Resensi : Gerakan Massa Menghadang Imperialisme Global

Menangkis Serangan Neollib 

Oleh: Surya Aslim

Sumber: Media IndonesiaOnline, 22 Agustus 2005

WACANA-wacana penyadaran dan perlawanan atas serangan neoliberalisme (neolib) kian kencang disuarakan belakangan ini. Penyebabnya, neoliberalisme telah membuat kemiskinan di negara berkembang kian buruk.

Seluruh pelayanan dasar, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga bahan bakar tidak lagi berada dalam kontrol negara, tetapi diserahkan kepada mekanisme pasar.

Akibatnya, masyarakat negara berkembang harus membayar kian mahal untuk semua layanan mendasar tersebut. Padahal, pada saat yang bersamaan, pasar negara mereka harus dibuka lebar-lebar terhadap arus barang dan jasa yang masuk, sebab aturan main global yang terbaru menempatkan berdasarkan prinsip kesetaraan dan persaingan terbuka sebagai kunci utama.

Salah satu wacana itu disuarakan oleh Coen Husain Pontoh lewat buku Gerakan Massa Menghadang Imperialisme Global, yang diterbitkan Resist Book, Mei 2005.

Salah satu ciri khas gerakan anti-neoliberalisme adalah kesadaran mereka untuk memaksimalkan jaringan internasional. Sesuatu yang wajar, sebab dampak neoliberalisme sudah demikian mengglobal sehingga relatif mudah bagi mereka untuk mengidentifikasi masalah dan kesamaan dalam agenda perlawanan mereka. Kini, masalahnya adalah bagaimana membawa semangat perlawanan internasional tersebut ke konteks Indonesia.

Gerakan sosial di Indonesia perlu mengorganisasi dirinya untuk menghentikan penindasan yang berkelanjutan ini. Hanya saja, gerakan sosial di tanah air masih lemah. Ia belum mampu menyelesaikan perdebatan internal antara pemikiran dan praktik politik, antara pilihan strategi advokasi atau developmentalis, antara politik partisan dan nonpartisan (hlm vi).

Menurut Pontoh, ada lima karakter yang dimiliki oleh gerakan massa yang sukses, yakni: perlawanan terhadap neoliberalisme, perjuangan politik, berbasis massa, demokrasi partisipatoris, dan program yang konkret (hlm vii-xiv). Kelima faktor ini telah hadir di gerakan massa di Brasil, Venezuela, Argentina, dan Korea, yang oleh buku ini diangkat sebagai contoh bagi gerakan massa di Indonesia.

Contoh-contoh tersebut merupakan pelajaran berharga bagi gerakan massa di Indonesia. Apa yang terjadi di keempat negara itu bukanlah hasil kerja semalam, melainkan bertahun-tahun, dengan berbagai uji coba dan kegagalan. Gerakan-gerakan tersebut umumnya sangat berhati-hati dengan gerakan konvensional produk zaman lama yang dianggap terlalu birokratis dan gampang terkooptasi rezim berkuasa. Lihat Gerakan Buruh Pengangguran Kota (GPP) Argentina yang sengaja otonom dari Konfederasi Buruh Umum (CGT), karena gerakan buruh formal terlalu asyik berkutat dengan struktur, mudah dikooptasi rezim, dan hanya mengejar kepentingan politik jangka pendek semata (hlm 8 dan 17).

Perlu kita camkan pula bahwa semua contoh gerakan massa yang dibahas buku ini berangkat dari kondisi khas masing-masing negara. Oleh karena itu, strategi gerakan massa justru tidak boleh mengulangi kesalahan strategi IMF dan World Bank yang pukul rata memberikan preskripsi serupa bagi setiap negara (one size fits all). Gerakan massa di Indonesia harus berangkat dari pemahaman tentang betapa sulitnya untuk melakukan gerakan terstruktur di negara ini.

Surya Aslim, alumnus Institute of Social Studies, Den Haag.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: