Gerakan Progresif dan Pemilu

Maret 17, 2008 § 15 Komentar

dear all,

Satu tahun lagi, pemilihan umum (Pemilu) legislatif akan digelar. Kekuatan-kekuatan politik pro-neoliberal – mulai dari ormas hingga parpol – sibuk berbenah. Eksperimen-eksperimen politiknya menghiasi lembaran media massa nasional, dan juga layar kaca televisi. 

Mulai dari uji coba koalisi, pamer kepedulian, kampanye berbalut isu kemanusiaan, hingga saling gertak sambal. Para aktivis mereka, juga tak kalah sibuk. Mereka berusaha keras meraih simpati publik, dan juga pesan kepada para oligarkhnya, bahwa mereka tidak main-main memenangkan kursi bagi partainya. Bersama partainya, mereka ingin mejadi nomor satu. Karena itu, mereka ingin rakyat tahu bahwa mereka siap bertarung. Mereka juga ingin rakyat tahu, bahwa mereka pantas untuk dipilih, pantas untuk diijadikan kendaraan bagi amanah kepentingan rakyat.

Kita tentu, bisa mencibir apa yang dilakukan oleh mereka, bahwa  yang mereka lakukan itu dusta belaka, bohong besar, manis di bibir pahit di kaki. Ujung-ujungnya rakyat kembali dikhianati, ujung-ujungnya adalah kepentingan perut masing-masing. Setelah menang, rakyat ditendang, pada masa pemilu suara rakyat adalah suara tuhan, pasca pemilu suara rakyat adalah suara setan.

Lantas, apa yang diperbuat oleh gerakan progesif dalam momen pemilu? Pengalaman sebelumnya menunjukkan, yang dilakukan oleh gerakan progresif adalah melakukan “pendidikan politik.” Saya tidak akan berbicara soal apa isi materi dalam program pendidikan politik itu. Saya mengambil jalan pintas saja, bahwa mereka harus benar-benar yakin bahwa partai yang dipilihnya betul-betul sudah terbukti mewakili kepentingannya.

Lantas, jika rakyat sadar bahwa ternyata tidak ada satupun partai yang mewakili kepentingannya (dan dengan konfigurasi parpol saat ini, kenyataannya semuanya pro-neoliberal), apa yang harus dilakukan oleh gerakan progresif? Menganjurkan rakyat untuk golput? Memilih sesuai hati nurani? Bikin parpol sendiri? Ikut parpol yang ada dan pengaruhi dari dalam? Bikin bargaining position dengan parpol yang menang pemilu? Pilih pemipim yang baik dari yang terburuk? Kalau dalam pemilu presiden atau bupati, walikota dan gubernur, ajukan calon independen?

Sebelum menjawab soal ini, gerakan progresif harus memiliki sikap  yang jernih dalam memandang momen pemilu. Ini sangat penting, karena tidak ada peristiwa politik yang paling bisa memicu keterlibatan rakyat yang luas di dalamnya, selain momentum pemilu. Bahkan, di negara dengan rakyat yang paling apatis dan paling sinis pada politik, seperti AS, momen pemilu selalu merupakan momen dimana rakyat memiliki antusias yang tinggi terhadap politik. Lebih dari itu, tidak pernah ada dalam sejarah dimana revolusi muncul dalam sistem politik yang terbuka. Dalam sistem politik terbuka, yang paling banyak terjadi adalah kudeta yang dilakukan oleh militer. Mungkin itu sebabnya, ketika dalam satu kesempatan Fidel Castro, mengatakan, “saat ini jaman telah berubah. Kita tidak bisa lagi mencontoh Bolshevisme, juga tidak Castroisme.”

Pemilu memang selalu mendatangkan dilema. Lebih-lebih jika pemilu itu dikuasai oleh kekuatan oligarki pro-neoliberal, seperti Indonesia saat ini. Di satu pihak ini merupakan momen politik yang dituntut oleh kekuatan progresif ketika berjuang melawan kediktatoran, di sisi lain jika saat ini menceburkan diri ke dalam momen ini, berarti harus bersedia ikut aturan main demokrasi neoliberal. Dan itu berbahaya. Ibarat pepatah, keluar dari mulut harimau tapi, masuk kemulut buaya.  Tetapi, jika tidak ikut di dalamnya, lantas apa makna dari tuntutan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata itu? Apakah itu sekadar taktik untuk meruntuhkan kediktatoran belaka? Jika tidak ikut bertarung saat ini, alternatif apa yang kita sodorkan pada rakyat untuk mengelola mekanisme kekuasaan?

Dalam pemilu untuk memilih presiden, bupati, walikotan dan gubernur, sebagian gerakan progresif mengajukan solusi calon independen. Okelah solusi ini benar pada satu langkah yakni, ketika berhadapan dengan calon yang diusung oleh oligarki. Mari berasumsi, bahwa calon independen kita unggul dalam pemilu tapi, pertarungan belum selesai. Calon independen ini berhadapan dengan birokrasi rejim yang kolot, juga parpol yang menduduki parlemen, dan jangan lupa, militer. Bisa dipastikan, langkah sang pemimpin independen ini sangatlah berat. Belum lagi, bagaimana membangun mekanisme kontrol dari gerakan progresif terhadap pemimpin independen ini. 

Tetapi, untuk pemilu legislatif, kecuali golput yang efektif pada masa kediktatoran, belum tampak sikap yang jelas. Gerakan progresif masih adem-ayem. Pertanda dilema itu masih mencengkeram, seperti dongeng Pedang Damocles? Atau sudah terjadi diskusi dan kemudian melahirkan perpecahan internal?***

§ 15 Responses to Gerakan Progresif dan Pemilu

  • Goestaf mengatakan:

    Golput atau calon independen? or… revolusi (lagi)?
    … Tapi kita makin muak sementara kungkungan itu masih tertutup akan celah?

    Atau kita yang tidak cukup smart mencari celah?

  • andri cahyadi mengatakan:

    Sekarang memang sudah terjadi diskusi dan kemudian terjadi perpecahan. Bahkan gerakan progresif itu sendiri masih sibuk dengan dirinya, dengan kemelut dan bingung seputar strategi, dan taktik, klasik. Yang nyatanya tidak bisa menyelesaikan perbedaan pandangan politik dan akhirnya saat ini jalan sendiri-sendiri.

    Meskipun 10 tahun sudah berlalu setelah reformasi, kelompok gerakan belum mampu menyatukan dirinya menghadapi kekuatan oligarkhi partai dan birokrasi orde baru. Diperparah lagi perbedaan pandangan yang sangat mendasar, semisal mau merubah keadaan tapi malu-malu ‘bison’ untuk berpolitik, dalam sebuah sistem terbuka, seterbuka proses perebutan kekuasaan abad moderen melalui partai, tapi sebagian kaum gerakan dn progresif masih memandang cara ini, haram dan tak layak dipilih.

    Kita butuh figur Sukarno kini, yang bisa menyatukan perbedaan dan kebuntun politik.

    Mungkin kini saatnya dialog digelar, antar generasi,untuk mencari solusi, mengingat kekuatan neoliberal dan ordebaru makin nyaman dan kembali berkuasa.

  • coenhp mengatakan:

    Bung Goestaf dan Cahyadi,

    Thanks ya telah berkunjung dan meninggalkan pesan.

    Pemilu memang merupakan momen yang paling dilematis bagi gerakan progresif. Seperti peribahasa, dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu yang mati. Mau ikut pemilu takut terkooptasi, takut jadi moderat, takut tak lagi dibilang revolusioner, atau takut karena sebenarnya tak punya resources (tak punya basis massa, maka tak punya uang, dan tak punya mesin politik yang mumpuni).

    Tapi, jika tak ikut, maka politik gerakan progresif tak lebih sebagai politik mimpi: mimpi akan revolusi, mimpi bisa menggalang kekuatan di luar mekanisme pemilu untuk mengelola kekuasaan. Tapi, ini yang paling prinsip, bukankah gerakan progresif tidak punya pengalaman dalam soal pengelolaan kekuasaan politik yang lebih luas? Dalam bahasa Cahyadi, wong sesama gerakan aja sulit bersatu kok, yang itu berarti tak mampu mengelola konflik dalam skala kecil, iya khan?

    Maka, harus dicari jalan keluar dari kebuntuan ini. Mengharapkan kehadiran seorang Soekarno, boleh saja. Tapi, itu khan spekulatif. Lebih riil adalah, tentukan sikap dalam soal Pemilu.

    -C

  • qahar mengatakan:

    Berlakunya kondisi sekarang yang tak jauh berbeda dengan orde baru, tidak terlepas masih tersimpannya residu otoritarian di balik kesadaran bangsa. Tapi saya pikir posisi saat ini lebih rumit. Zaman orba, terdapat identitas yang menjadi musuh bersama. Ada simbol yang harus di tumbangkan dan ideologi yang harus di lawan.
    Pada posisi demokrasi pasca reformasi, “kekuatan” tersebar pada kantong-kantong bermodal, namun tidak ada yang mendominasi tunggal. Logika-logika neo-liberal telah masuk sedemikian rupa dalam ruh demokrasi Indonesia, sehingga gerakan progresif akan selalu dihadapkan pada oposisi biner yang dilematis.
    Sikap dalam pemilu ya..? bagaimana kalau di adakan diskusi nasional mengenai hal itu bagi gerakan? Misalnya di buat Worls Social Forum-nya Indonesia, untuk membahas banyak hal.

  • coenhp mengatakan:

    Bung Qahar,

    Saya kira, musuh bersama itu saat ini masih sangat jelas: elite (politik+bisnis) yang proneolib dan kemudian mewujudkan dalam kebijakan negara. Kita tak perlu ragu untuk menunjuk hidung mereka.

    Yang justru perlu dilakukan adalah, bagaimana terus-menerus membangun gerakan progresif yang kuat, secara teoritik maupun praktek. Sebab, kondisi di luar gerakan progresif terus berubah, dimana hal itu menuntut pemahaman yang baru dan penyikapan yang juga baru.

    Jika gerakan progresif masih terus berkutat dengan masalah eksistensial masing-masing, pertanda gerakan progresif tak bisa membaca dan menyikapi perubahan situasi yang ada di luarnya.

    -C

  • qahar mengatakan:

    Saya sepakat bahwa gerakan progresif tidak dapat berkutat pada eksistensi “identitas”-nya sendiri. Benar mas, ideologinya saya pikir masih sangat jelas, kita melawan mereka yang pro-neolib. Tapi bagaimana mengidentifikasi mereka secara vis a vis? memahami modus operandi yang dilakukan? dan yang lebih penting, membaca dan mematahkan strategi dominasi yang coba dilakukan.
    Seperti yang mas sampaikan, keadaan di luar gerakan progresif terus berubah. Saya pikir perlu untuk di bedakan, mereka yang memiliki kekuatan pro-neolib nyata dan tidak. Pengusaha memiliki kekuatan dan kepentingan pro-neolib yang nyata, yang terkadang mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara politik memiliki kekuatan dan kepentingan de jure terhadap neolib. Berbahaya menurut saya, ketika para politikus kita adalah gelombang pengusaha.
    Kekuatan nyata mereka akan mendapatkan dukungan legitimasi de jure. Dan pemilu mendatang akan sangat menentukan dan banyak pihak berkepentingan untuk mendukung politik pengusaha ini. “Pihak” ini, bisa dari lembaga nasional atau malah internasional. Mungkinkah? politik citra saya pikir teah di bangun. Pertemuan dengan ILO, pengusaha dan perwakilan buruh mengarah pada penundukan atas nama peningkatan kesejahteraan buruh. Berkaca pada negara maju yang mampu meningkatkan kesejahteraan buruh melalui asosiasi poitik. Tapi, untuk Indonesia, asosiasi buruh kita tidak cukup tegas untuk mendukung asosiasi politik-buruh. Mungkin karena selalu muncul dari atas apa ya?

  • coen Husain Pontoh mengatakan:

    Bung Qahar,

    Cara mengidentifikasikannya juga cukup mudah. Kita jlentrehkan saja, kekuatan mana yang pro-neolib dan di antara kekuatan-kekuatan itu siapa yang lagi berkuasa secara nyata.

    Tetapi, setelah menunjuk hidung orang lain, kita harus kembali pada diri sendiri, kekuatan sendiri. Nah, testingnya adalah, bagaimana gerakan progresif memaknai momentum pemilu. Kalau ikut pemilu alasannya apa dan strategi-taktiknya macam apa; juga kalau menolak ikut alasan dan strategi-taktiknya macam mana.

    Ketegasan ini yang tidak terlalu muncul ke permukaan, dan lantas mengkristal di kalangan progresif.

    -C

  • qahar mengatakan:

    hhmmm…
    bagaimana menurut nJenengan (saya bingung harus panggil apa), mengenai permintaan pengunduran pilkada oleh calon independen secara nasional..?

    bicara strategi-taktik saya pikir tidak terlepas dari anti-neolib, tapi masyarakat ideal seperti apa yang diharapkan atau dituju oleh strategi-taktik ini? besar kemungkinan, perdebatan muncul di sini. Dan ini yang menyebabkan muncul persaingan eksistensi seperti yang jenengan sebutkan.

  • Roliv mengatakan:

    merespon pemilu dalam taktik ikut berparlemen di indonesia, menurut saya hampir mustahil tanpa kompromi besar-besaran antara gerakan progresif (baik dalam bentuk ormas maupun partai) dimana dalam kompromi ini terlalu banyak yang dikorbankan oleh gerakan progresif dibandingkan dengan apa yang didapatnya dari pemilu. semisal maju sendiri sebagai partai elektoral, hal ini hampir mustahil mengingat syarat2 pembentukan partai yang berat. lalu koalisi, hal ini juga bisa menjadi blunder ketika struktur gerakan progresif tidak siap menghadapi arena parlemen, taktik lain seperti merger juga demikian. lebih parah lagi jika memainkan kompromi akomodasi individu. bagaimana menurut bung?

  • coenhp mengatakan:

    Bung Roliv,

    Makasih ya telah berkunjung. Kompromi adalah hal yang biasa. Tetapi, kalau komprominya lebih banyak merugikan pembangunan gerakan progresif, tentu harus ditolak kompromi semacam itu.

    Ada dua contoh menarik soal ini. Lula di Brazil, ketika start pemilu pada dekade 1980an, mengambil garis keras, ia menyerang seluruh kebijakan rejim neolib kala itu. Hasilnya, ia dan Partai Buruh, menempati posisi kedua dalam pemilu. Tapi, Lula ingin jadi presiden, dan pada pemilu 2002, ia ganti strategi dengan melakukan banyak kompromi dengan kekuatan neolib. Hasilnya, ia jadi presiden dan Brazil tetap melaksanakan kebijakan neolib dan sedikit-sedikit kebijakan populis.

    Contoh kedua adalah Hugo Chavez, di Venezuela. Sejak awal pemilu 1999, ia telah memasang garis keras melawan neolib, hasilnya ia menang. Dan kini Venezuela, menjadi negara yang paling independen kedua di Amerika Latin, setelah Kuba.

    Dari dua contoh ini, pemilu bagi gerakan progresif tidak mesti kompromi. Kata lainnya, kompromi tidak kompromi adalah soal pilihan strategi-taktik, berdasarkan kondisi obyektif yang ada.

    -C

  • Roliv mengatakan:

    terima kasih atas tanggapan bung Coen
    saya hampir sepaham dengan tanggapan bung Coen mengenai kompromi dan contoh kasus di amerika latin.
    hanya saja, mungkin saya belum begitu jelas memahami tanggapan bung Coen pada beberapa point.
    apa ukuran kompromi yang merugikan gerakan progresif?
    apa pendapat bung mengenai kondisi objektif di indonesia dalam kasus strategi pemilu?
    apa batasan kompromi bagi gerakan progresif?

    terima kasih
    Roliv

  • coenhp mengatakan:

    Bung Roliv yb,

    Terima kasih kembali. Saya saat ini tidak berada di Indonesia, sehingga saya tidak bisa memberikan gambaran menyangkut kondisi kobyektif di tanah air.

    Namun, menyangkut soal kompromi, saya kira batasannya adalah: tidak memundurkan tuntutan anti neoliberal, tidak memundurkan tuntutan anti militerisme, tidak memundurkan tuntutan untuk perluasan partisipasi rakyat seluas-luasnya di segala sektor, dan tidak melibatkan diri dalam pemilihan pejabat-pejabat negara yang pro-neolib.

    Kita tentu bisa kompromi soal pembagian nomor-urut kandidat, misalnya, atau pembagian jatah kursi di parlemen.

    -C

  • Roliv mengatakan:

    terima kasih atas responnya, jadi sedikit cerah atas penjelasannya. tingkat kompromi memang sulit dilakukan apalagi tanpa batasan yang jelas kompromi bisa jadi bunuh diri dan menghancurkan gerakan progresif dari dalam.

  • Singal mengatakan:

    rakyat sudah bosan mendengar janji “mereka” yang itu itu saja, dan tak pernah ditepati ketika sudah duduk di tampuk kekuasaan dan otoritas segala macam keputusan. evolusi ketidak percayaan sedang tumbuh dan masa depan negeri sangat berbahaya…”mereka” itu seperti ular sering tukar kulit, makin indah, tapi berbisa…

  • purwanto mengatakan:

    salam..

    maaf ikutan nimbrung..

    saat ini di tanah air sudah terlalu banyak gerakan progressif yang mulai gugur satu persatu, patah arang. akhirnya mereka meninggalkan arena pertempuran atau sekedar menjadi pemandu sorak dipinggir arena.
    yang dibutuhkan saat ini adalah sebuah gerakan progressif yang massif, dibawah kepemimpinan yang kuat, terkomando dan mampu membaca situasi.
    satu sisi kita anggap penting adanya gerakan politik. namun, yang harus diingat, gerakan politik hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan gerakan rakyat. kunci utamanya, sebelum melangkah kepada gerakan, harus ada fundamen gerakan rakyat yang sangat kuat. karena gerakan rakyat adalah inti terpenting untuk mengngontrol gerakan politik. gerakan politik formal (parlementer) hanya salah satu cara bagi gerakan rakyat. lalu, ditengah era politik liberal saat ini, apa pilihan cara bagi gerakan rakyat untuk mencapai kemenangan ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gerakan Progresif dan Pemilu at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: