Marhaenis di Era Imperialisme

Agustus 23, 2006 § 16 Komentar

Catatan untuk Budiman Sudjatmiko

ARTIKEL  panjang Budiman Sudjatmiko (di sini dan di sini), menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Pertama, artikel itu coba melihat bagaimana kondisi negara-bangsa Indonesia di era kapitalisme-neoliberal saat ini; kedua, bagaimana posisi Marhaenis di tengah-tengah pergulatan itu; dan ketiga, bagaimana seharusnya Marhaenis bersikap.

Untuk memudahkan catatan saya terhadap artikel Budiman itu, saya ingin menempatkan artikel tersebut dalam bingkai Republik dan bingkai Imperialisme (saya tidak menggunakan istilah neoliberal, karena istilah ini lebih berbicara soal masalah ekonomi internasional). Republik di sini saya maksudkan, sebagai upaya bersama sebuah bangsa untuk meninggikan derajat kesejahteraan rakyat, harkat kemanusiaannya, dan independensinya dalam pergaulan antar bangsa. Dengan demikian, Republik bermakna pembangunan ke dalam di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

Sementara Imperialisme, adalah sebuah upaya pembangunan kekaisaran global (empire) melalui proses penaklukan, pendudukan, dan atau pengontrolan sumber-sumber daya alam di luar negeri. Pada masa sekarang ini, kalangan ilmuwan sosial progresif meyakini, Imperialisme merupakan motor penggerak sejarah yang sebenarnya. Dengan demikian, ada jurang lebar antara pengertian Republik dan Imperialisme. Jika keberhasilan Republik dinilai berdasarkan hubungan yang setara, tumbuh suburnya solidaritas sosial di kalangan anak-bangsa, maka kesuksesan imperialisme dihasilkan dari hubungan yang timpang dan dominatif.

Dari pemaknaan ini, ingin saya katakan, sejak peristiwa G30S 1965, negara-bangsa Indonesia sebagai sebuah Republik, praktis telah gagal, hancur berkeping-keping. Martabat manusia diluluh-lantakkan, hubungan antar sesama berlangsung penuh kecurigaan dan serba tegang, rasa solidaritas dan kebersamaan musnah. Yang tinggal adalah laku bunuh-bunuhan, jegal-jegalan, korupsi, kebodohan, kemiskinan, penghianatan intelektual, hingga ketergantungan yang parah terhadap dinamika ekonomi internasional.

Beriringan dengan kebangkrutan Republik itu, rejim Orde Baru (Orba), di bawah kondisi perang global melawan komunisme, secara perlahan dan penuh kepastian, menggiring negara-bangsa Indonesia menjadi negara klien (Client-State/CS) bagi negara imperial (Imperial-State/IS). Dalam posisi sebagai CS ini, rejim Orba berfungsi memfasilitasi, melayani, dan melindungi kelancaran dan kelangsungan eksploitasi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam Indonesia. Sejak peristiwa G30S 1965 itu, apa yang disinyalir Bung Karno sebagai “bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa,” diwujud-nyatakan oleh rejim Orba.

Setelah reformasi yang menumbangkan pucuk kekuasaan rejim Orba pada 1998, terjangan imperialisme semakin menjadi-jadi. Rejim-rejim paska reformasi kian menjadikan dirinya sebagai klien imperialis. Jika pada masa Orba, agen-agen imperialisme masih harus bernegosiasi dengan struktur kekuasaan yang relatif homogen, saat ini, justru rejim-rejim paska reformasi berusaha semampu mungkin mengikatkan dirinya pada agen-agen imperialisme itu. Jika pada masa Orba, Imperialisme bekerja di bawah payung perang global melawan komunisme, di masa reformasi ini, Imperialisme bekerja di bawah atap perang global melawan terorisme. Akibatnya, bukannya membuka lembaran baru bagi kebangkitan kembali Republik, rejim di era transisi ini malah kian menghamba pada tuntutan-tuntutan negara imperial: obral murah perusahaan milik negara, mencabut sesegera mungkin subsidi untuk kebutuhan mendasar rakyat, atau bagaimana agar kekuatan buruh selekas-lekasnya dilucuti agar tidak mengganggu kelangsungan akumulasi kapital.

Dan, keberhasilan melayani kepentingan imperial itu, dijadikan ukuran sukses tidaknya kinerja rejim masa transisi. Kata kuncinya, semakin terintegrasi semakin sukses. Misalnya, semakin banyak menjual perusahaan milik negara (BUMN), pertanda rejim baru ini sukses melaksanakan reformasi ekonomi. Semakin cepat mencabut subsidi kebutuhan pokok, semakin berbangga diri sebagai rejim paling konsisten. Semakin cepat membayar utang luar negeri, semakin merasa terhormat di mata negara imperial.

Tapi, kita tahu, semua rasa bangga itu bermakna, makin hancurnya bangunan Republik. Pertanda, posisi kaum Marhaen semakin terjepit, tergilas, dan tertinggal. “Kaum segala kecil” inilah yang pada akhirnya harus membayar totalitas penghambaan itu. Mereka tidak dilayani, dilindungi, dan difasilitasi oleh rejim-rejim paska reformasi. Bahkan, ketika rejim itu dipimpin oleh anak darah Bapak Marhaen, Soekarno.

Bagaimana Sikap Marhaenis?

Pada titik ini, kita tidak mendapatkan sebuah uraian yang memadai dari Budiman Sudjatmiko. Ia hanya memberikan lontaran-lontaran ide yang umum. Misalnya, ia mengatakan, untuk menjawab tantangan kekinian berupa runtuhnya Republik dan berjayanya globalisasi neoliberal, kaum Marhaen haruslah menjadi sebuah gerakan politik. Dan rupanya, gerakan politik yang dimaksudkannya itu, kaum Marhaen harusnya bergabung atau membentuk sebuah partai politik. “Kita tak terlalu berlarut-larut memperdebatkan urusan tersebut,” ujarnya tegas.

Tentu saja ini sebuah penyederhanaan yang berbahaya dan abai sejarah. Faktanya, kaum Marhaen, menjelang dan terutama setelah runtuhnya pucuk kekuasaan rejim Orba, telah begitu terpolitisasi. Mereka telah menyatakan sikap dan pilihan politiknya melalui dukungannya terhadap PDI-P dan Megawati Soekarnoputri. Dukungan itu luar biasa besar, penuh semangat, sukarela, yang dilambari optimisme yang tinggi. Sialnya, dukungan politik penuh antusias itu diselewengkan, lebih tepatnya, dikhianati oleh PDI-P dan Megawati Soekarnoputri. Seperti saya katakan di atas, tak ada satupun usaha serius dari PDI-P dan Megawati untuk membangun kembali Republik. Dan atas penyelewengan serta pengkhianatan itu, kaum Marhaen, lagi-lagi menunjukkan sikap politiknya dengan mentalak tiga kepemimpinan Megawati.

Maka di sini, gerakan politik Marhaenis bukan pertama-tama bagaimana membangun partai politik atau masuk partai politik. Yang terutama adalah merumuskan kembali posisi politik Marhaen, apakah berpihak pada Republik atau terus menjadi klien negara imperialis. Jika berpihak pada Republik, maka slogan lama Bung Karno “go to hell with your aid” adalah titik pijak pertama untuk melangkah ke depan. Gerakan politik Marhaen, harus secara tegas menyatakan penolakannya terhadap seluruh agenda negara imperialis. Dalam bidang ekonomi, misalnya, kaum Marhaen harus tegas-tegas menolak seluruh agenda kebijakan neoliberal. Dalam bidang politik dan pertahanan keamanan, kaum Marhaen harus menolak keterlibatan Indonesia dalam skenario perang global melawan terorisme. Sekali melunak, atau sejenak saja menjadi moderat, selamanya tak akan mampu ke luar dari jebakan imperialisme. Inilah yang menimpa rejim Luiz Ignacio “Lula” Da Silva di Brazil.

Dengan posisi politik seperti ini, implikasi praktisnya, kaum Marhaen, haruslah membangun gerakan politik yang independen, di luar partai politik yang ada saat ini. Jelasnya, gerakan politik Marhaenisme, tidak boleh lagi berkait apalagi menjadi bagian struktural dari partai-partai politik yang kini eksis. Terbukti sudah, partai-partai politik yang berjaya saat ini, dari yang mengusung jargon agama maupun jargon sekuler, telah mengkhianati Republik, telah mempecundangi kaum Marhaen. Tanpa independensi ini, gerakan politik Marhaenis, hanya akan menjadi kerikil dalam sepatu bagi kekuatan politik yang ada, ia hanya akan menjadi “buih di tengah gelombang samudra.” Ia tidak bisa menjadi benteng perlindungan, sekaligus tempat menyusun strategi untuk membangun kembali Republik.***

§ 16 Responses to Marhaenis di Era Imperialisme

  • mataharitimoer mengatakan:

    senang sekali bisa menemukan blog ini

  • Thamrin mengatakan:

    Nice blog Coen…..anyway, ada sebuah artikel menarik menurut saya, tentang Marhaenisme, dari perspektif yang lain, Liberal….judulnya, “MARHAENISME Kini: Relevansi sebuah Konsep Tradisional di Indonesia Abad ke-21” di situs Kedai Kebebasan (www.kedai-kebebasan.org). Jika ingin membacanya saya copykan url-nya dibawah ini, hanya untuk perbandingan dan wacana lain saja.

    http://www.kedai-kebebasan.org/opini/article.php?id=50

  • ndunkz mengatakan:

    segala konsep usang ternyata masih saja diumbar,anda tahu konsep apalah itu marhaenisme yang sejatinya merupakan derivasi konsep marxisme yang nyata2sudah gatot alias gagal total…!kita lihat ralitas dilapangan,unisovyet,china,kuba dan negara2 panganut derivasi konsep marxis lainnya ternyata bobrok didalamnya,bullshit itu retorika persamaan maupun kesejahteraan yang ada hanya pemerasan hak2 oleh landasan matrealisme belaka…begitu pun marhaenisme yang diagung-agungkan sekarang ini,kita lihat dialektika sejarah berbiucara bahwa pada zaman soekarno pun ia lebih mementingkan simbol2 maupun identitas jawanya ketimbang konsep marhaenisme yang ia sitirkan…revolusi tiada henti yang ia selalu banggakan sedangkan sisi yang lainnya terlupakan olehnya….

  • rt mengatakan:

    secara hakekat marhaenisme adalah sebuah idiologi anti penindasan versi indonesia, itu yang membedakan terapan marxisme indonesia dengan negara2 lain, mis : cina, amerika latin, dan negara asia lain.dalam analisis saya marhaenisme sendiri secara tanggungjawab moril idiologis perlu di revolusi.sebab kader2 marhaen sekarang banyak yang udah miss idiologic orientasi.hal ini wajar aja terjadi.bertahannya kaum marhaen yang jelas2 kiri, melewati masa orde baru bukan karena perlawannya atas rejim tetapi kamuflasenya selama orde baru, dari kiri menjadi moderat dan akhirnya ke kanan.sekarang saatnya kaum marhen kembali ke kiri untuk revolusi yang belum selesai, satukan kekuatan dengan gerakan rakyat lain.rakyat menanti anda.masih percayakan bung dan sarinah sekalian atas kekuatan rakyat?

  • DaRwIN mengatakan:

    Kehancuran negara-negara yang berhaluan Marxis di Eropa bukan berarti kegagalan ideologi kiri secara keseluruhan. Itu adalah propaganda yang menyesatkan dari kelompok kanan (saya tidak katakan liberal, karena ini masih bisa kita perdebatkan). Apakah kegagalan USSR dalam membangun masyarakat Komunis bisa dijadikan patokan kegagalan ML itu sendiri? Saya rasa tidak. Banyak faktor-faktor yang mengakibatkan USSR bubar yang tidak sedsai dengan ML itu sendiri (Birokrasi negara atau tidak berdaulatnya kaum proletar). Justru dengan kegagalan USSR, kaum kiri akan belajar dari penerapan sosialisme sebelumnya. Masih banyak jalan menuju Roma. Masih banyak jalan alternatif menuju Sosialisme. Sosialisme yang humanis dan demokratis, yaitu Marhaenisme. Lihat Amerika Latin sekarang, apakah ini berarti Sosialisme telah mati? Hanya orang yang tidak membuka mata saja yang akan mengatakan mati. Coba bandingkan dengan US dan sebagai negara Eropa yang sudah mulai bangkrut.

    Di Timur Matahari Mulai Bercahaya
    Bangun dan Berdiri Kawan Semua
    Marilah Mengatur Barisan Kita
    Seluruh Pemuda Indonesia

    Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!
    Tapi bukan Liberal!!! Bukan Liberal!!! Bukan Liberal!!!

  • kuyazr mengatakan:

    mari merdeka dari Jawa!

  • norazizah mengatakan:

    susah ya…….. merefrensi dari pikiran soekarno tentang marhaenisme dalam konteks perjuangan membangun bangsa ini, karen hanya dari sisi kelas saja.yang di uraikan, lalu pertanyaanya bagaimana sosiallisme ala marhanisme menjadi frame gerakan? anda pasti juga bingung? bentuk dan praktek seperti apa? menurut saya marhaenisme adalah romantisme yang menjadi alternatif untuk lari dari kenyataan bahwa bangsa ini di jajah oleh kaum impralisme bukan pesan ideologis…….. ok!!??

  • Topo mengatakan:

    Republik ini memang perlu jalan baru untuk membangun, bukan Nasionalisme akan berkembang, kita akan beda dengan nasionalismenya Sukarno ato Suharto, pasti ada jalan….

  • komunitas prapatan bank ning joe mengatakan:

    mas coen, tentang asa revolusi negeri yang makin perih,…
    lelah sudah,… penat sudah,… sampai kapan kah,…??? suatu saat….???
    semoga aku, kamu, dan kawan semua masih mampu mengepalkan tangan teriak lawan segenap kebiadaban di depan mata ini. semoga,…

  • ndunkz mengatakan:

    Paradigma kaum pergerakan selama ini dalam sejarah perjuangan dunia khususnya Indonesia selalu saja dipersepsikan merupakan benturan tak terelakkan dari ideolegi sosialisme-komunisme dengan liberalisme..seakan melupakan eksistensi embrio stimulus pergerakan lainnya semisal ideologi fasisme yang masih eksis walaupun tidak kentara, dan Ideologi-Agamis yakni Islam sebagai bagian dari sebuah Aturan transenden dan membumi sebagai sebuah ideologi….saya bukan bersikap apreiori terhadap ideologi lainnya, seperti soekarno telah bilang “jangan lupakan sejarah”artinya jadikan sejarah sebagai pijakan dialektika berfikir secara logis serta empiris,..sosialisme pada akhirnya memandang negara sebagai sebuah institusi adalah harus dimusnahkan bahkan marx memandang negara sebagai satu-satunya alasan kapitalisme masih bertahan (selain kepemilikan modal oleh individu) dengan dipeliharanya kaum borjuase oleh negara..lalu apakah masyarakat kita akan kembali memasuki zaman tribalisme, atau zaman dimana tidak terdapat institusi yang mengatur tentang apa yang boleh atau tidak dilakukan warga negara? Islam memandang dan bercita-cita mewujudkan masyarakat yang egaliter, masyarakat yang memiliki persamaan perlakuan oleh negara tapi tetap membutuhkan institusi negara sebagai perwujudan kehendak Tuhan dimuka Bumi..saya tidak berutopis ria…sejarah telah membuktikan betapa Islam sebagai Aqidah yang holistik dapat menjadi ruh perjuangan masyarakatnya selama 14 abad…!
    kita saat ini (Indonesia) membutuhkan Reason ‘ de ‘etre dalam perjuangan kembali kesejatinya sebagai sebuah bangsa dan negara yang jaya,kalau dahulu kemerdekaan adalah alasan bagi segenap putra bangsa mencapai konsensus nasional,lalu kebencian terhadap komunisme manjadi pemantik dalam pergolakan nasional, maka saat ini kita membutuhkan satu reason ‘de ‘etre lainnya…menurut saya,kita butuh sesuatu yang sesuai dengan kondisi realitas masyarakar Indoensia..kita butuh ruh dalam pembangkitan kembali (re-born) eksistensi bangsa…nasionalisme saya pandang sedikit memiliki kans kearah sana dikarenakan kini di era Globalisasi seakan-akan nasionalisme dipeerkosa oleh korporat dunia yang kini semakin menggusur tapal batas wilayah negara,era informasi saat ini membuat budaya semakin rentan dijadikan instrument penjajahan selain penjajahan ekonomi dan politik…satu-satunya ruh yang tepat bagi masyarkat Indoensia adalah kembali kepada akar budaya bangsa. lalu apakah yang disebut akar budaya bangsa tersebut yang apabila masih kita saksikan hingga saat ini mungkin ibu bahasa dunia adalah bahasa Indonesia…kita lanjutkan di kesempatan akan datang mengingat keterbatasan waktu dan lainnya…see y

  • Jaya mengatakan:

    Jgn cari perkara ribut, sejarah adalah saksi bung

  • kusnadi mengatakan:

    ketikaberbicara marhaenisme adalah satu idiologi yang dapat memberi kesejahteraan bagi bangsa yang besar ini tapi terkadang untuk merelevansikanya memang sebuah kerja yangtidak gampang disaat bangsa ini lupa terhadap jati diri bangsa sendiri

    merdeka !!!!!!
    marhaen Menang !!!!!!!

  • auf mengatakan:

    saya ingin menanggapi tentang komentar yang di lontarkan oleh saudara dunkz.yang mengatakan bahawa marxisme harus enyah dari sistim indonesia.
    saya agak kurang setuju,karna pada hakikatnya suatu sistim negara,serta nkesatuan dan kesatuan yang lahir pada suatu negara sebab adanya persatuan idiologi antara islamisme,nasionalisme,dan marxisme.sebab mengapa?karana pada hakikatnya idiologi ketiga isme tersebut sama.sama2 membela kaum jelata,sama2 menyuruh membela bangsa di mana ia singgah,sama2menyerukan persamaan hak,sama menentang kapitalisme,yang dalam bahasa islam sama dengan riba.
    memang tidak bisa di pungkiri bahwa manusia hancur karana berpegag pada idiologi marxisme.tapi itu merupakan ajaran marxis yang lama,yang tidak relevan.sebab tidak sesuai dengan realitas.DAN SUATU IDIOLOGI HARUS MENGIKUTI ZAMAN .kata bung karno demikian.di karya beliau,di bawah bendera revolusi jilid 1.

  • PM mengatakan:

    Saya senang menemukan blog ini !
    Saya memang membutuhkannya
    Terimakasih banyak !

  • Megel mengatakan:

    Tak ada yang bisa TEGAR saat menghadapi struktur politik di republik ini. Mungkin bang Budiman “berlaku seperti itu” (Tak mau memberikan kritik kepada ketua umumnya),,,,
    he,he,he,he

  • YUSUF FORMADEM mengatakan:

    REVOLUTION FOR REAL DEMOCRATION
    BANGKITLAH DARAH-DARAH RAS-PEMBERONTAK YANG MENGALIR DISETIAP JIWA.

    rakyat marhaen harus tetap di bela dan di perjuangkan.

    hancurkan semua partai2 politik munculkan pemeimpin baru dari RAS-PEMBERONTAK yang murni untuk membelarakyat dan hanya akan mati demi keadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Marhaenis di Era Imperialisme at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: