Berburu Investasi, Kasus Cina

Mei 5, 2008 § 18 Komentar

SEJAK gong reformasi ditabuh Deng Xiaoping pada 1978, ekonomi Cina bertumbuh secara fantastis. Lebih mencengangkan, pertumbuhan tinggi itu berlangsung relatif stabil. Laporan organisasi buruh internasional (International Labor Organization/ILO) pada 2005, menyebutkan, “antara 1990 dan 2002, tingkat pertumbuhan per kapita GDP sebesar 8.3 persen per tahun.”

Menurut Martin Hans-Lansdberg dan Paul Burkett, tingkat pertumbuhan yang sangat fenomenal itu, disebabkan oleh berlangsungnya revolusi industri di Cina, yang menjadikan Cina sebagai pabrik manufaktur terbesar di Asia, bahkan di dunia. Fakta ini pula yang menyebabkan Cina menjadi rujukan banyak kalangan sebagai model pembangunan bagi Dunia Ketiga.

Tetapi, apa sebenarnya yang terjadi di balik revolusi industri tersebut? Kembali mengutip Landsberg dan Burkett, disingkirkannya campur tangan negara dalam pasar sembari menempatkan kekuatan pasar di atas mekanisme perencanaan; diutamakannya produksi swasta di atas produksi negara; dan, diistimewakannya perusahaan asing di atas perusahaan domestik, merupakan peristiwa yang diabaikan oleh banyak pengamat masalah Cina. Padahal, keadaan di atas telah menyebabkan terjadinya dua konsekuensi: pertama, aktivitas ekonomi Cina menjadi sangat didominasi oleh perusahaan-perusahaan transnasional; konsekuensi kedua, pertumbuhan ekonomi Cina menjadi sangat tergantung pada produksi barang untuk kepentingan ekspor. Saya akan coba mengelaborasi satu persatu kedua konsekuensi ini.

Di Kontrol Asing

Berbondong-bondongnya investasi asing masuk ke Cina, menurut Eva Cheng, analisis ekonomi-politik Cina yang berbasis di Australia, mengalami percepatan terutama pada paruh kedua dekade 1990an. Merujuk pada bukunya Martin Hans-Lansberg dan Paul Burket, China and Socialism, sejak tahun 1991 hingga kini, reformasi Cina telah memasuki tahapan yang ketiga. Pada tahapan ini, khususnya sejak akhir 1994, pemerintah Cina menggalakkan program privatisasi besar-besaran, di bawah payung slogan “grasp the big enliven the small (pegang yang besar, dukung yang kecil).”

Alasan utama di balik program ini, perusahaan swasta secara inheren jauh lebih efisien dibanding perusahaan milik negara. Sebabnya, perusahaan swasta beroperasi berdasarkan aktivitas menumpuk uang di pasar, sementara perusahaan publik beroperasi atas dasar kepentingan politik. Kompetisi dianggap menyebabkan para pemilik dan manajer harus bertindak rasional. Tentu saja kita mahfum, alasan ini diadopsi dari kalangan neoliberal.

Hasil dari proyek reformasi tahap ketiga ini, memang luar biasa. Cina muncul sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru, dan merupakan negara berkembang yang paling besar menerima investasi asing. Sebagai contoh, jika pada 1985 investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) tahunan yang mengalir ke Cina hanya mncapai $1 miliar maka pada 2002, jumlah tersebut menembus angka lebih dari $50 miliar. Bahkan, ketika FDI bergerak lambat pada 2001 dan 2002, arus masuk investasi asing ke Cina tetap meluas. Menurut catatan presiden Cina, Hu Jintao, pemerintahnya telah menyetujui 590 ribu investasi perusahaan aisng dan telah memanfaatkan $700 miliar investasi asing dalam menggerakkan mesin perekonomiannya, sejak keterbukaan dimulai 29 tahun silam.

Dan sinilah soalnya, gemerlap lampu kota telah membuat banyak orang silau. Padahal, bersamaan dengan arus pasang investasi asing itu, dominasi kapital asing tak terelakkan. Sebuah studi dari Beijing’s Communication University, pada 2004 melaporkan, tiga perempat dari seluruh industri di Cina, dikuasai oleh kapital asing. Temuan ini diperkuat oleh laporan dari the State Council pada 2006, bahwa lima besar dari seluruh perusahaan terbesar di semua sektor industri, dikontrol oleh kapital asing. Selain itu, 21 dari 28 industri terpenting sebagian besar aset-asetnya dikontrol oleh kapital asing.

Secara sektoral, dalam pengertian shareholding, dominasi kapital asing makin tampak. Menurut studi tersebut, di sektor pertanian, peternakan dan perikanan, kapital asing mendominasi 82 persen; pertambangan, 67 persen; manufaktur 77 persen; listrik, bahan bakar gas, produksi dan penyaluran air, 56 persen; konstruksi, 66 persen; transportasi, pergudangan, dan pegiriman, 76 persen; telekomunikasi, kalkulator dan perangkat lunak, 77 persen; retail dan grosir, 77 persen; akomodasi dan restoran, 70 persen; keuangan 66 persen; perumahan, 78 persen; penyewaan dan pelayanan komersial, 81 persen; studi-studi keilmuan, pelayanan teknik, dan studi-studi geologi, 82 persen; pengairan, 66 persen; lingkungan dan manajemen infrastruktur publik, 66 persen; pelayanan bagi penduduk tetap dan pelayanan-pelayanan lainnya, 75 persen; pendidikan 64 persen; kesehatan publik, jaminan sosial, dan kesejahteraan sosial, 69 persen; fasilitas hiburan, olahraga, dan budaya, 78 persen; dan serbaneka industri lainnya, 88 persen.

Sementara dalam pengertian penguasaan pasar, dalam periode yang sama, di sektor komunikasi, kalkulator, dan industri yang berkaitan dengan elektronika, dominasi asing mencapai 82 persen; produk-produk instrumentasi, budaya, dan mesin kantor, 72 persen; topi, kaos kaki, dan ornamen-ornamen tekstil, 48 persen; industri kulit, bulu binatang, bulu ayam dan industri yang berhubungan, 49 persen; furnitur, 51 persen; produk-produk olah-raga dan pendidikan, 60 persen; industri plastik, 41 persen; dan pengadaan transportasi, 42 persen.

Tergantung Asing

Kuasa asing yang besar atas industri Cina, tampaknya berhubungan positif dengan pasar luar negeri. Lebih jelasnya, kontrol kepemilikan yang besar itu menyebabkan ekonomi Cina sangat terintegrasi sekaligus tergantung pada dinamika pasar internasional khususnya, pasar Amerika Serikat.

Sebagai contoh, sekitar 46 persen barang-barang manufaktur yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asing ditujukan untuk ekspor. Bandingkan dengan produksi perusahaan domestik yang hanya mencapai 16 persen. Hasilnya, perusahaan –perusahaan asing mendominasi aktivitas ekspor Cina, dimana share-nya meningkat dari dua persen pada 1985 menjadi 30 persen pada 1995 dan 57 persen pada 2004. Akibat selanjutnya, rasio ekspor terhadap GDP meningkat dari 16 persen pada 1990 menjadi 30 persen pada 2003.

Ketergantungan yang besar terhadap perusahaan asing ini, bisa dilihat pada sektor barang-barang eletronik dan teknologi informasi. Sebagaimana diketahui, Cina dikenal sebagai produser dan eksportir terbesar barang-barang elektronik dan teknologi informasi. Diperkirakan, sektor ini menyumbang sebesar 28 persen dari total ekspor Cina. Menurut laporan organisasi kerjasama dan pembangunan (OECD) pada 2006, Cina kini telah melangkahi posisi AS sebagai penyuplai terbesar barang-barang teknologi informasi.

Tetapi, menurut Landsberg dan Burkett, angka-angka ini bisa membuat kita tersesat. Salah satu alasannya, demikian kedua ekonom ini mengatakan, produk-produk elektronik dan teknologi informasi yang menjadi andalan ekspor itu secara umum mengandung muatan teknologi yang sangat rendah. Sebagai contoh, ekspor teknologi tinggi Cina, adalah barang-barang elektronik, pengadaan kantor dan komputer, serta pengadaan alat-alat komunikasi. Di dalam kategori ini, produk andalan Cina adalah DVD players, komputer laptop, dan handphone.

Celakanya, produk-produk ini sangat tinggi muatan komponen impornya. Nilai tambah lokal dari nilai produk-produk ekspor ini, hanya mencapai 15 persen, sisanya adalan muatan impor. Dengan kata lain, ekspor produk teknologi tinggi Cina, sangat tergantung pada teknologi impor. Bagaimana ini bisa terjadi. Mari kita kembali ke soal kepemilikan.

Masih di sektor andalan Cina ini, data tahun 2003 menunjukkan, perusahaan investasi asing tercatat mendominasi hampir 90 persen ekspor komputer beserta komponen-komponennya, ditambah 75 persen ekspor pengadaan elektronik dan telekomunikasi. Lebih dari itu, sebagaimana direkam oleh kementrian informasi industri, dominasi asing di sektor industri informasi dan elektronik ini terus meningkat. Dari 58.7 persen pada 2000 menjadi 77.4 persen pada 2005. Dan pada dua bulan pertama tahun 2006, perusahaan asing bertanggung jawab atas 86.9 persen total ekspor produk-produk elektronik Cina. ***

Kepustakaan:

Eva Cheng, “China: Foreign capital controls three-quarters of industry,” http://www.greenleft.org.au/2007/710/36857, 23 May 2007.

Martin Hans-Landsberg and Paul Burkett, China and Socialism Market Reforms and Class Struggle,” Monthly Review Press, NY, 2005.

—–, China, Capitalist Accumulation, and Labor,” Monthly Review, Vol. 59 No. 1, May 2007.

Luan Shanglin, March 25 2007 , “Hu reassures foreign investors of more opportunities,” http://news.xinhuanet.com/english/2007-03/25/content_5895036.htm

§ 18 Responses to Berburu Investasi, Kasus Cina

  • Forum Investor mengatakan:

    jadi hendaknya sebelum menarik investor, kita harus mempertimbangkan akibat-akibatnya.

  • jimmy mengatakan:

    wah, saya senang sekali membaca tulisan anda pak!
    saya sedang menulis skripsi mengenai China juga.
    saya ingin tanya, Cina memang mengalami perkembangan pasca gaige dan kaifang era deng, dan itu karena adanya hubungan dengan barat (AS)
    ..ini pemahaman saya.
    menurut pak pontoh, seberapa besar peran AS secara ekonomi dan teknologi dalam kebangkitan Cina secara akumulatif hingga era Hu..
    thanx pa!

  • coenhp mengatakan:

    Bung Jimmy,

    Terima kasih atas apresiasinya. Cina memang mengalami perkembangan tapi, kita harus hati-hati membaca gerak perkembangan itu. Pertanyaan ekonomi-politiknya, perkembangan ke arah mana dan untuk siapa?

    Saya selalu mengatakan, perkembangan yang terjadi di Cina adalah perkembangan menuju ke sistem kapitalisme, dan tentu saja ini berhubungan dengan negara-negara kapitalis maju lainnya, bukan hanya Barat (AS dan Eropa) tapi, juga Asia Timur seperti Jepang, Korea, Taiwan dan terutama Hongkong.

    Investor asing terbesar di Cina itu datang dari Hongkong. Tetapi, pasar terbesar “produk Cina” memang adalah AS. Kini, posisi AS itu terancam oleh Eropa. Nah, peran AS itu sangat besar terutama menyangkut ya itu tadi pasar bagi produk Cina, dan juga karena mata uang Cina, Yuan dicantolkan pada mata uang dollar AS. Dan ketika, krisis ekonomi dan keuangan menimpa AS, Cina otomatis menerima dampak dari krisis itu.

    -C

  • jimmy mengatakan:

    wow, terima kasih untuk balasanya pak!
    karena baru kali ini saya menulis comment langsung di jawab, hehe. (banyak penulis yang sibuk untuk menjawab, hihi) maaf pak..

    menilik penjelasan Pak Pontoh, bahwa Cina berkembang ke arah kapitralisme, dan hal itu tetap dilakukan hingga era Hu. saya kira perkembangan Cina ditujukan untuk mengantisipasi AS sebagi kekuatan tunggal pasca Perang Dingin. namun perbedaannya dengan era Mao, ketua Mao bersikap total (militer)dalam menghadapi kekuatan asing tanpa melihat kondisi ekonomi. sedangkan saat ini Cina berusaha mengamankan pembangunannya lewat modernisasi (kebijakan pragmatis deng).

    maka Cina menginginkan lingkungan eksternal yang damai, terkendali dan stabil.
    permasalahannya adalah Asia Timur merupakan Hot Spot Area, dan ada AS disana serta his ally’s. hal ini yang mengancam Cina dalam melakukan perkembangan. kembali lagi hal ini dikarenakan Cina membutuhkan lingkungan yang stabil, khususny di kawasan asia timur. (ini pemahaman saya, pak)

    menurut anda pak,
    bagaimana Cina melihat ini, disatu sisi Cina membutuhkan juga AS namun disisi lain Cina juga menerapkan kebijakan anti-hegemoni sejak era Mao sampai saat ini. bagaimana dua kepentingan Cina dapat terakomodasi.

    thanks pak,
    mohon penjelasannya!!

  • coen Husain Pontoh mengatakan:

    Pak Jimmy yb,

    Terima kasih atas komentar baliknya. Saya setuju bahwa Cina memang membutuhkan lingkungan eksternal yang terkendali dan stabil. Itu mmang dimakudkan agar modernisasi ekonominya tidak terganggu.

    Tetapi, kita juga bisa membaca bahwa kehendak Cina itu bersifat pasif, dalam arti Cina sebenarnya tidak memiliki kekuatan yang signifikan untuk mempengaruhi geopolitik kawasan Asia Timur, sebab secara militer kekuatannya kalah jauh dibandingkan dengan AS yang begitu berpengaruh. Sedikit saja Cina coba-coba unjuk gigi, ia akan diganggu dengan kasus Taiwan, Tibet, dan masalah HAM atau digertak dengan cara memprovokasi India. Dan kalau sudah bicara soal ini, Cina pasti kelabakan menghadapinya.

    Namun demikian, AS dan sekutunya seperti Jepang, India, Korsel dan Taiwan, juga tidak ingin bermain mata agar Cina merasa terancam secara politik-keamanan. Penyebabnya tidak lain karena rekor pertumbuhan ekonomi Cina yang kini begitu dahsyat. Jadi ada semacam adu kepentingan di sini, sehingga bagi Cina, asalkan situasi saat ini berjalan sebagaimana adanya itu sudah mencukupi. Jadi, secara ekonomi-politik kekuatan Cina berbanding AS masih kecil. Sementara bagi AS asalkan Cina tidak mengembangkan kekuatan militer yang agresif, keadaan ini pun sudah mencukupi.

    Nah, soal beda kebijakan Mao dan Deng, sangat jauh sekali. Butuh diskusi tersendiri soal itu.

    -C

  • economatic mengatakan:

    China memang sedang jadi Naga Merahnya Asia saat ini, namun kita malah hanya bisa memuji tanpa melakukan tindakan kongkrit untuk menjadi Garuda Perkasa Asia. Perekonomian kita malah makin amburadul gara-gara lonjakan harga Minyak Dunia. Kemanakah perginya telur-telur Naga yang dulu banyak bertebaran di Indonesia?

  • jimmy mengatakan:

    wah, trims untuk penjelasannya pak. sangat membantu!!
    saya tunggu tulisan anda berikutnya mengenai China. hehe.

    salam,

  • Rina mengatakan:

    Pa Jimmy malam,sy br bc tulisan bp,blh tdk sy brtanya beberapa hal,langsng ya Pa:di mana trdpt smbr tenaga krja di cina,lngkh2 apa yg d tmph pemrnth utk mncptkan psr tnga krja? Dilema apa yg d hadapi pemrnth cina shbngan msknya intrnet,bgmna cina keluar dr dilema trsbt?Peran pkc sbgai pmbuat kebijakn itu spt apa?Terima kasih sblmnya

  • jimmy mengatakan:

    wah, sy hrs panggil mba atau apa yah?? hehe..
    jujur saja, sy masih perlu bnyk blajar tentang Cina, jadi saran saya, pertanyaan itu lebih baik anda tujukan ke Pak Pontoh, karena beliau yang lebih mengerti dan memahami.
    trims,
    salam.

  • pitusiji mengatakan:

    Sepertinya kebijakan privatisasi di Indonesia, akan mengarah kesana. Bukti yang sangat kentara ada di sektor telekomunikasi yang mayoritas dikuasai asing.

  • Hermansyah mengatakan:

    Bapak sangat produktif menulis ya… Pengin belajar dari Bapak. Buku bapak: “Akhir Globalisasi: Dari Perdebatan Teoritik Menuju Gerakan Massa” mulai dibawa dalam diskusi di sebuah blog (www.niasonline.net). Menarik sekali …

  • fel mengatakan:

    pak pontoh, kemarin saya membaca artikel yang intinya menjelaskan mengenai perusahaan2 indonesia yang ternyata lebih memilih china sebagai tempat produksinya, sayang sekali di dalam artikel itu tidak disebutkan nama perusahaannya… apakah bapak mengetahui nama perusahaan2 tsb?
    jawaban bapak akan sangat mambantu penulisan skripsi saya yang baru akan saya mulai…
    thx…

  • coenhp mengatakan:

    Waduh,

    sayang sekali saya tidak tahu nama perusahaan tersebut. Coba kirim ke saya link artikel tersebut.

  • coenhp mengatakan:

    Bung Hermansyah, makasih banyak ya atas apresiasinya. Terima kasih juga atas info di niasonline itu, saya segera berseluncur ke sana.

  • echa mengatakan:

    Pak Pontoh…

    Suatu ulasan yang baik dan kritis sekali tentang cina.
    Kebetulan, saya pun sedang menyusun tesis tentang cina, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi-politik int’l.
    Awalnya saya ingin membahas tentang bagaimana sih kebijakan investasi cina pasca masuknya cina ke WTO sehingga bisa menjadi magnet yang begitu besar bagi para investor.
    Namun, setelah beberapa kali diskusi dengan dosen dan teman, rasanya topik itu masih terlalu luas.
    Dan sekarang saya lagi sedikit mandeg dalam upaya mengerucutkannya.
    Maklum Pak, S1 saya dari komunikasi, jadi terkadang saya masih sedikit meraba-raba persoalan HI.
    Nah Pak, kalau boleh, saya minta tanggapan mengenai pengerucutan topik tersebut.
    Tentunya selain masalah energi yang juga sedang ramai dibicarakan untuk kepentingan dalam negeri cina.

    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.
    Salut!

  • coenhp mengatakan:

    Mbak atau Mas Echa?

    Terima kasih atas apresiasinya. Saya kira, kalau ingin lebih mengerucut, mengapa investasi asing membanjiri Cina, ada beberapa pilihan: (1) bagaimana pemerintah Cina memberikan insentif terhadap para investor, misalnya keleluasan untuk hak kepemilikan; atau (2), bagaimana pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan yang melemahkan kekuatan serikat buruh dalam berhadapan dengan pemilik modal; atau (3) bagaimana pemerintah Cina melakukan privatisasi besar-besaran terhadap perusahaan milik negara.

    Selamat mengerjakan tesis ya.

  • ocha mengatakan:

    aLoha Pak..
    pak saya jagi bwat proposal ttg cina jga ..dan berhubung saya orgx agak kurang paham benar ttg cina jadi saya mohon bantuannya..
    saya ingin tau lebh jauh ttg investasi Hongkong k cina sejauh mana..?
    terima ksih atas jawabanny Pak..

  • Afiek mengatakan:

    Pak, Saya Sedang Menukis Skripsi tentang hubungan cina-as paska masuknya ke wto. Pak, kalo boleh saya tahu, Pak Pontoh punya data ataou tabel tentang investasi as ke cina ga dr sebelum masuknya cina ke wto sampai tahun 2008. makasih. kalo boleh saya minta datanya dan dikirimkan ke email saya pak. Makasih

    Afiek_StreetBoy@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Berburu Investasi, Kasus Cina at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: