Liberalisme di Negara Kapitalis Pinggiran

Oktober 11, 2006 § 21 Komentar

PASKA reformasi 1997, perbincangan mengenai liberalisme mewakili dua kecenderungan. Pertama, tema ini dibincangkan dan diperdebatkan pada tataran abstrak-filosofis. Kebebasan (from and/or for), pluralisme, inklusivisme, dan atau sekularisme, dinisbatkan sebagai sesuatu yang bersifat universal, yang berlaku pada seluruh tahapan sejarah sosial sebuah masyarakat. Dengan demikian, liberalisme adalah sebuah keniscayaan, menjadi tolok-ukur maju-mundurnya sebuah peradaban.

Di sisi seberangnya, tema ini dihujat, dinista tak lebih sebagai kendaraan untuk menghancurkan nilai-nilai abadi dan fundamental keagamaan. Di sini, liberalisme ditafsirkan sebagai “keadaan serba boleh,” “menghalalkan segala cara,” atau “menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.” Karena itu, liberalisme adalah haram, harus ditolak.

Kedua pendekatan dalam membincangkan soal liberalisme ini, sama-sama bersifat a-historis. Kecuali menjadi ajang debat elitis, kedua pendekatan ini tidak menyediakan pengetahuan yang berarti bagi rakyat untuk membebaskan dirinya dari kungkungan hubungan produksi yang menindas. Pada yang pertama, liberalisme ketika diterapkan di negara kapitalis pinggiran, seolah-olah mengandung nilai yang sama persis dengan ketika ia muncul dan berkembang di Eropa Barat. Sementara pada yang kedua, menyatakan liberalisme adalah haram sesungguhnya gagal melihat watak pembebasan dari paham ini. Penistaan membuta ini tak lebih untuk melindungi dan mengembangkan kepentingan-kepentingan ideologis yang otoritarian.

Lalu, bagaimana kita meletakkan perbincanan soal liberalisme, berdasarkan konteks sejarahnya, dalam hal ini konteks negara kapitalis pinggiran? Sebelumnya, mari kita lihat fakta berikut. Pada tahun-tahun menjelang Peristiwa G30S 1965, sekelompok aktivis liberal yang meluncurkan Manifesto Kebudayaan (Manikebu), dan juga ekonom liberal yang menamakan dirinya teknokrat, memilih bekerjasama dengan angkatan darat (AD), untuk mengeliminasi lawan politiknya. Ketika kolaborasi ini menang, para pengusung ide-ide liberalisme ini, memilih bungkam atau bahkan membiarkan saja ketika AD, memelopori pembantaian terhadap mereka yang dicap sebagai musuh politiknya.

Segera setelah peristiwa kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah politik modern Indonesia itu, kalangan liberal mulai memadu-kasih dengan rejim Orba. Ada yang menjadi penasehat, juru runding, juru bangun, agen propaganda, dan juga eksekutor kebijakan-kebijakan Orba. Pada saat bersamaan, parade kekerasan datang silih berganti dengan derajat berbeda-beda. Segera setelah melibas musuh di sebelah kiri, rejim ini juga membabat musuh yang ada di sebelah kanan. Sementara itu, kalangan liberal terus melanjutkan bulan-madunya. Mereka baru tersentak, ketika rejim yang disokongnya itu pada akhirnya mulai mendahulukan kepentingan birokratisnya demi kelangsungan kekuasaannya.

Pertanyaannya, mengapa kaum liberal ini bersekutu dengan kekuatan anti-demokrasi plus anti-liberalisme? Untuk menjawab soal ini, saya mau mengutip analisa Luis Vitale, yang dituangkan dalam bukunya History of Chile, (1969). Dalam bukunya itu, Vitale mengatakan, filsafat liberal yang di Eropa pada abad ke-18 merupakan hasil dari revolusi demokratik-borjuis, di Amerika Latin merupakan bagian dari revolusi “kemerdekaan politik.” Sebagai bagian dari revolusi kemerdekaan politik, liberalisme di negara berkembang justru menjadi senjata teoritik untuk melawan kolonialisme oleh borjuasi Eropa. “Sementara borjuasi lokal memiliki kebutuhan untuk mencari pasar baru, raja Spanyol malah membatasi pasaran untuk ekspor; sementara borjuasi lokal butuh untuk membeli barang-barang manufaktur dengan harga murah, kekaisaran Spanyol malah membatasi mereka agar mereka hanya mengonsumsi barang yang dijual oleh pedagang Spanyol dengan harga mahal; sementara orang-orang Amerika meminta pengurangan tarif pajak, kekaisaran malah menerapkan tarif pajak baru yang lebih besar; sementara borjuasi lokal menuntut akumulasi kapital dan sisa surplus ekonomi di Amerika Latin, kekaisaran Spanyol malah mengambil bagian terbesar dari surplus dan menetapkan kebijakan modal yang mengambang (floating financial),” tulis Vitale.

Pada tahap inilah, liberalisme di tanah jajahan berwatak progresif dan membebaskan. Tetapi, seperti dikemukakan Andre Gunder Frank dalam bukunya, Lumpen Bourgeoisie Lumpen Development Dependence, Class, and Politics in Latin America,(1972), liberalisme di negara kapitalis pinggiran ini tidak ditujukan untuk mentransformasikan struktur sosial yang menindas warisan kolonial. Para elite ini, begitu sukses merebut kekuasaan, malah mengembangkan struktur baru hubungan yang bersifat tergantung, hubungan kolonial.

“….they reinforcement the ties of economic dependence by strengthening the export economy and the structure of underdevelopment,” tulis Frank.

….mereka malahan kian meningkatkan hubungan ekonomi yang tergantung itu dengan jalan memperkuat ekonomi ekspor dan struktur keterbelakangan.

Di sini muncul pertanyaan lain, mengapa liberalisme yang semula berwatak progresif lantas berubah menjadi konservatif bahkan reaksioner? Mari kita kembali sejenak pada Luis Vitale. Ketika membandingkan antara liberalisme di Eropa dengan liberalisme di Amerika Latin, Vitale mengatakan, “di tangan borjuasi Eropa, liberalisme menjadi senjata untuk melawan feodalisme; di Amerika Latin, liberalisme diadaptasi oleh para borjuasi lokal (creole) untuk melawan monarki Spanyol. Di Eropa, filsafat liberalisme menjadi doktrinnya kaum borjuasi industrial; sementara di Amerika Latin, ia menjadi doktrin ideologisnya para tuan tanah, pemilik pertambangan, dan pedagang. Jika di Eropa liberalisme menjadi argumen untuk melindungi industri; di Amerika Latin, liberalisme menjadi argumen untuk melegitimasi perdagangan bebas.”

Dengan menilik basis sosial-ekonomi para pengusung liberalisme di negara kapitalis pinggiran, tidaklah aneh jika kemudian liberalisme berubah menjadi doktrin yang konservatif. Ketika basis ekonominya mulai berkembang, kalangan borjuasi lokal ini membutuhkan pasar untuk kelangsungan pengembangan kapasitas produksinya. “Di Argentina,” tulis Frank, “liberalisme bisa ditelusuri jejaknya pada masa pemerintahan Mitre 1862, ketika terjadi lonjakan ekspor yang dimulai pada 1860, dan mengalami percepatan setelah periode 1870-1880. Di Brazil, permulaan liberalisme mungkin bisa dilihat sejak diundangkannya kebijakan anti perbudakan dan berdirinya Republik pada 1888 dan 1889. Hal ini beriringan dengan lonjakan ekspor kopi dan pertumbuhan kota Sao Paulo pada 1880an dan 1890an. Di Chile, setelah 1860, liberalisme diberlakukan karena mendatangkan keuntungan bagi kelas petani baru di Selatan, dan pertambangan di Utara – setelah pertumbuhan cepat produksi tembaga dan terigu yang menyebabkan ekspor Chile antara 1844 dan 1860, bertumbuh tiga kali lipat.”

Demikian sebaliknya, ketika kapasitas produksinya anjlok, liberalisme serta-merta bermetamorfosis menjadi senjata teoritik untuk melegitimasi kebijakan ekonomi yang proteksionistik. Proteksionisme di sini, tidak bermakna melindungi pasar dalam negeri dari serbuan produk asing, apalagi untuk melindungi sektor ekonomi rakyat, sebab hubungan yang terjadi adalah hubungan ketergantungan. Pada masa “proteksionisme” ini, pasar dalam negeri tetap terbuka bagi produk impor; hubungan-hubungan ekonomi dengan pihak asing tetap berlangsung, misalnya, sektor-sektor yang semula tertutup bagi investasi asing kemudian dibuka. Atau dalam bahasa Nikolai Bukharin, proteksionisme bahkan bermakna akuisisi untuk menambah perbedaharaan kapital pada satu sisi, dan memfasilitasi kompetisi di pasar dunia, di sisi lain (Nikolai Ivanovich Bukharin, Imperialism and World Economy, 1929). Artinya, hubungan produksi yang timpang tetaplah berlangsung, bahkan kian intensif karena ketergantungan terhadap senior partner (korporasi multinasional) semakin dalam. Dengan demikian, proteksionisme di sini bermakna, melindungi kepentingan borjuasi nasional yang merupakan junior partner, dari gerakan progresif-radikal yang menentang hubungan sosial yang bersifat kolonial itu.

Pada tahapan inilah, kalangan liberal mengadakan persekutuan tidak suci (unholly alliance) dengan militer, guna mengamankan kepentingan ekonomi-politiknya. Demikianlah,

“After they had reached power and imposed their policy of ever greater dependence on expanding imperialism – with the economic, social, and political conflicts and tension resulting from this policy – these very liberals were the first to resort the repressive measures and even to military dictatorship to serve their own economic interest,” (Frank).

Setelah mereka merengkuh kekuasaan dan memaksakan kebijakannya yang semakin tergantung pada imperialisme – yang menyebabkan timbulnya konflik dan ketegangan ekonomi, sosial, dan politik – maka hal pertama yang dilakukan oleh kaum liberal adalah berpaling pada tindakan represif dan bahkan mendukung kediktatoran militer guna melayani kepentingan ekonominya sendiri.

Inilah yang terjadi di Indonesia, menjelang dan setelah Peristiwa G30S 1965.***

§ 21 Responses to Liberalisme di Negara Kapitalis Pinggiran

  • reza mengatakan:

    wah anda luar biasa sekali🙂

    bung saya masih mahasiswa ni,bisa tolong bantu saya ga??
    tp agak berbeda dengan topik artikel ini

    saya mau tanya mengenai globalisasi dan pendemokrasian dunia.
    apakah penerapan demokrasi di negara2 dunia saat ini merupakan dampak globalisasi juga?

    kalau mau melangkan waktu, please kirim ke email saya aja tanggapannya..

    thanks

    reza

  • Malay mengatakan:

    saya memerlukan data mengenai bangkitnya kekuatan kiri di Amerika Latin…………
    i do need your cooperation…
    thank’s

  • che alam mengatakan:

    gue lagi mengadakan training seputar REKONSTRUKSI PERLAWANAN TERHADAP NEO-LIB DALAM MEMBANGUN RADIKALISME GERAKAN , Pesertanya mahasiswa se-indonesia, bagaimana komentar bapak mengenai gerakan rakyat melawan neo-lib seperti zapatista, nba di India dll, bagaimana pula kontekstualisasinya di indonesia?, kerja riil apa yang paling mungkin dilakukan ditingkatan kaum muda dan mahasiswa?

  • rizal mengatakan:

    hidup buruh…. saya rizal, dari Medan. saya bergabung di Solidaritas Buruh Sumatera Utara. bung saya ingin bertanya tentang gerakan politik buruh di Indonesia dalam menghadapi kapitalisme global. kalau bisa tolong kirimkan yang bung tulisannya.

  • widodo mengatakan:

    mas, saya gye ngerjain skripsi niy, tentang globalisasi tapi dalam kontek budaya, saya butuh data tentang itu
    “budaya global telah didominasi oleh kepentingan2 yang lebih kuat dan menyebabkan sekat2 komunikasi ga bebas dari dominasi”
    ada ga mas, pliz banget…

    sebelumnya makasiy banyak yak…

  • coenhp mengatakan:

    Maaf, maaf semuanya, karena baru bisa komentar skrg.

    Pertama komentar umum terhadap semuanya, jika ingin bahan-bahan yang sekira membantu, bung-bung coba mendaftar sebagai anggota di milis IndoPROGRESS. Di milis itu, dimana saya menjadi moderatornya, ada banyak sekali bahan-bahan bacaan yang bisa memperkaya argumentasi.

    Kini komentar per orang:
    – bung Reza, mengenai pertanyaan bung, saya sudah mengulasnya dalam artikel bertajuk “Promosi Demokrasi.” Artikel ini dimuat di situs blog yang merupakan sindikasi penulis-aktivis: http://indoprogress.blogspot.com

    – buat bung Malay, data yang anda butuhkan itu ada di milis indoprogress. so subscribe-lah.

    – buat bung Che Alam, untuk soal ini, berkunjunglah ke situs blog http://indoprogress.blogspot.com. Ada banyak argumen yang bisa menjadi bahan perbandingan buat Anda. Btw, acara yang bung selenggarakan itu, sungguh besar manfaatnya.

    – bung Rizal, bergabunglah ke milis indoprogress.

    – bung Widodo, selamat mengerjakan skripsi ya. coba bergabung ke milis indoprogress. ada banyak data di sana.

  • budy mengatakan:

    mas…saya skrng msh mahasiswa dislah satu perguruan tinggi dindonesia,sbgai seorang pemuda bangsa saya sangat sedih melihat kondisi bangsa ini yang tidak makin jelas arahnya…gini loh mas…saya ingin bertnya?sistem apakah yang sekarang pantas dipakai bangsa ini…
    apa sosialisme atau kapitalisme…????/

  • david mengatakan:

    pertahankan terus semangat!!!!

  • coenhp mengatakan:

    Mas Budi,

    Maaf baru komentar balik. soal kesedihan anda, saya kira itu justru hal yang mesti anda sukuri. Artinya, anda masih ingin melihat bangsa kita berkembang lebih baik. Nah, gimana supaya bisa ke sana? Sistem apa yang pantas dipake?

    Soal ini, saya kira tidak mudah dijawab, walau saya secara pribadi meyakini bahwa sosialisme jauh lebih baik ketimbang kapitalisme. Yang paling penting saya kira, kita mempelajari dan menggumuli secara teori dan praktek apa yang kita anggap pantas diterapkan. Trial and error kira-kira.

    -C

  • annaz ramadhani aisyam kamaruzzaman mengatakan:

    kepada seorang kawan :

    salam pembebasan…..!!!

    Kawan Coen Yth, isa minta materi tentang sejarah awalnya kapitalisme/imperialisme masuk ke Amerika Latin gak???????????

    Pliiiis, ato berikan rekomendasi buku apa ato situs apa yang bisa saya akses???

    buat skripsi saya….:)
    Pliiiiissss….

    Thanks Before.
    Terus Berlawan.

  • coenhp mengatakan:

    Kawan Isa,

    Ente bisa masuk ke situs http://www.rebelion.org. Dari sana bisa lihat link situs-situs lainnya.

    Selamat mengerjakan skripsi ya, semoga sukses.

    -C

  • annaz ramadhani mengatakan:

    thanks kawan coenhp

    teruz berlawan…..

    bisa minta nomer kontaknya gak?

  • annaz ramadhani mengatakan:

    ada yg situs berbahasa indonesia gak???

  • coenhp mengatakan:

    Annaz yb,

    alamat kontak saya coenpontoh@yahoo.com. Soal situs berbahasa Indo, saya kira sng jarang, bahkan tidak ada. Tapi, bung bisa berkunjung ke blog http://indoprogress.blogspot.com atau kalau tinggal di Jkt, coba hubungi Nur Iman Subono, dosen FISIP UI, dng spesialisasi masalah Amerika Latin, di kantor Demos, sebelah kantor KONTRAS Jkt.

    -C

  • steviano gianaldi mengatakan:

    hy
    thx wat artikelnya
    bisa bantuin gwa dlm presentasi disklh
    gwa msh bingung liberalisme dinegara kapitalis pinggiran..
    brarti ada yang ditengah,dan disamping..
    bisa dijelasin ga istilahnya…
    thx

  • coenhp mengatakan:

    Bung Stev,

    Istilah kapitalis pinggiran (peripheral capitalism), adalah sebuah istilah yang pertama kali di kemukakan oleh ekonom Argentina Raul Prebish. Prebish. Istilah ini, dimaksudkan untuk menjelaskan keadaan dimana negara-negara berkembang yang bukan komunis-sosialis sangat tergantung pada negara-negara kapitalis maju (Prebish menyebutnya sebagai negara kapitalis pusat (center capitalism).

    Nah, kalau ada negara kapitalis tengah, saya belum pernah dengar. Yang saya tahu adalah kategorisasi dari Mao Zedong bahwa dunia ini terbagi atas tiga kelompok: kelompok pertama adalah negara-negara Dunia Pertama (negara kapitalis maju), kedua adalah Negara Dunia Kedua (mantan Uni Sovyet), dan ketiga adalah Dunia Ketiga (yakni, negara-negara berkembang).

    -C

  • steviano gianaldi mengatakan:

    thx coenhp wat jwbannya..
    gwa jdi bisa jawab pertanyaan guru td diskul..
    untung tmn gwa punya fasilitas internet dihpnya
    jd td barusan aja gwa bs jawab…
    thx yup
    kl ada pertannyaan lagi bisa ditanya lagi..bskah??
    ok see you

  • apenk mengatakan:

    salam,
    itu semua karena liberalisme di Indonesia tidak ada dalam pikiran-pikiran masyarakat bangsa, liberalisme disadari oleh manusia-manusia kepentingan.

    bung saya bisa akses soal bagaimana sejarah dan perkembangan sistem kapitalisme; mulai dari era
    1. Kelahiran (1750-1850)
    2. Pendewasaan (1850-1914)
    3. Kematian (1914-1945)
    4. Kebangkitan (1945-1975), hingga menuju globalisasi

    makasih bung
    salam.

  • coenhp mengatakan:

    Bung Apenk,

    Untuk akses bahan-bahan macam demikian, kalau dalam bahasa Indonesia, saya kurang tahu persis. Bahasa Inggrisnya sih bejibun. Nah, kalau anda tinggal di Jkt, coba datang ke perpustakaan Freedom Institute, perpustakaan CSIS dan perpustakaan ISSI. Di sana tersedia cukup banyak bahan untuk itu.

    -C

  • david efendi mengatakan:

    salam kritis
    saya kira memang artikel coen luar biasa.paradigma yang dikembangkan cukup luas dan harusnya menurutku tulisan kayak gini lebih mantap apabila desain blog lebih bagus sehingga pembaca akan merasa betah kalau membaca.

    thanks.
    salam

  • erfan mengatakan:

    Salam pembebasan !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Liberalisme di Negara Kapitalis Pinggiran at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: