Mr. Greed: Saya hanya kambing hitam

November 29, 2008 § Tinggalkan komentar

AMBRUKNYA bursa saham Wall Street yang kemudian menghela ekonomi AS dan dunia ke dalam krisis, telah memunculkan sosok manusia yang tamak, rakus, dan haus kekayaan, sebagai biang keladi penyebab krisis. Banyak orang kemudian berbicara, tidak hanya bagaimana mengatasi krisis ini tapi, juga bagaimana agar manusia-manusia rakus bin tamak (greed) ini tidak muncul lagi dalam gelanggang pertarungan ekonomi.

Orang lantas beramai-ramai bicara soal perlunya pembentukan arsitektur baru sistem keuangan dunia, perlunya aturan-aturan yang lebih ketat untuk mencegah maraknya aksi spekulasi di pasar uang. Permbicaraan ramai itu, terutama munculnya sosok Mr. Greed, menarik perhatian saya. Siapa sebenarnya Mr. Greed ini, dan bagaimana ia menjelaskan duduk soal posisinya dalam centang-perenang krisis ekonomi global kini. Untuk itu, saya melakukan wawancara imajiner dengan Mr. Greed. Berikut petikannya:

T. Bagaimana kabar anda Mr. Greed?

J. Baik, sangat baik

T. Anda sungguh luar biasa. Bagaimana bisa anda merasa baik di saat semua orang menuduh anda sebagai biang keladi krisis ekonomi saat ini?

J. Wong saya merasa tidak bersalah. Gitu aja kok repot

T. Kok bisa?

J. Iya dong. Gini, mereka yang menuduh saya sebagai dalang krisis ekonomi saat ini, hanya mencari kambing hitam. Persis seperti Hitler, yang menuduh kaum Yahudi sebagai biang keladi krisis di Jerman pasca Perang Dunia I, atau seperti mantan presiden anda, siapa tuh, Mr. Smiling General, yang senantiasa menuduh orang komunis sebagai biang penyebab krisis.

Kebiasaan menciptakan kambing hitam ini, adalah tanda-tanda orang yang malas berpikir dan tak sudi bertanggung jawab.

T. Anda mau bilang bahwa mestinya mereka yang bertanggung jawab dan bukan anda?

J. Tidak segamblang itu maksud saya. Saya hanya ingin meletakkan duduk perkaranya secara proporsional.

T. Maksudnya?

J. Dulu, waktu ekonomi lagi boom, semua orang memuja-muji saya. Apa yang saya pinta mereka setujui. Saya minta keringanan pajak bahkan, pembebasan pajak, mereka ok; minta segala aturan yang membatasi aktivitas saya dibatalkan mereka iyakan; bahkan, mereka sudi berperang agar saya bisa bergerak leluasa ke segala penjuru. Mereka juga menyewa para tukang pikir untuk membenarkan segala tindakan saya; mendorong, memfasilitasi, dan memberi penghargaan yang tinggi kepada para tukang pikir itu untuk menulis sebanyak-banyaknya bahwa intervensi negara dalam pasar adalah berbahaya.

Pada masa itu, saya benar-benar jadi pangeran deh, kemana-mana pergi dijemput karpet merah.

T. Lalu, kenapa ketika krisis tiba, anda jadi sasaran tembak?

J. Itulah yang mengesalkan saya. Mereka cuci tangan, padahal saya tak mungkin jadi seperti ini tanpa bantuan mereka sebelumnya.

T. Anda mau bilang bahwa anda adalah agen yang lahir dari struktur sosial-ekonomi-politik tertentu?

J. Tepat. Kalau kita baca Adam Smith secara hati-hati, kita lihat betapa ia memberikan tempat yang tinggi buat orang seperti saya. Dalam bukunya The Wealth of Nation, ia bilang, “It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker, that we expect our dinner, but their regard from their own interest. We address ourselves, not to their humanity, but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages.” Dan menurut sejarawan ide Jerry Z. Muller, model dasar Smith ini: self-interest leads to market exchange, leading to the greater division of labour, leading in turn to specialization, expertise, dexterity, and invention, and, as a result, to greater wealth.”

T. Tapi, orang macam Socrates dan Aristoteles, juga kalangan gerejawi kan membenci orang macam anda ini? Socrates pernah bilang, “The more men value money-making, the less their value virtue.” Sementara Aristoteles bilang, “usury is most reasonably hated because one’s possessions derive from money itself and not from that for which it was supplied…” Kitab Markus (10:25), mengatakan, “It is easier for a camel to go through the eye of a neddle than for a rich man to enter the kingdom of god.”

J. Begini, kita mesti menempatkan semua penilaian itu dalam konteks pra-kapitalisme, ketika ekonomi pasar belum berkembang, ketika struktur sosial feodal masih dominan. Jika penilaian itu anda pasangkan saat ini, ya salah tempat. Saya beri contoh, kutipan yang saya pungut dari Adam Smith itu, ditulisnya saat ekonomi Eropa tengah berkembang pesat, terjadi apa yang disebut, “British consumer revolution.” Tingkat pendapatan secara umum meningkat, dimana yang menikmati kekayaan bukan hanya kalangan atas tapi juga kalangan miskin. Tradisi minum teh, misalnya, yang semula hanya berlangsung di kalangan atas pada abad sebelumnya, di masa itu telah menjadi pemandangan umum sehari-hari.

Selain itu, kalau kita baca Karl Marx, kita akan tahu mengapa orang seperti saya hadir.

T. Tunggu sebentar, anda bicara Karl Marx, memangnya anda membaca Marx?

J. Aah, pertanyaan apa ini, lucu sekali. Tentu saja dong, anda tidak mungkin memahami kapitalisme dengan baik tanpa membaca Marx. Memangnya ada yang aneh?

T. Iya, soalnya, di kampung saya Marx itu menakutkan, ia hantu pengisap darah. Ia terlarang, najis, membaca bukunya lebih buruk ketimbang membaca buku porno.

J. Haahh, anda serius? Ini sungguh sebuah lelucon terbesar abad ini, memang itu ide siapa?

T. Ah sudahlah, baiknya kembali ke topik. Memangnya Marx bicara apa sehubungan dengan diri anda?

J. Begini, Marx mengatakan, pertukaran dalam kapitalisme itu bermula dari uang untuk kemudian berakhir dengan uang yang lebih besar. Jika anda punya uang semula seribu rupiah, lalu anda masuk ke pasar dan kemudian membawa pulang uang sebesar seribu lima ratus rupiah, kapitalisme akan berjalan. Tapi, jika dengan uang anda yang hanya seribu rupiah itu kemudian masuk pasar dan membawa pulang nilai yang sama, maka kapitalisme akan bangkrut.

Di sini, Marx mengatakan, uang tidak sekadar berfungsi sebagai alat pertukaran tapi, telah menjadi komoditi itu sendiri, karena itu ia menjadi urat nadi kapitalisme. Misalnya, kekayaan itu lalu diukur dari seberapa banyak uang yang anda miliki. Tetapi, lebih dari itu, seorang kapitalis tidak berhenti pada keuntungan dari seribu rupiah menjadi seribu lima ratus rupiah tapi, ia terus membiakkan uang yang seribu lima ratus rupiah untuk menjadi lebih banyak lagi. Dan proses ini tak boleh terinterupsi.

Dengan beralihanya fungsi uang dari sekadar medium pertukaran menjadi komoditi, tidak relevan bicara soal apakah uang kertas atau emas yang menjadi alat tukar atau standar nilai. Demikian juga, tidak penting membicarakan isu mengganti dollar AS dengan mata uang lain sebagai nilai standar bagi nilai mata uang dunia.

Inilah yang menjadi dasar argumen saya, kenapa saya katakan kalau saya ini hanya korban dari kebiasaan mencari kambing hitam.

T. Dengan begitu anda mau bilang bahwa selama sistem kapitalisme ini masih bekerja, selama itu pula anda akan tetap eksis?

J. Benar sekali. Percuma menyalahkan saya saat ini, bahkan bila harus memenjarakan saya karena kesalahan yang “katanya” saya lakukan. Besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, generasi baru macam saya akan muncul dengan lebih canggih dan lebih lihai.

T. Nah, kalau kapitalisme benar-benar ambruk, komentar anda?

J. Saya tidak melihat tanda-tanda ke arah sana. Marx mengatakan, ada dua hal yang menyebabkan kebangkrutan kapitalisme: akibat kontradiksi internal yang secara abadi melekat dalam dirinya; dan juga adanya perjuangan rakyat progresif yang berkesadaran kelas dan terorganisasi dengan baik.

Hal pertama, kini terbukti tapi, hal kedua belum terlihat. Dan para pendukung kapitalis akan menggunakan berbagai cara, agar supaya rakyat yang memiliki kesadaran kelas dan terorganisasi dengan baik itu tidak akan muncul.

T. Misalnya seperti apa?

J. Mana saya tahu, anda yang bener aja kalo nanya. Yang saya tahu adalah bagaimana menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya, sehingga saya bisa membuka lapangan pekerjaan, membayar pajak pada negara, dan dengan demikian memakmurkan seluruh bangsa. The Wealth of Nation.

T. Terima kasih atas waktunya Mr. Greed.

J. Terima kasih.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mr. Greed: Saya hanya kambing hitam at Coen Husain Pontoh.

meta

%d blogger menyukai ini: