Resensi : Malapetaka Demokrasi Pasar

Dosa Bawaan Liberalisasi
 

Judul Buku:

Oleh: Hasan Asy'ari
TAPAK tilas transisi mencapai demokrasi bukan pendakian mewujudkan kolektivitas nilai-nilai keadilan sosial dan upaya mengikis feodalisme eksploitatif dan diskriminatif. Melainkan kompetisi yang tidak adil memperebutkan pangsa pasar yang dilakukan pemodal dan kelompok miskin selalu kalah.Artinya, situasi transisional dieksploitasi kelompok atau kelas tertentu dan bukan konsolidasi demokratif bersama untuk menjunjung nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan egaliter.Bahkan, 'demokrasi' dijadikan siasat kaum borjuis karena prinsip-prinsipnya telah dibajak kekuatan modal. Keterbukaan, kebebasan, dan kompetisi dibajak secara berlebihan. Bagi mereka, keterbukaan berarti keterbukaan berusaha bagi pemilik modal, kebebasan berarti bebas untuk berinvestasi bagi perusahaan multinasional dan kompetisi dimaknai sebagai persaingan pasar bebas yang penuh tipu daya.

Jika demikian, bagi Pontoh, transisi bukan peralihan menuju realisasi demokrasi, melainkan peralihan memasuki penjara-penjara neoliberalistis. Karena ia dikendalikan kelompok borjuis dan oligarki yang elitis.

Buku Malapetaka Demokrasi Pasar yang ditulis Coen Husain Pontoh menggambarkan ironi suatu negara yang sedang mengalami masa transisi, yang hanya dijadikan media konsolidasi demokrasi formal dan prosedural.

Kualitas demokrasi hanya ditekankan pada kualitas suksesnya pemilu dan terpilihnya presiden serta kuantifikasi partisipasi politik masyarakat. Kualitas demokrasi tidak didasarkan pada realisasi terciptanya masyarakat yang bersejahtera, berkeadilan yang distributif, dan kebebasan tanpa intimidasi dan eksploitasi yang selama ini ternodai dan terhegemoni oleh rezim otoriter.

Dengan ungkapan yang lain, demokrasi seharusnya mampu mendorong terciptanya keseimbangan antara keterbukaan politik dan kemakmuran ekonomi, membangun dan mempertahankan demokrasi sembari membuka akses bagi mayoritas kaum miskin atas kesejahteraan, kemakmuran yang merata, dan tersedianya lapangan pekerjaan.

Dan lebih ironis lagi, ketika transisi dimanfaatkan secara paksa oleh perselingkuhan antara kaum borjuis dan kekuasaan, karena yang akan terjadi adalah ironi sebuah demokrasi. Ia akan melahirkan oligarki baru, yaitu kuasa si kaya terhadap si miskin.

Terbukanya gerakan dan peluang oligarki karena mengikisnya peran negara sebagai representasi demokrasi menjaga keadilan dan keseimbangan hidup berbangsa dan bernegara. Dalam sistem demokrasi yang melayani oligarki, negara tidak memiliki peran yang cukup signifikan dan bahkan aspirasi rakyat diberi ruang yang terbatas karena penggunaan secara masif alat-alat kekerasan negara untuk menjamin legitimasinya dan juga melalui desain politik massa mengambang.

Hal ini terjadi karena negara 'tunduk' dan 'patuh' pada mekanisme kekuasaan modal yang dimiliki kaum oligarki. Mereka dengan leluasa bergerak dan merealisasi keinginannya tanpa adanya intervensi dari negara.

Pontoh, melalui buku ini, melawan secara argumentatif konsepsi bahwa kesejahteraan dan kemakmuran hanya akan tercapai jika membebaskan pasar dari intervensi negara sehingga tercipta kompetisi yang akan menghasilkan efisiensi dan produktivitas ekonomi yang tinggi; menciptakan sebuah masyarakat yang lebih terdiferensiasi, dan perluasan ke arah pluralisme sosial dan politik.

Bagi dia, kenyataan tersebut tidak terbukti, bahkan justru menjerumuskan ekonomi negara-negara yang mengalami transisi ke tingkat yang rendah, menambah kemiskinan, kemelaratan, dan kesenjangan sosial yang tajam, seperti yang terjadi di Argentina dan Rusia ketika mengalami masa transisi, mungkin termasuk juga Indonesia. Itu adalah gagalnya transisi menuju demokrasi disebabkan dogma politik dan ekonomi berdiri terpisah. Kesuksesan sebuah proses demokratisasi di masa transisi adalah upaya secara praktis mengawinkan dan menyejajarkan antara dominasi politik dan ekonomi dalam satu wadah atau sistem. Artinya adanya kontrol dari negara atau pemerintah dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan politik dan ekonomi secara bersama, tidak terpisah. Bukan dominasi ekonomi terhadap kekuatan politik, begitu pun sebaliknya. Hasan Asy'ari, peneliti di Kajian Platonian Club, Malang

diambil dari Media Indonesia Online.

§ 2 Responses to Resensi : Malapetaka Demokrasi Pasar

  • Erix mengatakan:

    Entah bagaimana, hampir semua buku yang di tulis ‘camerad’ satu ini berhasil saya koleksi. Dari seluruh buku mengesankan itu, yang paling favorit bagi saya adalah buku ini. “Malapetaka Demokrasi Pasar.”

    Kala itu saya sedang ‘belajar’ politik di jogyakarta, tema yang diangkat adalah demokratisasi sistem politik Indonesia. Seorang Doktor Politik jebolah Jerman ‘memfasilitasi’ proses belajar kami.

    Entah kenapa logika saya dan logika doktor ini selalu berbeda.” Doktor ini terlalu prosedural,” menurut saya. Lama saya dan doktor itu bersilih paham. Terus terang saya bicara politik dengan latar belakang aktivist alis pelaku lapangan. Soal teori politik tentulah saya kalah kelas dengan doktor itu. Tapi saya tetap tidak ‘berterima’.

    Sampai akhirnya saya menemukan buku kecil merah ini di sudut salah satu toko buku di Jogja. Dari sanalah saya mendapat semangat baru dalam memaknai apa itu demokrasi..

    Terima Kasih bung Pontoh, tulisan mu sangat membantu kami di Medan untuk memahami realitas politik di negara dan di bumi ini…

  • coenhp mengatakan:

    Kawan Erix,

    Terima kasih atas apresiasinya. Saya merasa terhormat, jika secuil yang saya tulis bisa memberikan manfaat.

    Salam untuk seluruh kawan di Medan.

    -C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: