menendang bola yang terbuat dari rotan. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang. Posisi saya dalam permainan ini, semacam striker dalam cabang sepakbola. Saya paling senang melakukan smash sambil berjumpalitan di udara.

Selain itu, bulutangkis dan terutama sepakbola, adalah kegemaran saya yang lain. Sejak mengenal Maradona, di usia tujuh tahun, saya selalu berminat terhadap olah raga terpopuler ini. Bersama sepakbola, badan ini sudah tak terhitung cacatnya: jatuh terinjak, terkilir, baku pukul di lapangan, hingga patah tulang kaki dan tangan.

“Gak masalah,” ujar istriku setengah memaksa. “Khan cuma untuk olahraga ringan,” tambahnya. “Nanti, sampai di Target, kita beli raket tenis ama bolanya, deh.”

Kalau istri sudah bicara, apalagi yang bisa menjadi argumentasi balik? Maka, ketika sampai di Target, malah yang dibeli bukannya rak buku, tapi raket dan bola tenis. Sejak itu, setiap akhir pekan, saya bersama istri bermain tenis bersama.

Bermain tenis, ternyata bukan permainan yang mudah. Bahkan sangat menguras tenaga. Semula, ketika memegang raket pertama kalinya, saya coba membayangkan diri sebagai Michael Chang, jawara tenis Amerika keturunan Cina. Setelah satu dua kali memukul bola dan berlari ke sana ke mari, saya akhirnya menghapus bayangan Chang dari pikiran saya.

“Makanya aku tak mau menganggap diriku sebagai Maria Sarapova,” ujar istriku sambil tertawa ngeledek.

Karena permainan ini dilakukan di ruang publik, maka rumus yang berlaku adalah “siapa cepat dia dapat.” Jika Anda telat datang di lapangan, maka harus siap-siap untuk sabar menunggu. Tak ada aturan bahwa setiap orang hanya boleh bermain satu jam atau dua jam. Saya, misalnya, baru berhenti kalau benar-benar napas sudah sampai di tenggorokan, dan kaki sudah tidak bisa diajak berlari.

Hari ini, saya datang ke lapangan pukul 5 pagi.

§ 10 Responses to Bermain Tenis

  • fitri mengatakan:

    hehehe, capek dong lo babe? tuh perut ndut bisa kempes. i love you😀

  • aisyah mengatakan:

    hallo mas coen. aku ais yang dulu pernah jadi peserta diskusinya mas coen di kampus iain. apakabarnya mas? alhamdulillah kalau sehat-sehat terus. apalagi sekarang sudah rajin bermain tenis, ditemani istrinya lagi. salam ya buat istrinya juga. senang nih kita bisa dengar kabar mas coen lagi.

  • Coen Husain Pontoh mengatakan:

    Hanyi, capek sih iya tapi, hepinya itu. Perut mah belon kempes, malah kayaknya gak ada tanda-tanda menurun nih, hehehe. I love u more.

    Mbak Ais, saya yang mestinya berterima kasih, karena ada yang mau mengingat. Kabar saya baik-baik saja. Salam buat istri, sudah saya sampaikan. Tuh, berkunjunglah ke rumah keduanya. Caranya, klik http://negeri-neri.blogspot.com.

    Oh ya, gimana kabar teman-teman yang lain? Saya ingin mndengarnya lho. Kirim salam balik buat mereka semua ya?

  • philips vermonte mengatakan:

    Bung, ini baru asyik. It reflects the ‘human’ side of Coen in NY. Enak baca yang ringan-ringan begini..he..he.

    pjv

  • Anonymous mengatakan:

    Bung, si Philips betul. Tulisan ringan ini asik. Bung memang diberkati talenta menulis. Tapi, meski jadi cermin sisi manusianya si CHP, toh pesannya jelas: sarana publik!

    Saya baru kelar baca tanggapan Bung atas Budiman. Minta ijin nanya: Benarkah posisi (kelas modal dalam negeri) Indonesia atas liberalisasi Republik bagi imperialisme persis seperti yang Bung gambarkan? Bagaimana, pendapat Bung, terkait tesis Robison-Hadiz tentang reorganisasi kekuasaan sisa-sia kekuatan lama yang bikin “liberalisasi” (neoliberal) malah jadi iliberalisasi, atau setidak-tidaknya tidak seturut gambar Bung?

    Main tenis inspirasi yang baik. Barangkali, besok saya akan bangun subuh juga…hehehe.

  • Coen Husain Pontoh mengatakan:

    Hehehe,

    Si Philip itu ada-ada aja. Bung Anonymous, kapitalisme di Indonesia (saya fokus aja ke masa rejim Orba dan sesudahnya), adalah kapitalisme cangkokkan. Maksudnya, kelas kapitalisnya, tidak lahir sebagai hasil dari perjuangan melawan sistem feodal, seperti di Eropa masa pertengahan. Tapi, sebagai hasil dari penetrasi kapitalisme global dan perlindungan yang diberikan oleh rejim Orba.

    Di Eropa, kaum kapitalisnya berjuang untuk meraih dan menegakkan kebebasan (termasuk kebebasan berdagang). Itu sebabnya, mereka memiliki watak progresif, yang membuat orang seperti Barrington Moore, sampe-sampe mengatakan, tanpa borjuasi tak mungkin ada demokrasi. Tapi, kapitalis Orba, justru anti kebebasan bahkan menghancurkan kebebasan, tak memiiki kemandirian modal dan independensi politik. Kelangsungan operasi bisnisnya sangat tergantung pada keterkaitannya pada kapitalisme global dan kedekatan hubungannya pada rejim Orba sebagai patron. Kelas kapitalis Orba, adalah kelas yang oportunis dan pengkhianat. Itu, sebabnya, pada jaman pergerakan menuntut kejatuhan Soeharto, mereka datang paling belakangan, setelah sang patron dinilai tak kuasa lagi menahan kemarahan massa.

    Jadi, kalau benar kesimpulan Robison-Hadiz demikian, saya memang sepakat.

    -C

  • Erix Hutasoit mengatakan:

    hahahahahaha…

    masih mending di US bisa diolahraga, di UK dingin banget. Belum sempat bergerak, darah uda keburu beku.

    Tulisan bung dingin-dingin menghangatkan. Senang bisa menghangatkan UK yang lagi Winter heheheheh..

    salam

  • rahmat adam mengatakan:

    salam nih bang…. dari kawan 2 di Manado, …

  • arif riyanto mengatakan:

    salam kenal
    dari arif
    orang semarang,…
    wah sepertinya kalian enak ya,…bisa pada happy di negeri orangmao donk..
    gimana caranya??/ serius.

  • online poker law mengatakan:

    online poker law

    Through online poker law

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bermain Tenis at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: