Komoditi

Oktober 29, 2007 § Tinggalkan komentar

SANGAT sering kita mendengar bahwa ciri utama kapitalisme (Tentang Kapitalisme lihat di sinidi sini), adalah pemujaan terhadap uang. Dengan uang, orang merasa bisa merealisasikan ide-ide dan kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Tetapi, rupanya tidak demikian dengan Karl Marx. Baginya, ada empat hal utama yang membedakan kapitalisme dari bukan kapitalisme: pertama, kapitalisme dicirikan oleh produksi komoditi (production of commodities); kedua, adanya buruh-upahan (wage-labour); ketiga, kehendak untuk menumpuk kekayaan tanpa batas (acquisitiveness); dan keempat, kapitalisme dicirikan oleh organisasi yang rasional. Dengan pembedaan ini, Marx mengatakan, kapitalisme hanyalah salah satu bentuk khusus dari produksi komoditi; dalam pengertian, tidak semua sistem produksi komoditi adalah sistem kapitalis. Menurut Marx, produksi komoditi adalah umum terjadi dibanyak bentuk-bentuk masyarakat. Dalam masyarakat non-kapitalis yang masih murni, seperti di Amerika Utara masa kolonial, kata Marx, para pengrajin dan petani yang menetap di wilayah itu memiliki sendiri alat-alat produksinya dan menjual kelebihan produksinya sebagai komoditi.

Lalu, apa yang dimaksud dengan komoditi? Dari sudut bahasa, komoditi (commodity), berarti bahan dasar atau produk pertanian utama yang bisa diperjual-belikan. Pengertian ini tidaklah memadai, karena belum tentu barang yang tidak diperjualbelikan tidak bisa disebut sebagai komoditi. Kalangan ekonom nan-Marxis menyebut komoditi sebagai barang yang memiliki kegunaan (article of utility). Tapi, bagaimana membedakan suatu barang itu berguna atau tidak? Apakah sepasang sandal lebih berguna ketimbang sebatang pohon di hutan? Atau secara positif bisa dikatakan, bukankah semua barang itu berguna?

Di sini, Marx memberikan jalan keluarnya. Coba dengar penjelasannya berikut,

articles of utility become comodities, only because they are products of the labour of private individuals or groups of individuals who carry on their work independently of each other …[and] do not come into social contact with each other until they exchange their product.

barang-barang yang memiliki kegunaan menjadi komoditi, karena barang-barang tersebut merupakan produk dari kerja pribadi individu-individu atau kelompok-kelompok individual yang bekerja secara independen satu sama lainnya … [dan} tidak menjalin kontak sosial dengan yang lain hingga mereka mempertukarkan produk mereka. 

Friedrich Engels kemudian menambahkan, sebuah produk disebut

“secara khusus sebagai komoditi karena adanya hubungan antara dua person atau dua komunitas yang melekat pada benda, atau produk tersebut, hubungan antara produsen dan konsumen yang tidak lagi menyatu pada satu orang.” 

Menilik pernyataan ini, yang membedakan satu benda disebut komoditi dan benda lain bukan komoditi, karena adanya intervensi kerja manusia. Sebagai misal, pohon di hutan, ikan di laut, minyak di dalam tanah, bukanlah komoditi. Tetapi, ketika pohon di hutan oleh tukang kayu di ubah menjadi kursi, ikan di atas meja makan hasil pancingan pak nelayan, atau minyak di dalam tanah berhasil di angkat ke permukaan tanah, statusnya berubah menjadi komoditi.

Selanjutnya, Marx membedakan komoditi atas dua nilai: nilai guna (use-value) dan nilai tukar (exchange-value). Menurut Marx, setiap komoditi pasti memiliki nilai guna tapi, tidak setiap komoditi memiliki nilai tukar. Kursi hasil olahan tukang kayu dari pohon di hutan, berguna sebagai tempat duduk, emas berguna untuk menghiasi leher jenjang sang gadis, atau pisau berguna untuk memotong sayur atau menikam perut musuh. Maka kata Marx, nilai guna komoditi ini bersifat netral, bebas dari penilaian moral.

Satu hal yang pasti, nilai guna dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan seseorang atau kelompok. Karena itu pula, nilai guna melayani kebutuhan sosial dan hanya eksis dalam kerang kerja sosial. Nilai guna, kata Marx lebih lanjut, tidak mengekspresikan hubungan sosial produksi. Di sini, seperti dikatakan Anthony Brewer, nilai guna diproduksi oleh seluruh masyarakat, untuk memenuhi kebutuhannya akan sandang, pangan, dan papan.

Namun, nilai guna merupakan dasar dari terjadinya pertukaran komoditi di pasar (Tentang pasar, lihat di sini). Satu pihak membutuhkan sandal, pihak lain membutuhkan pakaian, maka terjadilah pertukaran atau jual beli. Buruh membutuhkan makanan untuk bisa bertahan hidup, sehingga ia harus menjual tenaga kerjanya kepada si pemilik kapital. Sementara pemilik kapital membutuhkan tenaga kerja buruh guna memproduksi komoditi untuk dijual di pasar. Maka di sini kita katakan, tenaga kerja buruh atau sepasang sandal atau sepotong baju itu memiliki nilai tukar. Ini menujukkan, nilai tukar hanya eksis ketika komoditi diproduksi untuk dipertukarkan di pasar.

Pertukaran antar komoditi juga hanya mungkin terjadi di antara para pemilik komoditi. Jika salah satu dari pihak-pihak yang bertransaksi tidak memiliki syarat ini, pertukaran tidak akan terjadi. Inilah dasarnya, mengapa dalam kapitalisme jaminan mengenai hak-hak kepemilikan merupakan hal yang sangat esensial. Di sini, isu utamnya bukan apakah pertukaran itu berlangsung setara atau timpang, terjadi secara sukarela atau berdasarkan atas pemaksaan. Selain itu, pertukaran juga terjadi, ketika si pemilik komoditi merasa bahwa ia tidak membutuhkan lagi komoditi yang dimilikinya untuk dikonsumsi. Pada diri pemiliknya, komoditi itu tidak lagi memiliki nilai guna. Nilai guna itu ia temukan pada komoditi yang dimiliki oleh orang lain. Inilah kata Marx,

The exchange-value of a commodity is not expressed in its own use-value. But as materialisation of universal social labour-time, the use value of one commodity is brought into relation with the use-values of other commodities. The exchange-values of one commodity thus manifest itself in the use-values of other commodities.

Nilai-tukar sebuah komoditi tidaklah mengekspresikan nilai-guna komoditi itu sendiri. Tetapi, sebagai pengejawantahan waktu kerja sosial universal, nilai-guna sebuah komoditi adalah hasil dari hubungannya dengan nilai-guna komoditi lainnya. Dengan demikian, nilai-tukar sebuah komoditi menjelma pada dirinya sendiri dalam nilai-guna komoditi lainnya. 

Marx juga mengatakan, pertukaran antar komoditi bisa terjadi berdasarkan pada hubungan kuantitatif di antara beragam komoditi. Misalnya, sepuluh pasang sandal memiliki nilai tukar yang sama dengan satu pasang baju. Lalu, bagaimana membandingkan kuantitas di antara dua, tiga atau empat bentuk komoditi yang dipertukarkan itu? Di sini Marx mengatakan bahwa di antara komoditi itu pastilah ‘melekat’ substansi yang sama, yang ia sebuah sebagai “nilai.” Substansi yang sama ini, tidak bisa diukur dalam bentuk fisik seperti berat, sejak bentuk-bentuk fisikal itu dihubungkan dengan aspek nilai guna dari komoditi. Maksudnya, kita tidak bisa membandingkan pertukaran antara sandal dan baju berdasarkan ukuran berat atau ringan secara fisik tapi, dari guna barang itu buat kita. Lalu, apa kemudian substansi yang sama atau nilai itu? Marx menjawab bahwa sandal dan pakaian itu merupakan produk dari kerja, sehingga yang menjadi substansi dari nilai itu adalah kerja***

Kepustakaan:

Anthony Brewer, “A Guide to Marx’s Capital,” Cambridge University Press, 1984.

Karl Marx, “A Contribution To The Critique of Political Economy,” International Publisher, NY, 1989.

———, “Capital Volume I,” Penguin, Harmondsworth, 1979.

M.C. Howard & J.E. King, “The Political Economy of Marx,” (Second Edition), New York University Press, 1985.

W. A. Suchting, “Marx An Introduction,” New York University Press, 1983.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Komoditi at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: